Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Makan siang bersama


__ADS_3

Selesai mandi dan berpakaian Daniel dan Lina turun ke ruang makan. Sampai disana sudah ada Rayner, Briety dan Via yang menunggu. Tepat di atas meja beberapa makanan menggugah selera telah tersaji. Lina dan Daniel mengambil tempat duduk dihadapan Briety dan Via.


"Kalian bedua akhirnya turun juga," kata Via sebelum menyuapkan makan ke dalam mulutnya.


"Maaf. Kami pasti membuat kalian menunggu lama," kata Lina.


"Kalian bisa makan duluan, tidak harus menunggu kami, kan?" Daniel menuangkan air minum untuk Lina.


"Ibumu mau makan bersama," jawab Rayner.


"Tidak ada salahnya, kan? Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini. Terlebih lagi sekarang aku memiliki seorang menantu yang sedang hamil besar," lirik Briety pada Lina.


"Ibu kan bisa membangunkan kami lebih awal dari pada harus menunggu kami bangun sendiri. Jadi makan siangnya bisa tepat waktu," Daniel melirik jam tangannya yang menunjukan waktu makan siang sudah terlewat cukup jauh.


"Mana tega aku membangunkan kalian berdua. Kalian pasti lelah setelah apa yang terjadi semalam. Terutama kau menantuku. Aku memintamu untuk istirahat sepanjang waktu hari ini. Kau tidak boleh melakukan kegiatan apapun tanpa terkecuali. Aku akan mengawasi mu," tegas Briety.


"Tapi sore ini adalah eksekusi Tn. Stevan."


"Tetap tidak boleh. Kalau mau eksekusi kau bisa menyuruh orang lain saja. Kau cukup menikmati penderitaan dari paman bajinganmu itu."


"Hah... Baiklah," Lina sedikit kecewa tapi apa yang dikatakan Briety benar. Tenanganya masih belum pulih sepenuhnya untuk bermain bersama Stevan.


"Em... Ngomong-ngomong sayang, kenapa wajahmu sedikit merona saat baru datang tadi?" tanya Briety pada Lina.


"Apa?!" wajah Lina seketika kembali memerah begitu mendengar pertanyaan itu. Ia berkedip beberapa kali lalu mengalihkan pandangnya ke makanannya. "Tidak, tidak ada apa-apa."


Briety melirik Daniel dengan senyum nakal diwajahnya. "Daniel... Apa yang kau lakukan pada istrimu?"


"Jangan sembarangan berpikir ibu. Kami cuman mandi bersama di kolam pemandian yang baru selesai dibangun. Siapa sangkah menantumu ini masih pemalu dihadapan suami sendiri," kata Daniel menggoda Lina.


"Daniel, jangan menggebuskan nafasmu di telingaku!" Lina seketika menutup telinganya. "Atau aku akan memukulmu seperti tadi!"


"Tidak, tidak lagi," Daniel mengusap kepalanya sambil berbisik. "Pukulan tadi saja masih terasa sakit. Dia memang sungguh kucing yang galak."


"Apa katamu?" Lina mengepalkan tinjunya di hadapan Daniel.

__ADS_1


"Becanda."


"Hahaha.... Tidak aku sangka ternyata putraku bisa nakal juga. Benar kata orang-orang, kalau pria tangguh bisa tidak berdaya dihadapan istrinya sendiri," ujar Rayner begitu melihat tingkah Daniel dan Lina.


"Benarkah? Apa itu yang terjadi pada ayah?" Daniel membalik kalimat itu pada ayahnya.


"Hah?! Itu, itu... Tentu saja tidak."


"Alah. Ayah jangan berbohong. Ayah juga tidak akan berdaya kalau ibu sudah meminta ditemani berbelanja," potong Via.


"Via...!"


"Sudahlah. Terkadang tingkah kalian sendiri yang menjengkelkan. Hal wajar kalau kami kesal karna nya," lerai Briety.


"Aku cuman meniup telinga nya saja, tapi dia sudah marah," dengan hati-hati Daniel melirik Lina yang masih cemberut. "Namun aku suka melihat ekspresinya itu."


"Tubuh wanita hamil memang akan lebih sensitif dari biasanya. Apa lagi disaat semakin mendekati bulan persalinannya nanti. Sebab itu ia mudah marah padamu jika kau melakukan hal seperti itu. Kau jangan selalu sering menyiksanya Daniel," jelas Briety.


"Apa itu benar?" tanya Daniel melirik ke Lina.


"Makan pelan-pelan. Lihatlah dirimu sampai belepotan gitu," Daniel mengelap saus yang menempel di ujung bibir Lina menggunakan jempolnya.


Tidak ada percakapan diantara mereka setelahnya. Senyap sebentar lalu Daniel bertanya begitu baru sadar kalau ada satu orang yang tidak bersama mereka.


"Oh, iya. Dimana kakek? Bagaimana dengan keadaannya sekarang?"


"Benar juga. Apa tuan besar Flors masih istirahat di kamar?" kata Lina yang juga baru sadar


"Dia kembali kediaman jam 09.30 tadi, katanya ada urusan yang mau diselesaikan," jelas Rayner.


"Urusan apa itu? Mengingat kondisi tubuh tuan besar Flors masih ada racun, ia harus banyak-banyak istirahat," kata Lina.


"Aku sudah memintanya untuk tetap tinggal tapi ia ngotot ingin kembali. Katanya keadaan tubuhnya sudah lebih baik berkat obat yang kau berikan semalam. Aku tidak bisa mencengatnya."


"Apa racun ditubuh kakek belum hilang sepenuhnya?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Obat yang aku berikan itu cuman sekedar menahan racunnya untuk beberapa bulan saja. Tapi jaga khawatir. Aku akan berusaha menemukan obat penawarnya dalam jangka waktu tersebut."


Rayner terlihat menarik nafas panjang lalu menghebuskannya perlahan. "Lina, aku tahu kau begitu peduli pada ayahku, namun... Sebelum pergi ia berpesan padaku agar kau jangan memaksakan diri untuk menemukan obat penawar tersebut. Ia sudah banyak berhutang budi pada ibumu dan sekarang padamu. Ia tidak tahu harus bagaimana membalas semua itu."


"Aku tidak memintanya untuk membalas. Aku melakukan ini dengan sepenuh hatiku. Aku mohon katakan pada tuan besar Flors, aku tidak akan menyerah untuk menemukan obat penawar tersebut."


"Kakek juga sempat bilang padaku kalau ia sangat bersyukur diberi kesempatan hidup beberapa bulan lagi, setidaknya itu sampai ia bisa melihat cicitnya dan dapat menghadiri upacara pernikahan kakak," Via menyekat air mata yang mengalir di ujung matanya. "Ia bilang kalau dirinya sudah hidup cukup lama dan mungkin ini memang waktunya ia menemui istrinya."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Sore harinya, Lina dan Daniel menemui Stevan di ruang penjara bawah tanah. Keadaan Stevan sangat memprihatinkan. Ia sudah lelah memberontak melepaskan diri dan berteriak seharian setelah sadar dari pingsan nya.


"Bagaimana kabarmu Tn. Stevan?"' sapa Lina begitu mendekat.


Stevan mengangkat wajahnya disaat melihat Lina dan Daniel datang. "Kau... Benginikah caramu memperlakukan pamanmu sendiri? Dengan merantainya di dalam penjara?"


"Oh, maafkan aku paman. Kau benar. Tidak seharusnya kami merantaimu disini. Mungkin aku harus memperlakukanmu dengan ramah tama sebagai keluarga. Tidak! Orang sepertimu harusnya disiksa dengan sangat keji!!" tatapan Lina berubah menajam menatap Stevan.


"Apa yang mau kau lakukan padaku? Apa kau mau memutilasiku menjadi beberapa bagian, mengoyak isi perutku, atau memenggal kepalaku? Ha, aku tidak yakin kau berani melakukannya. Kau itu cuman gadis kecil yang lemah!"


"Aku memang ingin melakukan itu tapi aku terlalu malas melakukannya hari ini. Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan jenis penyiksaan yang cocok untuk mu, dan itu akan dilakukan diluar. Jadi kau bisa menikmati pemandangan indah sebelum ajal menjemput."


"Diluar? Itu cukup bagus aku memiliki sedikit peluang untuk melarikan diri. Aku akan membalas atas penghinaan ini berlipat ganda padamu," batin Stevan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2