Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Balasan untuk Tn. Vincent


__ADS_3

"Senapang M21? Bagaimana bisa ia dapat menyusupkannya ke sekolah ini? Pasti itu sulit sekali," kata Julius dalam hati.


Julius ikut melihat ke arah mana Marjorie membidik untuk sedikit mencari tahu siapa yang menjadi targetnya. Rupa-rupanya target Marjorie kali ini adalah Tn. Vincent yang sedang duduk santai di kantornya.


"Aku tidak akan memaafkanmu, Tn. Vincent! Bersiaplah menemui ajalmu."


"Setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat lagi Death knell beraksi."


"Ha?!"


Marjorie tersentak kaget begitu mendengar kalimat tersebut muncul dari belakangnya. Hal itu membuat ia tanpa sengaja menarik pelatuk yang menyebabkan peluru pada senjatahnya meluncur bebas namun meleset dari targenya. Peluru itu malah menembus tembok gedung sekolah. Dengan sangat kesal Marjorie menoleh ke belakang. Ia cukup kaget saat mendapati ternyata orang itu adalah Julius.


"Ju-Julius?!" teriak Marjorie sangking kaget nya dan sontak berdiri. "A, apa yang kau lakukan disini? Aku tidak... Aku bisa jelaskan."


"Tidak perlu mengelak lagi. Aku sudah cukup lama ada disini dan memperhatikan dirimu. Lagi pula, bagaimana kau bisa menjelaskan senjata itu?"


Karna merasa tersudut dan tak mungkin bisa mengelak lagi, Marjorie tiba-tiba mengeluarkan sebila pisau, kemudian mengacungkannya tepat ke leher Julius.


"Kalau seperti itu, aku terpaksa harus membungkam mulutmu dan cara yang paling dapat dipercaya adalah kematian."


Marjorie seketika langsung menyerang Julius. Sebisa mungkin Julius menghindari setiap arah dari ayunan pisau tersebut. Namun ada sedikit keanehan disini. Sangat jelas terlihat tangan Marjorie gemetar saat menyerang Julius. Itu menandakan ia tidak sanggup membunuh pria di depannya ini. Ada apa dengannya? Biasanya ia dapat dengan beringas membunuh seseorang tanpa pikir panjang. Tapi kenapa dengan Julius ia sama sekali tidak bisa melakukannya. Mengores kulit Julius sedikit saja sudah membuat Marjorie merasa bersalah. Mengetahui lawannya tidak berniat membunuhnya, Julius mengambil kesempatan untuk menendang pisau yang ada di tangan Marjorie sampai terpental jauh.


"Aw!" rintih Marjorie. Ia mengelus pelan tangannya sakit akibat terkena tendangan dari Julius.


"Tidak perlu sampai segitunya. Aku sudah tahu siapa dirimu sejak lama. Jika aku ingin mengungkapkannya, sudah lama aku lakukan itu. Kau tidak perlu khawatir, Death knell."


"Lagi-lagi dia memanggilku dengan nama itu. Sepertinya tidak perlu berpura-pura lagi," batin Marjorie. "Siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau tahu kalau aku adalah Death knell? Aku sudah lama tidak mengunakan nama itu lagi."

__ADS_1


"Anggap saja kita perna bertemu."


"Bertemu?" Marjorie mencoba mengingat-ingat wajah pria di depannya ini tapi tidak ada satupun ingatan kalau mereka perna bertemu sebelumnya.


"Jadi, apa aku boleh tahu. Apa alasannya kau mau menghabisi kepalah sekolah? Aku yakin ini tidak termasuk misimu," tanya Julius mengalihkan pembicaraan.


"Misi?" kalimat tersebut membuat Marjorie tersadar dari lamunannya. "Apa kau juga tahu tentang misiku?" tanya nya dengan tatapan dingin.


"Pertanyaan konyol apa itu? Aku yakin orang yang ada di belakangmu bukanlah orang sembarangan. Kerahasiaan sebuah misi pasti sangat terjamin, selagi kau tidak ceroboh. Hei, aku ini cuman tahu identitasmu, bukan mengurusi pekerjaanmu. Lagi pula kurang kerjaan apa aku mengetahuinya, kecuali itu berkaitan denganku atau keluargaku. Selebihnya tidak penting."


"Apa orang ini bisa dipercaya? Tapi apa yang dikatakannya benar juga. Setiap misi dari Lady Blue diberikan dengan sangat hati-hati. Kecil kemungkinan dapat bocor keluar," pikir Marjorie. "Baik. Mengingat kau adakah kakak Julia, aku akan membebaskan mu kali ini. Tapi aku tekatkan satu hal. Jangan perna sesekali memberitahu siapapun tentang apa yang kau lihat hari ini atau aku tidak akan segan-segan lagi padamu!"


"Baiklah, nona. Tapi kalau boleh aku sarankan padamu, sebaiknya redakan amarahmu pada orang tua itu. Tidak ada gunanya juga membunuhnya sekarang. Itu malah akan menimbulkan masalah."


"Ha! Kau bilang tadi tidak sudi mengurusi pekerjaan orang lain. Kanapa kali ini kau mau ikut campur?"


Akibat kata-kata Julius membuat Marjorie berpikir ulang ingin membunuh Tn. Vincent. Seharusnya Marjorie sudah tahu jelas soal ini. Tidak diperbolehkan masalah pribadi ikut masuk ke dalam sebuah misi atau bahkan sampai menggangu jalannya misi tersebut. Marjorie menghela nafas panjang. Ia menghampiri senjatanya lalu kembali membidik sasaran. Julius membiarkan apa yang mau Marjorie lakukan. Marjorie menarik pelatuk setelah yakin telah berhasil mengunci sasarannya. Satu buah puluru melesat cepat menuju target, menembus jendela kaca lalu berakhir menghantam komputer milik kepalah sekolah sampai menyebabkan ledakan dan membakar komputer tersebut. Tn. Vincent yang kaget dengan suara ledakan begegas keluar dari toilet. Ia nampa sangat terkejut begitu mengetahui komputernya telah terbakar. Alat pendeteksi asap yang dipasang di dalam ruangan tersebut seketika aktif dan secara otomatis menyemprotkan air untuk membantu memadamkan api. Tn. Vincent hanya bisa terduduk pasrah dalam guyuran hujan dalam ruangan tersebut.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam pelajaran olahraga. Julia baru selesai melakukan lari bersama lima kali keliling lapangan. Bersama teman sekelasnya yang lain, ia duduk sebentar dilapangan sambil menghilang penat. Diatur nafasnya perlahan yang terasa berat di dada. Julia melirik ke temannya yang lain yang terlihat sama lelahnya seperti dia. Namun tiba-tiba, selang beberapa menit beristirahat, Julia merasakan rasa sedikit pusing di kepalanya dan diringin dengan rasa sakit yang menusuk. Ia mencengkram kuat kepalanya menahan rasa sakit itu yang tidak teramat menyiksanya.


"Aduuh... Kepalaku sedikit sakit hari ini. Kenapa ya? Apa karna obat baru yang mama kirimkan untukku itu? Mama bilang kalau obatnya sedikit berbeda dari biasanya dan kemungkinan memiliki efek samping. Lebih baik aku tanyakan pada mama saja soal ini."


Julia memijit-mijit kepalanya untuk meredakan rasa sakit yang menyerang. Tak lama rasa sakit tersebut perlahan-lahan menghilang dengan sendirinya.


"Kau kenapa Julia? Wajahmu sedikit pucat hari ini," tanya Nisa yang duduk disebelah Julia.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja."


"Apa kau yakin? Apa sebaiknya kau izin ke ruang kesehatan saja? Aku akan mengantar mu," Nisa berdiri dan hendak mengajak Julia ke ruang kesehatan.


"Tidak, tidak perlu sampai segitunya," dengan cepat Julia menolak karna memang rasa sakit yang ia rasakan sudah menghilang. "Aku sungguh baik-baik saja."


"Apa benar? Jika ada yang kau rasakan, pusing atau sakit dibagian apapun, cepat-cepat beritahu padaku," kata Nisa dengan nada khawatir.


"Iya."


"Apa kau mau minum? Kulihat kau belum minum tadi," Nisa menyodorkan sebotol air mineral pada Julia.


"Terima kasih banyak Nisa."


Julia menerima botol tersebut dan langsung meminum isinya. Air dingin dari kemasan tersebut cukup menghilangkan dahaga Julia dan mengembalikan cairan tubuhnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2