Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kericuhan di Casino


__ADS_3

"Julius, kau tidak apa-apa, kan? Kau sudah makan 5 kue Lotus," tanya Jeffri.


"Aku baik-baik saja. Biarpun kau memberikan sebotol anggur, aku tidak akan mabuk."


"Kau terlihat sudah terbiasa minum minuman beralkohol, pada hal kita masih belum cukup umur," ujar Carl.


"Cukup umur atau tidak, ini juga kali pertama aku makan makanan yang mengandung alkohol. Jika mamaku tahu soal ini, aku bisa mati."


"Julius, sepertinya kau sudah mulai mabuk."


"Sembarangan kau bilang! Aku tidak mabuk!"


Bola yang dilempar dealer mulai berputar di dalam meja beroda berisi angka dan warna. Perlahan bola tersebut berhenti di salah satu peta angka.


"Wah... Sangat di sayangkan sepertinya keberuntung tidak lagi berpihak pada tuan muda ini. Pemenangnya adalah Tn. Geraldo!" kata dealer itu mengumumkan.


"Haha... Rasakan itu bocah! Akulah pemenangnya."


"Mungkin kau menang di ronden ini, tapi dari total keseluruhan 15 ronde yang ada aku lah pemenangnya. Aku sudah menang sebanyak 9 kali dan kau cuman 6 kali."


"AAAAHH ! ! ! Aku tidak terima ini!" teriak Tn. Geraldo sambil berdiri.


Karna tidak terima atas kekalahannya, Tn. Geraldo melemparkan semua chip yang menjadi bahan taruhannya. Semua chip tersebut berhamburan di hadapan dearel Casino. Tidak sampai disitu, ia juga hendak menyerang Julius. Beruntung Julius dengan cepat menghindar dari serangan botol anggur yang diluncurkan Tn. Geraldo padanya. Botol anggur tersebut hancur berantakan menumpahkan apa yang ada di dalamnya. Semua orang dalam Casino kaget atas apa yang terjadi. Sebagian dari mereka berlari keluar dari Casino untuk menghindari amukan dari anggota Dragon yang terkenal beringas. Seluruh stap keamanan mencoba melerai kekacauan itu tapi mereka malah mendapat serangan dari para anak buah Tn. Geraldo.


"Hei, pak tua. Kalau kalah ya kalah saja. Tidak perlu membuat keributan disini," kata Julius dengan nada ejekan.


"Julius, kau jangan semakin memancingnya. Orang itu sedang dalam pengaruh alkohol," cegat Carl.


"AAH!!! Dasar kau bocah! Kau sungguh berani dengan ku. Kawan-kawan, hajar bocah ini!" perintah Tn. Geraldo.


"Baik bos"

__ADS_1


Semua anak buah Tn. Geraldo seketika menyerang Julius. Melihat keadaannya semakin gawat, Jeffry dan Carl mencoba membantu menyerang. Namun belum sempat mereka bergerak, Julius sudah duluan menghabisi orang-orang tersebut yang terdiri dari delapan sampai sepuluh orang itu. Pertarungan sengit terjadi. Walau Julius kalah jumlah tapi ia terlihat lebih unggul. Para anak buah Tn. Geraldo dengan cepat tersungkur ke lantai atau ada diantara mereka yang terpental menghatam deretan meja dan kursi.


Tn. Geraldo yang melihat anak buahnya dengan mudah dikalahkan oleh seorang remaja tentu tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan pistol nya dan hendak menembak Julius. Jeffri yang menyadari itu seketika mengambil patahan kayu dari meja yang terbelah, lalu melemparkannya. Patahan kayu tersebut tepat mengenai tangan Tn. Geraldo sehingga pistol yang dipegangnya telempar jauh.


"Terima kasih Jeffri."


"Bukan masalah temanku."


Perkelahian itu kembali berlanjut. Beberapa orang yang masih kuat berdiri tidak segan-segan menyerang dengan botol-botol kaca dan patahan kayu yang ada. Namun hal ini sama sekali tidak membuat Julius kesulitan melawan mereka, apalagi Jeffri dan Carl ikut membantunya. Tidak butuh waktu lama, semua anak buah Tn. Geraldo tumbang seketika. Tinggallah Tn. Geraldo yang masih dalam keadaan sadar tapi wajahnya sudah dipenuhi lebam dan darah segar mengalir di pelipisnya.


"Hah! Apa cuman ini kemampuan dari anggota Dragon? Lemah! Sebaiknya kalian pulang dan berlatih lagi sana," ujar Julius sambil melangkah mendekati Tn. Geraldo.


"Kau... Aku pasti akan melaporkan hal ini pada tuan besar. Lihat saja nanti, akan kubuat kau tidak dapat melihat dunia ini lagi!" teriak Tn. Geraldo masih sempat-sempatnya mengancam.


"Sebagai orang yang sudah tua kau itu banyak ngomonya juga ya."


Bugk!


"Julius, apa kau tidak takut mereka akan balas dendam?" tanya Carl yang khawatir.


"Biarpun bos mereka ada disini aku tidak takut. Jeffri, maaf merepotkan mu kali ini. Bisa tolong aku titip mereka sebentar? Nanti ada seseorang yang akan menjemputnya," pinta Julius pada Jeffri.


"Baiklah."


Jeffri lalu memerintahkan beberapa pegawai Casino untuk membantu memindahkan orang-orang tersebut dan mengikatnya.


"Oh ya. Jangan pikirkan seluruh kerusakan yang ada. Aku akan bertanggung jawab dan menggantinya. Aku mau cari udara segar," Julius melangkah pergi keluar.


"Julius! Kau tidak mau mengobati mu luka dulu?" panggil Carl.


"Tidak perlu. Ini cuman luka kecil."

__ADS_1


Diluar, Julius menghampiri sebuah taman kecil yang ada di seberang Casino. Taman yang sepi dengan penerangan lampu taman yang minim membuat taman tersebut sedikit gelap. Setiap langkah Julius menyelusuri taman itu terasa semakin melemah. Ia berhenti sebentar dan bersandar pada sebatang pohon yang ada disana.


"Aduh... Sepertinya kandungan alkohol dalam kue itu memang cukup tinggi, kepalaku terasa pusing."


Julius sedikit memijit bagian kepalanya namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lengket dan basa di telapak tangannya. Dengan cepat Julius menurunkan tangannya dan melihat apa itu.


"Darah?!"


Sedikit terkejut mengetahui kalau kepalanya terluka, tapi pandangannya cepat teralihkan ketika melihat Marjorie di ujung taman. Dengan setelan serba hitam dan rambut pirang terurainya, Marjorie melangkah masuk ke sebuah hotel bintang tiga dengan hotel bernama Tiffany.


"Eh, Bukankah itu Death knell? Apa yang dia lakukan datang ke hotel malam-malam begini? Tunggu, aku tidak mungkin salah lihat karna pengaruh alkohol, kan? Sebaiknya aku mengikutinya untuk memastikan apa itu memang benar dia."


Tanpa memperdulikan luka di kepalanya, Julius bergegas masuk ke hotel yang dimana Marjorie baru saja memasukinya tadi. Dengan mengendap-endap dan menghindari stap pegawai hotel, Julius melihat Marjoriet memasuki pintu lif dan naik ke lantai 6. Tidak mau kehilangan jejak, Julius memanfaatkan tangga dan segera naik ke lantai 6. Julius beruntung begitu sampai di lantai 6, ia mendapiti Marjorie berdiri di salah satu pintu kamar. Pintu kamar tersebut terbuka setelah ia mengetuk pintu. Seorang pria berdiri di depan pintu dan terlihat berbincang dengan Marjorie.


"Hei, itukan bos dari kasus penyaderaan di mall siang tadi. Apa hubungan ia dengan Marjorie?" pikir Julius.


Selang beberapa saat kemudian pria itu mempersilakan Marjorie masuk. Julius bergegas menghampiri pintu kamar tersebut, namun ia kurang cepat. Pintu itu telah menutup dan terkunci. Julius mencoba menempelkan telinganya ke daun pintu untuk mendengar percakapan yang terjadi di dalan. Tapi sayangnya kamar tersebut kedap suara.


"Sial! Andai Julia ada disini, aku bisa memintanya untuk memasang alat menyadap di dalam sana."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2