Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Jadwal pertemuan


__ADS_3

"Hallo. Ada perlu apa Tn. Cershom meluangkan waktunya menelpon saya malam-malam begini? Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu tuan?" sapa Joe ramah.


"Joe, bisa jadwalkan pertemuan kita di rumah lelang? Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


"Seseorang? Siapa itu Tn. Cershom? Apa salah satu dari orang terpandang sampai Tn. Cershom secara pribadi menghubungi saya untuk bertemu?"


"Jangan merendah Joe. Tapi aku harap kau benar-benar memilih hari dan waktu yang tepat, karna aku tahu betapa sibuk nya dirimu. Aku tidak mau ada gangguan di acara pertemuan kita nanti."


"Hehe... Tn. Cershom terlalu menyanjung. Orang sepertiku pasti ada cukup waktu luang untuk anda. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda Tn. Cershom."


"Benarkah? Bagaimana kalau besok?"


"Eh... Ini. Aku ada jadwal ke dokter gigi. Maaf sekali Tn. Cershom," kata Joe mencari alasan. Jadwalnya benar-benar sibuk setelah kepergian Ariana.


"Benarkan apa yang aku bilang. Kau tentukan saja sendiri jadwal agar tidak bertabrakan dengan jadwalmu yang lain."


"Ok. Em... Hari apa yang cocok ya?" Joe melihat daftar jadwalnya untuk seminggu ke depan. "Hah... Sepertinya cuman hari libur ku diakhir pekan yang benar-benar kosong." gumang Joe. "Bagaimana kalau akhir pekan ini saja Tn. Cershom?"


"Baik. Sampai jumpa akhir pekan. Selamat malam."


"Selamat malam," Joe memutuskan telponnya. "Sebenarnya siapa yang mau bertemu denganku? Hmh, ya sudahlah. Aku akan tahu saat akhir pekan tiba. Hah... Hari libur ku."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Pagi hari yang cerah. Cahaya matahari menerpa wajah Lina yang masih tertidur lelap. Dengan posisi tangan merangkul leher Daniel dan satu kaki diatas tubuhnya, Lina sungguh tidak akan membiarkan Daniel pergi kemanapun.


"Bagaimana aku bangkit dari tempat tidur kalau seperti ini?" pikir Daniel yang sudah terbangun setengah jam yang lalu.


"Es krim. Aku mau es krim lagi," ngigau Lina sambil menjilati sekali wajah Daniel. "Manis sekali."


"Dalam mimpi pun masih ingin es krim. Padahal semalam ia sudah menghabiskan lima mangkok," Daniel mengelap pipinya yang Lina jilati. "Untung dia tidak menggigit."


Plak.


Belum selesai bicara, telapak tangan Lina sudah menempel di wajah Daniel. Daniel cuman bisa pasrah saja begitu tangan kecil itu mulai menepuk-nepuk pipinya lalu menarik hidungnya.


"Oh... Daniel, Danielku. Kenapa kau begitu tampan sayang," Lina kembali mengigau. Dielusnya lembut wajah Daniel secara tak beraturan. "Kalau boleh aku jujur, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Oh... Cintaku kini jadi suamiku," satu kecupan mendarat di pipi Daniel.

__ADS_1


"Astaga. Dia sungguh tidak bisa menahan diri disaat mengigau. Tapi aku menyukainya," Daniel menoleh pada Lina yang masih tertidur. Dipandanginya terus wajah manis itu. Tiba-tiba Lina membuka matanya. "Selamat pagi sayang."


"Apa aku masih bermimpi? Aku harap begitu karna aku tidak akan melewatkan kesempatan ini," Lina kembali mengelus wajah Daniel, mencubitnya lalu tangannya beralih mengacak-acak rambut Daniel dengan gemas. "Hihi... Aku sudah lama ingin melakukan itu."


"Apa dia menganggap kalau dirinya masih sedang bermimpi?" batin Daniel.


Yang tidak diduga oleh Daniel adalah ketika Lina menarik melepaskan baju yang dikenakan Daniel.


"Kucing kecil... Apa yang mau kau lakukan?"


"Sstt... Diam. Aku sudah menikmati pemandangan pencuci mata," Lina menusuk-nusuk perut Daniel yang seperti roti sobek itu. "Oh... Lihat otot-otot yang terlatih itu. Begitu sempurna dan kenyal," tangan Lina kini beralih mengelus dada bidang Daniel, kemudian ia merapatkan tubuhnya sampai pipinya menempel disana. "Aku bisa mendengar suara detak jantung mu. Tubuhmu hangat sekali."


"Begitu menyenangkan bukan kau bermain dengan tubuhku? Apa kau sudah puas sekarang?"


"Tidak. Kalian selalu saja suka mengelus perutku dan itu membuatku sedikit tidak nyaman. Kali ini biar aku membalasnya dengan cara melampiaskannya padamu. Toh, ini juga cuman mimpi. Jadi aku bisa memuaskan hatiku menikmati keelokan tubuhmu yang memang tidak boleh disia-siakan."


"Sudahlah jika kau berpikiran seperti itu."


Lina masih belum sadar kalau dirinya sebenarnya telah bangun dari tidurnya. Dia masih begitu asik menikmati otot-otot Daniel. Sesuatu yang sudah lama ia tahan akhirnya terlampiaskan juga. Tapi semua itu buyar ketika suara alaram berbunyi.


"Itu suara alaram, tapi kenapa aku belum bangun?" raut wajah bingung itu menatap Daniel yang tersenyum. Lina tersentak dan langsung duduk. Ia berbalik meraih jam alaram yang ada di atas meja. "Tunggu, jangan katakan kalau sebenarnya aku sudah bangun dari tadi."


Daniel merangkulkan tangannya di perut Lina lalu mengelusnya. Ia meletakan dagunya di bahu Lina sambil berbisik. "Kenapa berhenti? Bukankah kau begitu menikmati seluruh otot tubuhku."


Aliran panas seketika naik sampai kepala Lina. Wajahnya merah seketika. Ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dan menyembunyikan wajah malunya.


"AAH... Lupakan itu!"


"Aku suamimu, kenapa kau malu? Kau bisa menikmatinya sepuasmu," Daniel mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Lina.


"Jangan menggodaku!" Luna berusaha menahan selimut itu.


"Seharusnya aku tidak memasang alaram, dengan begitu kau tidak akan terganggu."


"Aku mau mandi!"


Lina beranjak dari tempat tidur setelah melemparkan selimut itu ke Daniel sampai menutupi tubuhnya. Daniel menjauhkan selimut tersebut dari wajahnya. Terlihat Lina sudah melangkah masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, apa kau mau kita mandi bersama? Aku bisa membantumu menggosok punggungmu," kata Daniel dengan nada menggoda.


"Jangan masuk!" teriak Lina dari dalam.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Selesai mandi dan berpakaian, Lina dan Daniel turun ke bawah menuju ruang makan. Disana sudah ada Ducan yang sedang menikmati secangkir kopinya sambil melakukan sesuatu dengan leptopnya.


"Selamat pagi putriku, Veliana. Pagi Daniel," sapa Ducan begitu melihat mereka.


"Pagi ayah," sapa mereka balik. Lina dan Daniel mengambil tempat duduk dimana mereka duduk saat makan malam semalam. Para pelayan dengan cekatan menyajikan sarapan untuk mereka.


"Kau terlihat segar pagi ini, sayang. Kau seperti kuncup bunga yang baru mekar," kata Ducan setelah menutup leptopnya.


"Kuncup bunga yang baru mekar ini mengingaunya kelewatan," ejek Daniel masih menggukit kejadian tadi.


Lina mencubit pinggang Daniel sambil tersenyum padanya. "Coba katakan sekali lagi."


"Aduuh... Ampun sayang. Becanda."


"Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" batin Ducan yang sedikit kebingungan. "Oh, iya Lina. Aku sudah menghubungi Joe untuk mengajaknya bertemu. Akhir pekan ini ia baru memiliki jadwal kosong."


"Akhir pekan ini, bukan masalah. Kita tidak perlu terlalu buru-buru."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2