Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menyapa tamu


__ADS_3

"Wah... Siapa mereka?"


"Cantik sekali."


"Mereka pasti tuan putri dari keluarga ternama."


"Ingin sekali aku berkenalan dengan mereka."


Sama seperti kedatangan Yusra, pujian dari para tamu undangan mangiringi setiap langkah Julia, Wendy dan Febby. Sedangkan Rica dibuat kaget dengan kedatangan mereka. Berharap penampilan Julia, Wendy dan Febby akan terlihat sederhana dan kampungan karna berpikir mereka yang berasal dari kalangan menengah, tapi malahan penampilan mereka bertiga yang mengalahkan kecantikan Rica dan menjadi pusat perhatian di pesta.


"Apa?! Bukankah mereka ketiga gadis rendahan itu. Bagaimana bisa mereka tampil mempesona seperti ini? Dan lagi gaun yang mereka pakai adalah gaun keluaran terbaru tiga bersaudara edisi terbatas. Aku saja tidak berkesempatan mendapatkan salah satu diantaranya," kata Rica dalam hati.


Oh iya, hampir lupa. Terjadi sedikit perubahan pada gaun yang mereka kenakan sebelum mereka datang ke pesta ini. Julia baru ingat kalau ia memiliki tiga gaun pesta yang ia bawa dari rumah. Gaun tersebut memang sengaja dititipkan di vila milik Samuel kalau-kalau ada acara-acara tertentu yang ingin dihadiri. Dan untuk gaun yang mereka beli sebelumnya dititipkan sementara disana.


"Jadi dia juga diundang ke pesta ini. Mereka semua benar-benar menawan," batin Sean.


"Mereka cantik sekali. Terutama gadis bergaul lavender itu. Teringin aku mengajaknya turun ke lantai dansa," puji Alwen yang sendari tadi menatap Febby.


"Kalau begitu kau mundur dari taruhan. Sudah berkurang satu sainganku untuk mendapatkan hati gadis penuh kejutan ini," kata Yusra.


"Bukan begitu maksudku. Aku cuman ingin mengajaknya berdansa, bukan berarti aku menyerahkan Julia pada kalian," bantah Alwen. Ia kini dilanda kebingungan memilih antara Julia atau Febby.


"Jangan berebutan, masing-masing diantara kita mendapat satu gadis untuk berdansa, bukankah begitu? Soal taruhan tersebut kita kesampingkan dulu," lerai Sean. "He, andai kalian tahu apa yang telah dilakukan Julia siang tadi. Dia lebih dari gadis penuh kejutan dan sebenarnya bukanlah gadis sembarangan. Aku lah yang akan mengajaknya berdansa untuk pertama kali."


"Tidak masalah, tapi aku lah yang akan pertama kali mengajaknya berdansa," ujar Yusra.


"Bermimpilah. Dia pasti jauh memilih aku dari pada kalian," kata Sean tidak mau kalah.


"Masih belum bisa dipastikan."


"Rica, siapa sebenarnya ketiga gadis ini? Mereka sepertinya diperebutkan oleh para tuan muda," tanya ibunya sambil berbisik.


"Mereka orang yang aku ceritakan itu, gadis yang menyebarkan video memalukan ku di sekolah. Aku mengundang mereka untuk mempermalukan mereka, tapi kenapa jadi terbalik seperti ini?" jelas Rica dengan raut wajah kesal.


"Oh... Dia yang kau maksud untuk dikenalkan pada Tn. Norman?" tanya Gloria memastikan.


"Mereka terlalu cantik untuk Tn. Norman. Kenapa tidak membiarkan aku mencicipi mereka terlebih dahulu?" kata Zack yang terlihat bergairah melihat kecantikan Julia, Wendy dan Febby.

__ADS_1


"Kakak!"


"Tidak apa juga kan, Gloria? Jarang-jarang aku bisa bermain dengan gadis muda."


"Terserah paman saja, jika paman menyukai mereka, maka buatlah hidup mereka hancur."


"Oho... Aku akan membuat mereka bersenang-senang malam ini."


"Rasakan itu Julia," batin Rica.


"Apa yang sendari tadi kalian bisikan?" tanya Tn. Pinkston pada tiga orang yang saling berbisik dibelakangnya.


"Tidak ada."


"Selamat malam Rica, Tn. Pinkston, Ny. Pinkston. Terima kasih telah mengundang kami datang ke pesta yang indah ini," sapa Julia dengan ramah dan senyuman.


"Jangan sungkan begitu Julia. Sudah seharusnya aku mengundang teman-teman ku," balas Rica menyapa dengan berusaha tersenyum.


"Maaf, apa kita perna bertemu? Aku merasa perna melihat wajahmu ini," tanya Tn. Pinkston pada Julia yang terus meneliti wajahnya.


"Em... Apa benar?" masih ada sedikit keraguan dalam benak Tn. Pinkston. "Tapi... Sepertinya iya. Dalam perjalanaku ke ibu kota, aku sering berjumpa dengan gadis-gadis muda seperti kalian ini."


"Fiuuhh... Untung dia tidak mengenali aku," Julia menghembuskan nafas lega.


"Hei, Julia. Masih ingat denganku? Kita berjumpa di mall hari ini," sapa Sean mendahului Alwen dan Yusra. "Aku tidak tahu kalau kau juga diundang di pesta ini. Tahu begitu aku pasti akan menjemput kalian."


Julia mencoba mengingat-ingat siapa pria di depannya ini. Harap maklum, daya ingat Julia memang kadang sedikit terganggu karna penyakitnya. "Oh iya, aku ingat kau. Kau adalah pria yang takut mendengar suara ledakan itu."


Sean seketika tersentak mendengar ucapan spontan dari Julia, begitu juga yang lain. Sean melirik Alwen yang terlihat menahan tawa di belakangnya. Tatapan tajam ia arahkan pada temannya itu agar Alwen berhenti tertawa.


"Gadis ini sungguh berani. Aku sempat berpikir kalau sikapnya akan semanis wajahnya, ternyata tidak," batin Tn. Pinkston.


"Julia, apa yang kau katakan?" bisik Febby.


"Apa? Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Kau ini memang kebiasaan," kata Wendy juga berbisik pada Julia.

__ADS_1


"Saya minta maaf atas perkataan temanku ini. Mohon tuan muda Gelael tidak tersinggung," ucap Febby membantu Julia minta pada Sean.


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak membatah soal itu," Sean berjalan mendekati Julia, lalu ia membungkukkan badannya dan berbisik di telinga Julia. "Aku tidaklah seberani dirimu yang mampu membunuh orang dan menjinakan bom. Aku yakin kau tidak ingin semua orang tahu hal ini, bukan?"


Julia tiba-tiba menarik dasi Sean sampai wajah mereka sangat dekat. "Apa kau coba mengancam ku? Kau tahu, aku memiliki berbagai macam cara untuk bungkammu!"


"Berdansalah dengan ku malam ini, maka semuanya akan aman terjaga."


"Aku tak pandai berdansa tapi aku suka Bermain dengan nyawa," Julia mendorong Sean menjauh.


"Em, Rica, dimana Nisa?" tanya Wendy mengalikan perhatian.


"Dia masih di atas," kata Rica tersadar. Ia sempat mematung sesaat. "Aku akan memanggilnya turun. Acaranya sudah mau dimulai, benarkan paman?"


"Oh, iya. Semua tamu undangan juga sudah hadir, kenapa tidak kita mulai acaranya lebih awal?"


"Kalau begitu biarkan kami saja yang memanggilnya, bolehkan Tn. Pinkston?" tanya Febby.


"Oh, tentu. Silakan," dengan cepat Tn. Pinkston mengizinkan.


"Terima kasih Tn. Pinkston."


Setelah mendapat izin, Wendy dan Febby menarik tangan Julia pergi menuju lantai dua restoran. Di lantai dua terdapat sekat-sekat ruangan berbagai ukuran. Ada ukuran kecil, menengah dan besar. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang makan VIP yang biasa digunakan atau dipesan untuk acara makan bersama keluarga dan teman-teman. Namun khusus malam ini beberapa ruangan kecil beralih fungsi menjadi ruang istirahat bagi para tamu undangan yang mungkin memerlukannya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2