
Dikampus Lina memakai pakaian longgar untuk menutupi kehamilannya. Dia tidak memberitahu soal ini pada siapapun termasuk Ramona dan juga temanya Ira. Fakta tentang kehamilannya hanya diketahui oleh Daniel dan beberapa bawahannya yang sering ada di rumah. Lina tidak mau memberitahu hal ini pada mereka karna tidak dapat membayangkan bagaimana reasik mereka saat mendengarnya. Senang kah? Atau marah dan benci? Tidak. Lina tidak mau mereka membencinya karna ia hamil diluar nikah. Apa yang nanti mereka pikirkan?
"Lina!" panggil Ira yang melihat temanya itu di koridor.
"Ira," balas Lina begitu ia menoleh.
Ira tiba-tiba meneliti wajah Lina. "Kau bertambah gemuk ya Lina. Pria itu pasti merawatmu dengan sangat baik ya sampai kau gemuk begini."
"Ira!! Ini masih pagi! Jangan mulai," bentak Lina karna belum sampai semenit bertemu Ira sudah membuatnya kesal.
"Hihi... Tapi aku tidak berbohong Lina. Kau memang bertambah gemuk," Ira mencubit gemas pipi Lina.
"Aah... Hentikan itu," Lina berusaha melepaskan cubitan Ira yang membuat pipinya sakit.
Lina sudah tahu kalau berat badannya sudah bertambah karna kehamilan ini. Hal yang wajar memang kalau nafsu makan Lina bertambah. Ia harus memenuhi kebutuhan nutrisi untuk dirinya dan juga janin yang sedang dikandungnya saat ini.
"Oh, iya Lina. Apa kau melihat Richard beberapa hari ini?" tanya Ira sambil mereka berjalan menuju kelas.
"Tidak."
Walau pun Lina bertemu dengannya Lina pasti langsung menghindarinya. Tapi memang sedikit aneh. Sudah lama ia tidak bertemu Richard. Kemana perginya dia? Apa Daniel melakukan sesuatu padanya? Apa ia sudah terbunuh di tangan anak buah Daniel? Daniel memang mengatakan tidak akan membunuhnya tapi melihat perlakuan Richard saat di rumah sakit. Lina merasa tidak yakin kalau Daniel akan menepati kata-katanya.
"Hei. Kau melamunkan apa?" Ira menepuk bahu Lina yang membuat Lina tersadar.
"Hah? Tidak, tidak ada."
"Kau ini. Selalu saja tidak mau memberitahu ku," ujar Ira sedikit cemberut. "Hei, itu Richard," tunjuk Ira pada Richard yang berjalan menghampiri mereka.
"Ira! Lina!" panggil Richard pada mereka berdua.
"Kemana saja kau? Kenapa kami tidak melihatmu selama beberapa hari ini?" tanya Ira.
"Aku mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit beberapa hari lalu memulihkan diri di rumah. Hari ini baru bisa masuk kuliah kembali," jelas Richard.
__ADS_1
"Kecelakaan? Apa semua ini karna ulah Daniel?" pikir Lina.
"Kenapa kau tidak memberitahu kami?"
"Aku memang sengaja tidak memberitahu kalian. Aku tidak mau kalian jadi khawatir."
"Seberapa serius lukamu sampai hari ini baru pulih?"
"Em... Retak dua tulang iga, patah tulang tangan kanan, pendarahan di organ perut dan luka kecil di bagian kepala."
"Hah?! Separah itu kah?"
"Apa yang dilakukan anak buah Daniel sampai Richard mengalami luka yang serius?" batin Lina cukup terkejut mendengarnya.
"Setidaknya kau butuh beberapa bulan untuk sembuh total."
"Aku tahu. Tapi aku tidak mau duduk di rumah seharian. Jadi aku memutuskan untuk kuliah hari ini."
"Em... Ada yang aneh disini," Lina tiba-tiba merasa kejanggalan pada diri Richard. "Kenapa sikap Richard terlihat biasa-biasa saja? Apa lagi setelah kejadian di rumah sakit tempo hari. Dengan sifat Richard yang aku tahu ia tidak akan mungkin bersikap seperti ini."
Lina memberitahu Qazi tentang firasat nya tentang ada seseorang yang mau menyerang mereka. Mengetahui hal itu Qazi sudah siap siaga. Dan benar saja sesuai firasat Lina. Di jalanan sepi mereka di ikuti oleh satu mobil hitam. Mobil tersebut memotong laju mobil mereka lalu mengeram secara mendadak membuat Qazi harus menginjak rem juga. Empat orang pria kekar keluar dari mobil tersebut dan langsung menghampiri mobil mereka. Lina dan Qazi merasa tenang-tenang saja karena mereka sudah menebak hal ini, dan sebenarnya menantikannya juga.
"Hajar mereka Qazi. Saatnya mencoba senjata barumu," ujar Lina yang bersandar santai di kursi mobil.
"Tentu saja aku akan mencobanya pada mereka."
Qazi membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Ia mengeluarkan senjata yang diberikan Lina padanya.
"Serahkan gadis itu! Atau kepalamu berlubang!" kata salah satu dari mereka sambil mengacukan senjata mengancam Qazi.
Tidak menghiraukan perkataan pria itu, Qazi langsung menyerangnya menggunakan pisau lipat yang ada di tangannya. Iya, hanya pisau lipat. Itu senjata baru miliki Qazi yang Lina berikan. Et... Tapi itu bukan pisau lipat biasa. Pisau itu sudah dilumuri racun yang dapat membunuh korbannya dalam hitungan detik jika racun itu langsung masuk melalui aliran darah. Melihat rekan mereka tumbang, teman-temannya yang lain segera menyerang Qazi dengan meluncurkan beberapa tima panas.
Sebagai anggota tim elit Qazi dapat dengan mudah menghindari tembakan yang luncurkan secara berantakan itu. Mereka pasti cuman preman kecil biasa. Dengan kecepatan yang dimilikinya, Qazi berhasil menggores leher ketiga orang tersebut. Mereka semua tewas seketika akibat racun pada pisau tersebut. Racun itu tidak mempan pada Qazi karna ia sudah memakan obat penawarnya dari Lina. Biarpun Qazi tampa sengaja kulitnya tergores akibat pisau lipat itu, ia tidak akan mati.
__ADS_1
Sementara itu pengawal bayangan yang Daniel tempatkan untuk melindungi Lina secara diam-diam teperangak begitu melihat kemampuan Qazi dalam membunuh musuhnya dengan sangat cepat. Mereka bahkan belum sempat keluar untuk membantu.
Lina keluar dari mobil menghampiri Qazi. "Bagaimana senjata barunya?"
"Luar biasa. Aku bahkan tidak menggores leher mereka terlalu dalam tapi mereka sudah tewas seketika."
"Apa kau bisa menebak siapa yang mengirim mereka?"
"Dilihat dari kemampuannya, mereka bukanlah dari anggota mafia tertentu. Mereka hanyalah preman biasa yang diberikan senjata. Aku akan memberitahu peristiwa hari ini pada tuan muda. Tuan muda pasti mengirim seseorang untuk menyelidiki siapa yang menyuruh mereka."
"Ada berapa banyak pengawal bayangan yang diminta untuk melindungi ku secara sembunyi-sembunyi?"
Pertanyaan Lina ini membuat Qazi sedikit terkejut. Karna memang ia tidak tahu menahu soal pengawal bayangan yang Daniel tempatkan.
"Pengawal bayangan apa? Aku tidak tahu hal itu."
"Oh... Kalau begitu... Aku minta kalian semua keluar!" perintah Lina dengan tegas.
Para pengawal bayangan itu tidak keluar sama sekali. Mereka tidak percaya kalau Lina menyadari keberadaan mereka. Qazi yang sebagai anggota ti elit saja tidak menyadari mereka, lalu kenapa gadis ini bisa tahu? Mereka sangat ahli dalam menyamar dan bersembunyi. Tidak mungkin mereka bisa ketahuan oleh gadis kecil ini.
"Tidak ada yang mau keluar? Baik."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε