
Pria itu memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Lina. Tak berselang lama dokter yang dipanggil masuk ke kamar Lina. Ia segera melakukan pemeriksaan pada kondisi luka yang Lina alami. Ia membantu melepaskan masker oksigen disaat ia yakin kalau Lina tidak membutuhkannya lagi. Lina merasa lega begitu masker oksigen tersebut dilepas. Itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Syukurlah, kondisimu sudah mulai membaik. Semua luka pada tubuhnya telah perlahan-lahan sembuh, termasuk luka berkas operasi itu. serta... Janin dalam kandunganmu dalam keadaan sehat."
"Tunggu, Janin? Aku hamil?" meletakan tangannya di atas perutnya lalu mengusap sekali. Sudah terasa lekukan perutnya yang menonjol sebagai tanda kehamilannya.
"Oh, anda tidak tahu?" kata dokter tersebut sedikit bingung dengan reaksi Lina. Gelengan pelan Lina lakukan sebagai jawaban.
"Dia tidak ingat apapun," kata pria di kursi roda itu memberitahu.
"Tidak ingat? Em... Aku sudah menduga hal ini. Memang ada cedera sedikit di bagian kepala yang memungkinkan dia mengalami hilang ingatan sementara. Tidak apa. Seiring berjalannya waktu ingatanmu akan puli kembali dengan sendirinya. Kau hanya perlu banyak-banyak istirahat dan hindari kegiatan yang terlalu memeras otak, itu akan membuatmu pusing. Saya akan buatkan resep obat untukmu. Permisi."
"Tunggu dok," panggil Lina membuat langkah dokter itu terhenti. "Berapa usia kandungan saya?"
"Sekitar 12 minggu," jawab dokter itu lalu berlalu pergi.
"Ternyata aku sudah menikah dan akan memiliki seorang bayi," Lina mengangkat tangan kirinya memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Suamiku pasti mengkhawatirkan kami."
"Istirahatlah sampai kau benar-benar sembuh. Aku akan membantumu menemukan keluargamu," pria itu menepuk-nepuk pelan punggung tangan Lina.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu. Anda telah menyelamatkan nyawa kami."
"Bukan aku yang menyelamatkan mu tapi putraku."
"Putramu?"
"Iya. Disaat perjalanan pulang, ia melihatmu jatuh dari jembatan tua setelah berkelahi dengan seseorang wanita. Tanpa pikir panjang dia langsung terjun ke sungai untuk menyelamatkanmu dan membawah kesini. Aku sempat mengira kau tidak mungkin selamat dari racun itu tapi nyatanya aku salah. Kau wanita yang kuat."
"Terima kasih Tn..."
"George."
"Tn. George?!" Lina merasa tidak asing dengan nama tersebut.
"Kenapa? Apa kau mengenalku?"
"Tidak. Aku cuman merasa perna mendengar nama itu."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong soal mengenal... Pertama kali melihatmu, kau mengingatkanku pada adikku yang telah lama tiada. Kau mirip sekali dengannya. Bagaimana kalau untuk sementara aku memanggil mu dengan nama Veli?"
"Velia."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Dua hari kemudian. Kondisi Lina sudah membaik namun ingatan tentang keluarganya masih samar. Ia sudah bertemu dengan istri George yang bernama Sara dan Samuel, putra tunggal George yang menyelamatkannya. Sara memperlakukan Lina dengan baik di rumah itu seperti putrinya sendiri. Namun, tidak dengan Samuel. Baru satu jam bertemu saja mereka berdua sudah bertengkar. Dan hal yang mereka pertengkaran itu terkadang masalah sepele tapi bisa membuat seisi rumah menjadi ricuh. Tak ayal pula memang Samuel jahil orangnya. Seperti pagi ini.
"Velia, bangun! Berhentilah tidur seperti seekor beruang yang sedang berhibernasi," teriak Samuel sambil menarik selimut Lina.
"Kaulah yang berhenti mengganguku atau aku akan menendangmu dari sini!" ancam Lina sambil menarik selimutnya kembali sampai menutupi seluruh tubuhnya.
"Kau mau menendangku? Aku tuan rumah disini. Seharusnya kau menuruti semua yang aku katakan! Sekarang aku meminta mu untuk bangun dari tempat tidurmu dan turun untuk sarapan!"
Bugk!
Satu batal mendarat di wajah Samuel. Ia hanya menatap kesal pada si pelaku yang melemparkan bantal tersebut. Lina juga sama kesalnya.
"Berisik! Bisa tidak kau membiarkan aku tenang untuk lima menit saja!!"
"Oh, salahku. Seharusnya aku melemparimu dengan batu! Aku baru mengenalmu selama dua hari tapi kenapa kau selalu membuatku kesal!! Kau selalu menjahiliku dan membuat hidupku tidak tenang!"
Lina turun dari tempat tidurnya kemudian membalas dengan melemparkan bantal secara bertubi-tubi. Samuel tentunya tidak terima. Perang bantalpun terjadi di pagi buta ini.
"Kalian berdua, Stop!" bentak Tn. George membuat Lina dan Samuel berhenti dan menoleh.
"Tn. George."
"Ayah."
"Ini baru jam 06.30 pagi, tapi kalian berdua sudah membuat keributan. Kenapa setelah kalian berdua bertemu dan saling mengenal antara satu sama lain mala selalu bertengkar setiap hari? Aku seperti memiliki dua anak kecil yang nakal. Rumah ini yang selalunya tenang kini begitu ramai oleh suara pertengkaran kalian."
"Ini salah dia," tunjuk Lina pada Samuel "Dia yang selalu mengganguku duluan. Aku cuman membalasnya."
"Apa?! Aku cuman membangunkan mu untuk sarapan. Apa itu salah?"
"Caramu yang salah. Kau itu memang sengaja mau membuatku emosi," Lina melipat dangannya di dada sambil mendengus kesal.
__ADS_1
"Sudah, cukup! aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Sebaiknya kalian berdua turun untuk sarapan. Aku sudah meminta koki membuatkan kue jahe untukmu Velia."
"Benarkah? Wah... Terima kasih Tn. George. Anda yang paling baik," raut wajah cemberut Lina seketika berubah. Dengan riang ia menghampiri George.
"Lihatlah dirimu. Sungguh sangat tidak menduga kalau dirimu ini merupakan calon seorang ibu. Kau lebih mirip seperti gadis kecil yang manja."
"Tn. George sendiri yang bilang kalau aku harus bersikap seperti diriku sendiri," Lina membantu mendorong kursi roda George keluar dari kamar tersebut.
"Dia sungguh lucu, sama seperti kucing kecil yang imut. Aku tidak bisa tidak tahan untuk menggodanya tapi sayangnya ia suka mencakar," Samuel melangkah mengikuti mereka dari belakang dengan jarak cukup jauh.
Di ruang makan. Ruangan luas di lantai dasar dengan jendela kaca besar yang langsung menyajikan taman alami nan terawat. Beberapa pelayan dengan serangam hitam putih begitu cekatan menyajikan berbagai hidangan menu sarapan pagi ini. Sesuai perkataan George tadi, kue jahe kegemaran Lina di sajikan untuknya. Lina begitu menikmati kue jahe tersebut. Cita rasa yang masuk ke mulutnya membawa kenangan yang tidak bisa dilukiskan. Ia merasa ada cerita sendiri di balik makanan satu ini.
"Velia, bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Sara yang duduk di samping Lina.
"Sangat baik. Semua luka ku sudah sembuh. Ini semua berkat kalian yang telah menolongku dan merawat ku. Jika tidak ada kalian, kami pasti sudah mati," Lina tertunduk menatapi kandungannya.
"Jangan murung begitu nanti tidak cantik lagi," Sara mengangkat dagu Lina dengan lembut. "Syukurlah jika semua lukamu telah sembuh, tapi kau masih harus banyak-banyak istirahat sampai kau benar-benar sembuh total."
"Tapi sebenarnya aku ingin mencari keluargaku. Aku tidak ingin merepotkan kalian lagi. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan kalian."
"Bagaimana caranya kau mencari keluargamu, sedangkan ingatanmu saja belum pulih?" tanya George.
"Em..." Lina kembali tertunduk.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1