Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Sama sekali tidak belajar


__ADS_3

"Haha... Kau pikir aku takut, nak? Senjata mainanmu tak akan bisa membunuhku," ujar pria itu meragukan keaslian dari senjata di tangan bocah laki-laki yang di depannya.


"Apa kau mau mencobanya? Kita lihat apa ini senjata sungguhan atau bukan."


Entah mengapa tubuh pria itu bergidik gerih melihat tatapan dari bocah yang ia remehkan. Matanya kemudian tertuju pada seseorang yang datang disaat ia mengalihkan pandangannya.


"Sudah, sudah. Berhentilah bermain-main. Sebaiknya kalian menyingkir dan beri jalan bagi keluarga Pinkston."


"Keluarga Pinkston," ulang Daniel sambil menoleh.


Tidak jauh dibelakang mereka terlihat Tn dan Ny. Pinkston serta putrinya Rica sedang asik mengobrol sambil berjalan menuju mereka. Sepasang suami istri itu belum menyadari kehadiran dari keluarga Flors.


"Selamat datang Tn dan Ny. Pinkston. Silakan masuk," sambut pria itu dengan begitu ramahnya.


"Iya," jawab Tn. Pinkston, namun mereka semua terperangak begitu melihat Daniel berserta keluarganya ada dihadapan mereka.


"Lama tidak berjumpa Tn. Pinkston," sapa Daniel menyadarkan mereka yang mematung.


"Hah?! Tn... Tn dan Ny. Flors," kata Tn. Pinkston dengan tubuh gemetar.


Tn. Pinkston berserta keluarganya seketika membungkuk memberi hormat. Penjaga tadi langsung dibuat bingung menyaksikan hal tersebut. Bagaimana bisa orang berpengaruh seperti Tn. Pinkston bisa membungkukan badannya kepada satu keluarga yang sempat ia remehkan. Tubuh pria itu mulai ketakutan dan buliran keringat perlahan muncul di pelipisnya.


"Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba Tn. Pinkston memberi hormat pada mereka? Si, siapa mereka sebenarnya?" batin pria tersebut.


"Maafkan saya atas ketidaktahuannya. Sa, saya tidak tahu kalau orang besar seperti anda datang ke sekolah sederhana ini," kata Tn. Pinkston.


"Jika kami tahu lebih awal kedatangan anda berserta keluarga, kami pasti segera menyambut anda secara langsung," sambung Ny. Pinkston.


"Bangun lah Tn. Pinkston. Tidak perlu formal begitu," ujar Daniel meminta Tn. Pinkston untuk berdiri kembali.


"Iya. Kedatangan kami memang tidak diumumkan. Kami datang sebagai orang biasa," tambah Lina.


"Sa, saya hanya kaget saja melihat anda berserta keluarga ada disini."


"Senang berjumpa lagi dengan Tn dan Ny. Flors."


"Ngomong-ngomong kalau boleh tahu, hal apa yang membawa anda datang ke SMA Anthony?" tanya Tn. Pinkston untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Cuman ingin mononton perlombaan sains dan teknologi," jawab Daniel.


"Bagaimana kalau kita berbicara di dalam? Tidak enak ngobrol di depan pintu seperti ini," kata Ny. Pinkston menyarankan.


"Oh, boleh saja. Tapi kami dilarang masuk, jadi tidak bisa ikut bersama kalian. Mungkin kami akan mencari kursi penonton yang ada di bawah saja," kata Lina.


Tn. Pinkston tersentak kaget mendengarnya. "Apa!! Siapa yang berani melarang kalian semua masuk? Beritahu padaku siapa orangnya agar aku bisa patahkan lehernya!"


"Dia orangnya," kata Adelia dan adelio serempak sambil menunjuk ke si penjaga pintu.


"Hah?! Ma, maafkan saya. Saya tidak bermaksud begitu tadi. Saya tidak tahu kalau anda merupakan orang besar. Sekali lagi mohon maafkan saya," demi keselamatanya pria itu segera bersujud dan minta maaf pada keluarga Flors.


"Kami sudah memberitahu mu tapi kau malah tidak percaya dan menghina kami," ujar Adelia kemudian.


Satu tendangan di lancarkan Tn. Pinkston kepada pra itu. "Berani-beraninya kau menghina mereka!! Apa kau tidak tahu kalau mereka adalah keluarga Flors yang terkenal dan paling berpengaruh di ibu kota?!!"


"Apa?! Keluarga Flors yang itu... Tamat lah sudah riwayatku kali ini," batin pria tersebut.


"Tn. Flors tidak perlu khawatir. Saya akan meminta kepalah sekolah untuk memecatnya atau bila perlu mengusir ia dari kota ini."


"Oh, kalau begitu maaf sudah merepotkan Tn. Pinkston."


"Ba, baik. Saya akan segera pergi dari sini," pria itu bangkit lalu berlalu pergi.


"Mari Tn dan Ny. Flors berserta anak-anak yang manis, kita semua masuk."


Tn. Pinkston baru hendak membukakan pintu disaat tiba-tiba Via datang dan memanggil kakaknya. Identitas Via sebagai adik dari Daniel sama sekali tidak diketahui siapapun di sekolah ini. Ia cuman dikenal sebagai guru sains biasa.


"Hei, kulkas berjalan! Apa yang kau lakukan disitu? Ruangan kalian ada disebelah sana. Sudah disiapkan langsung oleh Tn. Vincent sendiri," panggil Via tanpa sopan santun pada kakaknya sendiri.


Hal yang biasa sering terjadi jika mereka bertemu. Namun bagi sebagian yang tidak tahu bisa membuat ke salah pahaman dan malapetaka bagi diri sendiri. Contohnya Rica. Niat hati ingin mencari muka dihadapan keluarga Flors malah mendatangkan bahaya pada diri sendiri dan bahkan ikut menyeret keluarganya.


"Prof. Via, jaga sopan santun mu! Mereka merupakan tamu terhormat yang datang dari ibu kota," bentak Rica.


"Hah?" Via seketika dibuat bingung mendengarnya. Ia melirik pada kakaknya lalu menoleh kembali pada Rica.


"Siapa wanita yang tidak sopan santun itu, Rica?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Dia adalah guru baru yang mengajar di klub sains," jelas Rica.


"Oh... Cuman seorang guru," seperti tidak belajar dari pria sebelumnya, ibunya malah ikut-ikutan meremehkan Via.


"Wah... Tn. Pinkston, anda memiliki putri yang tidak tahu tata krama dan kurang ajar. Ia dengan beraninya berbicara seperti itu pada guru sendiri. Beginikah caramu mendidik anakmu?" tanya Via.


"Siapa kau beraninya mengomentarai cara kami mendidik anak?!! Kau itu cuman guru sekolah biasa. Apa kau tidak menyayangi perkerjaanmu? Ketahui kalau aku bisa saja mengeluarkan mu dari sekolah ini," bentak Ny. Pinkston tanpa peduli kalau keluarga Flors main ada di depannya.


"Prof. Via, sebaiknya kau mengundurkan diri saja dari sekolah ini karna..."


"Apa aku bilang. Tn. Flors saja setuju denganku," potong Ny. Pinkton.


"Tidak. Yang mau aku katakan adalah bahwa sekolah inilah yang tidak cocok bagi guru sepertinya. Perilaku seorang murid sama sekali tidak sopan pada guru sendiri, benarkan Tn. Pinkston?" kata Daniel meminta pendapat pada Tn. Pinkton.


"Itu... Tidak benar Tn. Flors," jawab Tn. Pinkston.


"Kenapa? Coba jelaskan."


"Saya lah yang salah mendidik anak sampai membuat putri ku ini menjadi begitu manja dan sombong," Tn. Pinkston memaksa Rica untuk menundukkan kepala. "Segera minta maaf pada gurumu!"


"Kenapa aku harus minta maaf padanya? Seharusnya dia lah yang minta maaf pada ku," protes Rica tidak terima.


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan atau aku tidak akan memberimu uang saku selama sebulan!" ancam Tn. Pinkston sambil berbisik pada Rica.


"Aku minta maaf," kata Rica yang sama sekali terlihat tidak serius minta maaf.


"Sudahlah Tn. Pinkston, tidak perlu sampai segitunya. Sekolah memiliki aturan. Rica akan dikenakan sangsi yang berlaku karna telah berani menghina gurunya."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2