
Disisi lain. Aksi kejar-kejaran dan tembakan terjadi di jalan menuju kota. Dengan keadaan gebut Daniel mengejar laju mobil Stevan sambil meluncurkan tembakan.
Dor! Dor! Dor!
Kealihan berkendara Stevan tidak bisa diremehkan. Ia dengan mulusnya menghindari setiap luncuran peluru yang Daniel berikan. Ia semakin menambah kecepatan. Tidak tinggal diam Daniel juga menambah kecepatan mobilnya. Dalam kurun waktu 15 menit mobil mereka memasuki kawasan perkotaan. Tanpa menurunkan kecepatan, mereka melesat diantara kendaraan-kendaraan lain yang ada.
Semakin memasuki pusat kota, semakin banyak pula kendaraan yang lalu lalang. Daniel harus mengandalkan kealihannya berkendaranya agar bisa mengejar Stevan. Manuver di jalanan tentunya dilakukan supaya tidak terjadi kecelakaan dengan kendaraan lain. Daniel tidak meluncurkan tembakan lagi dikarenakan peluru yang tersisa di pistol nya tinggal satu dan ia tidak membawa peluru cadangan.
Yang tidak diharapkan sekarang tapi tentu saja terjadi. Aksi kejar-kejaran mereka di jalan raya telah menarik perhatian polisi. Beberapa mobil polisi terlihat mengejar begitu Daniel melirik dari kaca spion mobilnya. Suara peringatan dilontarkan para petugas polisi tersebut meminta Stevan dan Daniel berhenti. Tapi tentunya peringatan itu dihiraukan mereka berdua. Mereka mala semakin menambak kecepatan begitu memasuki jalan tol.
"Putra Rayner ini cukup hebat dapat menggejarku sampai sejauh ini. Tapi kita lihat sampai berapa lama kau bisa bertahan."
Stevan membanting stir ke kanan yang menyebabkan mobilnya menyenggol kendaraan lain. Mobil yang ia senggol hilang kendali lalu menabrak mobil lainnya. Akibat kecelakaan tersebut beberapa mobil yang tidak cukup cepat mengerem mala ikut bertabrakan. Kecelakaan beruntun tidak terelakan. Belasan mobil menjadi korban. Namun hal itu tidak bisa menghentikan Daniel. Dengan cekatan Daniel menghindari mobil-mobil yang saling bertabrakan tersebut. Yang kewalahan dan terjebak adalah para polisi. Mereka tidak bisa mengejar Stevan dan Daniel lagi.
"Lumayan," gumang Stevan.
Kejar-kejaran mereka berlanjut. Jalanan yang Stevan pilih sedikit berkurang kepadatan kendaraannya, dengan alasan tertentu. Tidak diduga Stevan memutar mobilnya 180° kemudian melajukan mobilnya dalam keadaan mundur. Daniel sedikit bingung apa yang mau dilakukan Stevan sampai ia melihat Stevan mengacungkan senjata dari balik jendela mobil.
Dor! Dor! Dor!
Tima panas Stevan tembakan ke arah Daniel secara bertubi-tubi. Daniel berusaha menghindar. Beberapa kali mobilnya dihadiahkan tima panas sampai kaca depan mobilnya pecah. Hal tersebut membuat Daniel sedikit kesulitan mengejar. Ia harus menghindari tembakan dan kendaraan lain secara bersamaan. Ini tidak bisa terus begini. Daniel harus mengakhirinya secepat mungkin. Stevan kembali memutar mobilnya seperti semula lalu menacap gas meninggalkan Daniel.
"Sial!" gerutu Daniel kesal.
Kini ia semakin ketinggalan jauh dari Stevan, namun ia menemukan cara. Daniel mengambil jalan yang berbeda dari laju mobil Stevan. Jalanan itu semakin menanjak dan Daniel menaikan kecepatan mobilnya. Sampai di tikungan, bukannya berbelok Daniel mala terus melajukan sampai mobilnya menabrak pakar pembatas. Mobil Daniel terbang di udara, terjun bebas menuju jalanan yang ada di bawahnya. Mobilnya berhasil mendarat tepat memotong mobil Stevan.
__ADS_1
Stevan yang kaget refleks memanting stir untuk menghindari tabrakan. Tidak mau kehilangan mangsanya lagi, Daniel menabrakan mobilnya dengan keras ke mobil Stevan. Akibat kejadian itu mobil mereka hilang kendali, berputar lalu berguling keluar dari jalan dan berakhir dalam keadaan ringsek. Tapi setelah kecelakaan tersebut, Stevan masih sempat keluar dari mobil dan berlari kabur.
Tidak mempedulikan dengan darah yang mengalir di dahinya, Daniel keluar dari mobil lalu mengejar Stevan. Dengan langkah pincang Stevan berusaha kabur melalui ilalang setinggi lutut itu.
"Jangan harap dapat kabur lagi Tn. Stevan!"
Pekik Daniel sambil menerjang Stevan sampai membuatnya terjungkal di ilalang. Tidak sampai disitu. Daniel menarik krah kemeja Stevan lalu menonjol keras wajah Stevan. Hal itu membuat satu gigi depan Stevan copot.
"Argh!"
"Itu balasan karna telah melukai kakek ku!"
"Ciuh! Kau itu cuman tuan muda dari keluarga Flors. Untuk apa kau ikut campur urusan keluarga tersembunyi?!!" dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Stevan berdiri lalu menyerang Daniel.
Daniel menangkis serangan tersebut. "Siapapun yang berani urusan dengan orang-orang ku, aku pastikan dia akan lenyap dari dunia ini! Tidak peduli dia mau berasal dari keluarga tersembunyi sekalipun!"
Bugkk!
Bugkk!
Daniel menghajar Stevan dengan amarah yang meluap-luap. Stevan berusaha menangkis, menghindar dan sesekali membalas. Perkelahian sengit terjadi diantara mereka, namun itu tidak berlangsung lama. Tenaga Stevan telah terkuras habis. Ia tersungkur ke tanah tidak sadarkan diri.
"Cukup sampai disini Tn. Stevan," kata Daniel dengan nafas terengah-engah. "Tidur lah yang nyenyak untuk malam ini. Bukan tugasku mencabut nyawamu," Daniel mengeluarkan hpnya kemudian menghubungi seseorang. "Qazi, jemput aku!"
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
__ADS_1
Malam tadi Lina sangat kelelahan. Ia tidak langsung istirahat setelah sampai di rumah. Ia bergegas pergi ke laboratorium untuk membuat obat bagi tuan besar Flors. Dia ingat ada satu resep obat yang bisa memperpanjang masa hidup tuan besar Flors setidaknya untuk beberapa bulan ke depan. Dalam jangka waktu tersebut Lina mungkin bisa menemukan obat penawar dari racun yang ada di tubuh tuan besar Flors.
Disaat Daniel pulang, ia mendapati Lina telah tertidur di Sofo dengan keadaan kepala saja yang berbaring di atas sofa berpangku tangan dan kakinya terjulur di lantai. Daniel menghela nafas sambil tersenyum. Ia mengangkatkan tubuh Lina dan membawanya kembali ke kamar. Dibaringkannya tubuh kecil itu di atas tempat tidur. Daniel baru menyadari kalau pergelangan tangan Lina berbalut perban putih.
"Apa yang telah terjadi padamu kucing kecil? Bagaimana bisa pergelangan tangan mu terluka?"
Daniel membelai rambut Lina. Dipandangi wajah lembut yang tengah tertidur itu. Ingatan pertama kali mereka bertemu terlintas di kepala Daniel. Wajah ini lah yang telah merubah hidupnya, yang telah membuat ia merasakan perasaan yang belum perna ia rasakan sebelumnya dan memberi arti hidup. Lina adalah hidupnya. Lina adalah cahaya yang menyinari dalam kegelapan. Daniel tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika ia kehilangan Lina. Ia lebih baik kehilangan seluruh harta bendanya dari pada harus melihat Lina pergi.
Karna terus memandangi wajah Lina yang sedang tertidur, Daniel sadar mala ikut tertidur dengan posisi persi sama seperti Lina tidur di sofa sebelumnya. Ia tidak sempat mengganti bajunya lagi atau sekedar mengobati luka-lukanya. Tubuh Daniel terlalu lelah untuk melakukan itu semua.
Paginya Lina membuka matanya sambil meguap. Ia mengucek-gucek matanya yang masih sulit terbuka. Namun Lina memaksakan diri untuk bangun. Disaat pandangannya membaik ia baru menyadari kalau dirinya ada di kamar. Seingatnya ia tertidur di sofa sangking lelang nya untuk kembali ke kamar. Lina segera tahu siapa yang membawanya kesini begitu melihat Daniel tertidur di sampinya dengan keadaan seperti itu.
"Daniel bangun. Sudah pagi."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε