
Karna sering dijual kesana kesini membuat hubungan mereka terpisah. Marjorie perna diam-diam menghubungi Kety melalui surat agar persaudaraan mereka tidak terputus. Tapi setelah dua tiga kali saling membalas pesan, Marjorie mendapat kabar kalau Kety telah dibeli oleh seorang CEO yang tinggal di luar negeri. Putus sudah hubungan mereka saat itu karna kendala alamat yang tidak diketahui. Marjorie begitu sedih harus kehilangan satu-satunya teman serta saudara yang ia miliki.
Dua tahun lalu, disaat kehidupan Marjorie berubah drastis dan jauh lebih baik. Terbesit keinginan dihatinya untuk mencari Kety. Dihari libur, disaat tidak sedang menjalankan misi, Marjorie kembali ke alamat dimana terakhir kali mereka saling menghubungi lewat surat. Ia ingin mencari tahu CEO mana yang dulunya membeli Kety. Setelah pencarian panjang dan melelahkan, Marjorie masih belum dipertemukan dengan Kety. Namun Marjorie tidak akan pernah menyerah sampai ia berhasil, walau harus membunuh seseorang untuk mendapatkan informasi dan sedikit balas dendam pada orang-orang yang perna berbuat buruk pada Kety maupun dirinya dulu.
Berkat pencarian yang tiada henti, akhirnya ada sedikit titik terang. Satu bulan yang lalu, Marjorie mendapat informasi tentang keberadaan Kety di pulau Balvana ini. Betapa riangnya ia begitu mengetahui hal itu. Apalagi secara kebetulan ia mendapat misi di pulau ini. Menurut informasi yang ia dapat, 3 tahun lalu Kety mengikuti majikannya yang berkerja di kantin sekolah Anthony sebagai seorang koki. Kety saat itu bertugas menjadi seorang pelayan dan sering kali juga membantu tuannya memasak. Sebab itu Marjorie mengambil kesempatan mencuri data sekolah untuk mencari tahu kebenaran tersebut.
Jam 00.10 Marjorie belum kunjung mendapat informasi apapun tentang keberadaan Kety di sekolah ini 3 tahun lalu. Bukan tanpa alasan membuat Marjorie begitu lama mencarinya. Ia tidak berpikir ternyata setiap data yang ada dipasang pengamanan tersendiri. Hal itu membuat Marjorie kewalahan harus memecahkan kode sandi satu persatu.
"AAAH ! ! ! Apa yang ada di otak orang tua itu?! Untuk apa dia memasang pengaman sebanyak ini? Semua data disini juga tidak ada satupun yang berharga. Tidak akan ada yang mau mencurinya!" teriak Marjorie kesal. "Hoam... Lebih baik aku melanjutkannya besok saja."
Karna sudah ngantuk berat, Marjorie memutuskan untuk melanjutkan pencarian besok lagi saja. Ia menutup layar laptopnya lalu merangkak naik ke tempat tidur. Kasur yang empuk dan selimut yang hangat membuat Marjorie cepat tertidur.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Besok paginya, seperti biasa Julius bersiap-siap. Selepas mandi, ia mengambil seragamnya yang tersimpan di lemari. Begitu seragamnya ia keluarkan, Julius dibuat bingung dengan secari amplok terjatuh tepat ke ujung kakinya. Amplok berwarna pink berhiaskan stiker hati. Julius memungut amplok tersebut dan membaca tulisan yang ada disana.
"Dari Angel? Hm!" Julius melemparkan amplok tersebut ke tempat sampah tanpa membuka isinya terlebih dahulu. "Aku heran, bagaimana bisa mereka meletakan amplok-amplok itu disini?"
Julius kembali melanjutkan aktifitasnya. Saat ini ia memang sendirian di kamar. Jeffri dan Carl sudah duluan ke keluar. Alasan Carl pergi tergesa-gesa hari ini katanya ada buku yang ingin ia pinjam di perpustakaan. Sedangkan Jeffri, gelagat orang satu itu memang terlihat aneh beberapa hari ini. Julius tidak terlalu memperdulikannya walau ia memang mencurigai kalau Jeffri lah yang menyeludupkan surat-surat tersebut. Julius kembali menemukan amplok lainnya dengan karakteristik hampir sama di atas mejanya, terselip diantara buku bahkan di bawah tempat ia meletakan sepatunya. Tidak hanya itu saja, ada juga berbagai kotak hadiah kecil, coklat dan setangkai bunga mawar.
__ADS_1
Julius masih bersabar menghadapi semua itu. Ia dengan santai berjalan keluar dari kamarnya, setelah tak lupa mengunci pintu. Sebelum ke kelas, Julius terlebih dahulu mengambil buku-buku yang ia simpan di loker. Baru hendak membuka pintu loker, ia dikejutkan dengan puluhan amplok, bunga mawar dan kotak hadiah memenuhui lokernya. Sangking banyaknya, amplop-amplop berserta barang lainnya itu tumpah ke lantai. Semua mata yang ada disana melirik pada Julius dengan ekspresi sama terkejutnya.
"Jeffri!!! Kau bahkan menduplikat 'kan kunci lokerku!! Lihatlah bagaimana aku akan memberi pelajaran padamu hari ini!!" bentak Julius dengan sangat marah dalam hati.
Julius mengeluarkan semua sisa barang-barang selain miliknya dalam lokernya. Ia lalu membanting pintu loker dengan keras untuk meluapkan kekesalannya. Suara yang dihasilkan begitu nyaring mengisi setiap sudut koridor. Tidak ada satupun yang berani menegur Julius. Aura dan tatapan yang terpacar dari tubuh Julius terlalu mengerikan bagi mereka. Sepertinya akan ada badai hari ini.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Seperti suatu keberuntungan diberikan pada Jeffri hari ini. Sudah hampir menjelang petang Julius tidak kunjung menjumpai batang hidung Jeffri. Ia malahan semakin dibuat kesal dengan beberapa amplok lainnya yang tersimpan di laci mejanya di kelas. Carl yang tahu betul kalau saat ini Julius sedang mencari-cari Jeffri untung membuat perhitungan dengannya tentu tidak mau ikut campur. Biarlah urusan tersebut mereka selesaikan berdua, Carl yang tidak tahu apa-apa tidak mau terkena imbas dari amukan Julius.
Jam 17.27 keberuntungan Jeffri habis. Kini tinggal kemalangan dan kesialan. Julius berhasil menangkap basa sang pelaku yang sedang begitu asik memasukan amplok dan barang-barang lainnya ke lokernya. Julius tidak langsung menangkap Jeffri, dibiarkannya sebentar Jeffri menyelundupkan barang-barang tersebut agar Jeffri tidak dapat mengelak nantinya.
Jeffri terus memasukan seluruh barang-barang yang ada dalam kantung plastik di tangannya. Ia masih belum menyadari kehadiran Julius yang telah berada disebelahnya. Hampir seperempat jam akhirnya semua barang telah masuk seluruhnya ke dalam loker Julius. Begitu Jeffri menutupkan pintu loker, ia dikagetkan setengah mati dengan kehadiran Julius yang tengah santai bersandar di loker-loker murid lainnya.
"Wah ! ! ! Ju-Julius!!" teriak Jeffri. Sangking kagetnya ia sampai melangkah mundur sejauh tiga meter dari Julius. "Se, sejak kapan kau ada disana?"
"Sejak kau memasukan semua barang itu ke lokerku. Jadi kau biang keroknya yang memenuhi loker, lemari serta mejaku dengan semua barang-barang tidak berarti ini," Julius berjalan pelan mendekati Jerffri yang gemetar.
"Ja, jangan marah Julius. Aku cuman... Kabur!" teriak Jeffri sambil mengambil ancang-ancang lari.
__ADS_1
"Mau kabur? Jangan harap!"
Baru tujuh langkah berlari, tiba-tiba Jeffri tersungkur ke lantai sekolah dengan bagian wajah mendarat duluan. Entah mengapa kakinya terasa lemas dan tubuhnya kehilangan tenaga. Dalam keadaan setengah sadar Jeffri melihat Julius berjongkok di depannya.
"Sialan kau Julius!" kata Jeffri sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1