
Dihadapan Julia, ia mengulurkan tangannya meminta kembali tanda pengenal tersebut. Tapi Julia tidak segera memberikan tanda pengenal itu. Ia malah melemparkanmya ke udara dan menangkapnya kembali. Tidak sampai disitu, Julia juga melakukan trik sulap kecil untuk mempermainkan salah satu bawahan terpercaya papanya itu. Norman dibuat kerepotan sendiri merebut kembali tanda pengenalnya.
"Sudah cukup nona, kembalikan tanda pengenal ku," kata Norman dengan lembut.
"Baiklah, ini aku kembalikan," Julia memberikan tanda pengenal tersebut kembali pada pemilik aslinya. "Jangan sampai dihilangkan lagi."
"Tidak akan," sebagai balasan atas keusilan Julia, Norman mengacak-acak rambut Julia sampai berantakan.
"Aah... Jangan mengacak-acak rambutku!" dengan wajah cemberut Julia merapikan kembali rambutnya yang berantakan
"Hahaha... Itu hukuman untukmu. Selamat malam."
Norman melangkah pergi dan tidak memperdulikan raut wajah semua orang yang terdiam melihatnya. Apa benar dia anggota elit Black Mamba yang dikenal kejam? Bagaimana bisa aura mengerikannya tadi hilang seketika dihadapan gadis kecil yang bertingkah manis?
"Ju-Julia, apa kau sungguh tidak tahu apa yang telah kau lakukan barusan?" tanya Sean.
"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku cuman mengembalikan barang milik paman itu."
"Apa kau tahu siapa dia?"
"Memangnya aku harus berkenalan dulu dengannya, menanyakan pekerjaannya, alamat rumahnya, menanyakan anggota keluarganya yang lain, hanya untuk mengembalikan barang?"
"Hah?" Sean kehabisan kata-kata. "Aku tidak tahu apa yang ada di dalam otak gadis ini. Apa ia sungguh mengatakan semua itu dalam kepolosan semata? Tapi aku akui sih, sekelas anggota elit Black Mamba saja dibuat tidak berdaya dihadapan wajah imut Julia. Aku perna dengar sekilas rumor seram tentang anggota Black Mamba. Tidak aku sangka ku dapat bertemu dengan mereka yang sebenarnya disini."
"Tunggu Tn. Norman!" panggil Rica sambil menghampiri. Hal itu membuat langkah Norman terhenti. "Mumpung anda ada disini. Kenapa tidak mampir sebentar untuk menikmati pesta ini? Kami memiliki anggur spesial khas yang paling terkenal di pulau Balvana. Benarkan paman Zack?"
"Oh, iya. Itu, itu benar sekali. Izinkan saya menjamu anda. Kita bisa ngobrol sebentar sambil menikmati minuman anggur yang memang saya pesan khusus untuk malam ini," kata Zack yang segera mengerti maksud Rica.
Rica berpikir dapat merayu Norman untuk membuat ikatan baik dengan paman nya. Setelah apa yang terjadi, Zack memang dibuat malu karna orang yang dianggapnya sebagai teman yang mengaku anggota Black Mamba itu ternyata hanyalah seorang penipu. Rica juga malu terutama pada Yursa. Mengetahui sifat Norman bisa lembut pada gadis yang bertingkah manis seperti Julia tadi membuat Rica berpikir dapat melakukan hal yang sama. Ia berharap dengan wajah cantik dan tutur kata lemah gemulainya mampu membuat Norman menerima tawarannya.
"Aku tidak punya waktu untuk berlama-lama di pesta kecil kalian. Dan kau..." lirik Norman pada Rica dengan ekspresi dingin. "Aku tidak suka dengan nada bicara mu yang mirip gadis penghibur, itu sungguh membuatku jijik."
Norman kemudian melangkah pergi. Ia berharap tidak ada lagi yang mencegatnya. Ia harus cepat-cepat kembali sebelum Daniel tahu kepergiannya yang tiba-tiba ke pulau Balvana. Hal tersebut bisa menjadi masalah besar.
__ADS_1
"Ffttt...." Julia berputar arah membelakangi semua orang sambil berusaha menahan tawanya.
"Hihi... Nona dari keluarga Pinkston ini benar-benar lucu," ujar salah satu dari para tamu undangan yang juga berusaha menahan tawa.
"Iya. Dia berpikir bisa merayu Tn. Norman sama seperti yang dilakukan gadis kecil tadi."
"Tapi nyatanya dia malah dipermalukan."
"Sungguh kasihan."
Beberapa komentar dari tamu undangan memaksa Rica menutup kedua telinganya. Ia sedikit tramua mendengar setiap ejekan serta suara tawa yang dulu perna ia alami di pesta perjamuan keluarga Flora dulu. Kejadiannya persi sama seperti malam ini. Semua orang tertawa melihatnya sambi terus berbisik antara satu sama lain.
"Sudah cukup diam kalian semuanya!!!" bentak Rica yang tidak tahan lagi. Ia berlari pergi naik ke lantai dua restoran.
"Rica!" panggil ibunya yang bergegas pergi menyusul putrinya.
"Wow, aku tidak berpikir itu akan terjadi," ujar Julia.
"Aku merasa tidak melakukan apa-apa. Aku seperti diundang sebagai penonton," sambung Febby yang juga berjalan mendekat.
"Aku sempat berpikir ia mungkin mencoba menumpahkan minuman pada kita atau melakukan sesuatu yang membuat kita malu, tapi nyatanya hal itu tidak terjadi sama sekali."
"Kalian bertiga rupanya sudah merencanakan sesuatu untuk mempermalukan Rica. Kalian ini gadis yang nakal juga ya," kata Sean yang sendari tadi mendengar percakapan tiga sahabat itu.
"Jangan salahkan kami jika dia duluan yang memiliki maksud jahat. Kami cuman membela diri."
"Hei, teman-teman kita cari udara segar yuk," ajak Nisa.
"Ide bagus. Aku juga sudah merasa pegap dengan bau alkohol disini," Wendy dengan cepat menyetujuinya.
Mereka berempat beranjak pergi mencari udara segar. Udara dalam ruangan pesta itu mamang dipenuhi dengan bau alkohol yang mulai menyengat. Menciumnya saja sudah membuat kepala pusing. Tujuan mereka adalah atap restoran tersebut. Tempat yang sepi dan tidak perlu khawatir terganggu oleh kebisingan suara pesta.
"Hei, aku juga ikut!" teriak Sean yang berlari menyusul para gadis.
__ADS_1
"Kenapa kau juga ikut?" tanya Julia pada Sean yang mengikuti mereka menaiki tangga. "Apa kau tidak malu laki-laki sendiri diantara kami? Nanti orang berpikir kalau tuan muda dari keluarga Gelael bertemannya bersama wanita," ejek Julia.
"Tidak. Aku malahah merasa menjadi pageran yang dikelilingi gadis-gadis cantik dan satu pendekar kucing perkasa," balas Sean mengejek.
"Siapa kau panggil pendekar dan kenapa ada kata kucing?" tatapan tajam seketika Julia arahkan pada Sean.
"Tentu saja kau, memangnya siapa lagi? Mereka berempat terlihat anggun sama seperti tuan putri, sedangkan dirimu..." Sean melirik Julia dari bawah sampai atas. Wajah cemberut Julia bertambah mengerikan di bawah pencahayaan lampu yang tersedia di atap restoran.
"Katakan sekali lagi, maka akan aku laporkan hal ini pada kakakku. Kita lihat apa yang bisa dia lakukan padamu," ancam Julia.
"Et, dia bisa mencincangku," batin Sean begitu mengingat raut wajah Julius yang dingin. "Hei, aku cuman bercanda."
"Kalian tahu, melihat kedekatan tuan muda Gelael dan Julia membuatku berpikir mereka adalah pasangan yang serasi," ujar Fabby yang sendari tadi terus memperhatikan Sean dan Julia.
"Apa?! Jangan bicara sembarangan Febby. Mana mungkin aku dan dia..." protes Julia tidak terima.
"Aku setuju dengan Febby. Walau kalian sering bertengkar tapi kalian benar-benar cocok. Pertengkaran kalian romantis," kata Wendy tanpa melirik pada mereka berdua. Pandangannya lebih fokus ke laut malam yang indah.
"Romantis nenekmu!" kali ini Julia meninggikan suaranya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1