
"Bagaimana bisa kakak seyakin itu?"
"Sekarang aku tanya, apa dia perna melakukan hal yang buruk pada kita?"
"Tidak. Marjorie sangat baik. Tapi... Bukankah itu karna ia tidak tahu siapa kita."
"Dia memang tidak tahu tapi dia telah mencurigai kita."
"Mencurigai?"
"Iya. Hal wajar jika ia mencurigai kita bukan lah siswa dan siswi biasa. Aku tebak kalau selama ini Marjorie telah berusaha mencari identitas asli kita, namun ia tidak berhasil menemukannya."
"Tentu saja tidak ketemu, papa dan bibi Via sendiri yang merancang sistem keamanan untuk menjaga segala informasi penting keluarga kita."
"Biarpun begitu ia memperlakukan kita layaknya seorang teman, benar bukan?"
"Iya."
"Ia pasti dilanda kebimbangan antara menganggap kita musuh atau temannya. Sama seperti kau saat ini. Jadi aku tanya sekali lagi, apa kau mau menganggapnya sebagai musuh atau seorang teman?"
"Tentu saja teman. Ia orang baik dan bersahabat menurutku. Dia juga menolongku barusan."
"Karna hal itu lah aku bisa yakin kalau ia bukanlah musuh kita. Jika ia menganggap kita sebagai musuhnya, sudah pasti dia akan mengambil kesempatan untuk mencelakaimu dari pada menolongmu. Raut wajah cemas nya tadi tidak dibuat-buat, Julia. Itu nyata ia mengkhawatirkan mu sebagai temannya."
"Aku mengerti. Aku perna mencari tahu tentang masa lalunya. Masa kecil Marjorie dipenuhi dengan penderitaan sampai ada seorang pria yang mengubah hidupnya menjadi seperti sekarang."
"Apa kau tahu siapa pria itu?"
__ADS_1
"Tidak. Aku sama sekali tidak bisa melacak siapa dia. Bahkan Marjorie sendiri tidak tahu identitas dari penyelamat nya."
"Itu berarti pria itulah yang menjadi pengikat Marjorie. Tunggu, pria?! Aku sempat berpikir kalau yang menjadi pengikatnya adalah Lady Blue. Baguslah kalau begitu. Jadi Blue Blue cuman atasannya saja saat ini. Dia bukanlah orang yang membuat Marjorie harus berhutang budi," batin Julius. Entah mengapa begitu mengetahui hal itu membuat Julius senang.
"Aku benar-benar salut pada Marjorie. Ia masih kuat menjalani hidupnya yang begitu kelam. Perjuangannya sangat hebat sampai ia bisa seperti sekarang. Tapi aku tetap mencemaskan hal ini. Dia merupakan bawahan Lady Blue yang sedang menjalankan suatu misi disini. Biarpun kita tahu dia tidak memiliki niat jahat pada kita tapi dia tetap saja ada di pihak berbeda. Mau tidak mau kita mungkin..."
Sebelum Julia menyelesaikan kalimatnya, Julius tiba-tiba menginjak rem yang membuat mobil berhenti tepat di bahu jalan. Langit keemasan yang semakin meredup di atas mereka membawa kesunyian. Julia menoleh pada kakaknya yang masih menatap laju mobil Marjorie dan Nisa di depan sampai menghilang di antara mobil lainnya. Julius kemudian meletakan dahinya distir mobil.
"Kak," panggil Julia pelan dengan raut wajah kebingungan.
"Julia, aku memberitahu mu semua ini hanya sekedar memohon sebagai kakak pada adiknya," Julius berhenti sebentar. Ia tidak mengangkat kepalanya sama sekali dari stir mobil. "Aku mohon padamu untuk tidak memberitahu papa dan mama tentang Marjorie. Aku tidak mau kehilangannya."
"Kenapa tingkah kakak jadi aneh begini? Ayok lah kak, ini tidak seperti dirimu yang biasanya."
"Aku juga tidak tahu Julia. Perasaan ini benar-benar tidak ku mengerti. Sudah cukup aku perna merasakan kehilangan dia sekali. Aku tidak mau kehilangan dia lagi dan untuk selamanya. Suatu hari nanti kau pasti merasakan perasaan yang sama denganku."
"Origami burung bangau? Apa maksudnya?" Julius mengapai origami itu dan memperhatikan salah satu bentuk kerajinan dari selembar kertas tersebut.
"Dulu, sewaktu aku sedih atau murung, bibi Via selalu membuatkan origami burung bangau untuk menghiburku," jelas Julia. Ia menatap seduh origami yang membawa kenangan masa lalunya.
"Terima kasih Julia. Hanya padamu aku bisa terbuka seperti ini. Kau adikku yang paling manis."
"Kakak juga kakak yang terbaik sedunia. Kakak selalu ada disaat aku membutuhkan." kata Julia sambil berusaha untuk tersenyum. Lalu ia tiba-tiba memeluk erat kakaknya. "Terima kasih karna selalu ada untukku, mengkhawatirkan ku dan senantiasa melindungi ku. Walau kita sering bertengkar tapi aku tahu kalau itu cuman sebatas candaan saja. Hiks... Hiks... Kau menyayangiku lebih dari aku menyangimu. Maaf karna selalu merepotkan kakak. Hiks... Hiks..."
Tangis Julia sampai terseduh-seduh sambil memeluk kakaknya. Julius kembali dibuat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia membiarkan Julia untuk meluapkan semua emosinya yang sudah lama ditahan itu. Hampir lima menit bagi Julia untuk berhenti menangis sepenuhnya. Ia melepaskan pelukannya.
"Hei, kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Julius akhirnya. Ia mengusap sisa air mata yang mengalir di pipi Julia. "Kau adalah Julia Francesca Flors. Seorang gadis kecil yang sangat aku kenal pemberani, ceria dan dengan segala kenakalannya. Bagaimana bisa jadi selemah ini? Jika Adelia mengetahuinya, kau bisa diejek habis-habisan olehnya loh."
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu mengapa aku menangis. Saat melihat burung bangau itu membuatku rindu pada rumah. Disini cuman kakak satu-satunya keluarga yang aku miliki."
"Kan masih ada paman Samuel, dia tiap minggu datang untuk mengajar kita bermain musik. Jika kau rindu papa, mama, Adelia dan Adelio kan bisa menelpon mereka. Biarpun jarak kita jauh tapi kita masih bisa dekat," kata Julia yang kali ini mencari cara untuk menghibur adiknya.
"Rasanya berbeda."
Sepertinya itu tidak berhasil sama sekali. Julia masih terlihat murung. Ia sungguh sangat merindukan suasana rumah mereka. Julius mencoba memikirkan sesuatu yang dapat mengembalikan senyum di wajah adiknya itu. Sampai ia mendapatkan ide setelah melihat keluar jendela mobil.
"Beritahu temanmu kalau kau akan pulang terlambat," kata Julius kemudian. Ia menyalakan kembali mesin mobil lalu menacap gas.
"Memangnya kita mau kemana?" dengan dipenuhi pertanyaan, Julia mengirim pesan pada Nisa kalau ia akan pulang terlambat malam ini.
"Ke tempat yang bisa membuat mu jauh lebih baik."
Di malam yang semakin gelap mobil terus melaju melewati jalanan yang menanjak. Butuh waktu hampir setengah jam bagi mereka untuk sampai di tempat tujuang yang Julius maksud. Disinilah mereka sekarang, dipuncak salah satu bukit yang biasa digunakan sebagian orang untuk menikmati pemandangan kota pada malam hari atau jutaan bintang di langit malam. Julius mengajak Julia keluar dari mobil untuk menikmati semua keindahan ini.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε