
Daniel kembali mengejar Lina seperti seekor kucing mengejar tikut, apalagi disaat Lina memakaikan bando bertelinga kucing di atas kepala Daniel.
"Apa kau sudah menyerah?" tanya Lina yang masih berlari, namun ia tidak menyadari kalau Daniel tidak mengejar lagi.
"Istri kecilku," panggil Daniel menggoda membuat Lina menoleh.
"Ffttt..." Lina menutup mulutnya dengan keadaan telunjuk tepat dibawah hidungnya ketika melihat Daniel berbaring di sofa sambil memamerkan otot-ototnya. "Ke, kenapa kau membuka bajumu?"
"Kenapa?" Daniel berdiri lalu berjalan pelan mendekati Lina. "Aku menggunakan cara yang sama sepertimu. Yang membedakannya, kalau kau yang melakukannya akan membuatku bersemangat, sedangkan kalau aku yang melakukannya membuatmu mematung. Dapat kau," Daniel mencengkram tangan Lina dan memojokannya di tembok.
"Kau curang."
"Kau tidak membuat peraturan. Jadi aku menang. Kau harus memberiku hadiah."
"Oh, kau mau hadiah apa?"
"Aku ingin seorang bayi lagi darimu," bisik Daniel dengan tangannya diletakan di perut Lina. "Mau kah kau hamil lagi untukku?"
"Seorang bayi? Aku mala ingin dua."
"Boleh, asalkan bukan kembar."
"Kenapa? Apakah kau tidak bersedia memiliki bayi kembar?"
"Bukan tidak bersedia. Aku tidak mau melihatmu seperti dulu. Melahirkan bayi kembar tidaklah mudah."
"Tenang saja. Kecil kemungkinan aku akan hamil bayi kembar lagi. Tapi bukan berarti tidak."
"Senang mendengarnya," Daniel menggendong tubuh Lina dan membaringkannya di atas ranjang. "Setelah mendapatkan persetujuan istriku, aku tidak akan ragu lagi."
"Hei, kau harus pelan."
Daniel tidak menjawab. Ia memberi kecupan di bibi manis merah delima Lina dengan tekanan panas.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
__ADS_1
Disisi lain yang jauh dari kediaman. Bandar udara internasional baru saja menerima kedatangan pesawat yang mengangkat ratusan penumpang dari belahan bumi nan jauh. Begitu pesawat mendarat dengan sempurna, para penumpang dipersilakan turun. Dari ratusan penumpang itu, ada satu orang yang tidak diharapkan. Ia akan menjadi pengacau dari kehidupan tenang Daniel dan Lina selama lima tahun ini. Dan juga orang yang bertanggung jawab membuat cerita ini semakin panjang, tapi kalau tidak ada dia nanti mala tidak seru. Mari kita sambut sang antagonis, Violet.
"Lina, aku kembali. Sudah lebih dari lima tahun kubiarkan kehidupan mu menjadi begitu tenang. Apa kabarmu? Akan kuat hidupmu menjadi hancur!"
Violet memakai kaca mata hitamnya. Ia berjalan keluar dari bandara sambil menarik kopernya. Tepat di pintu keluar bandara sudah ada seorang pria mengenakan setelan jas hitam membukakan pintu mobil untuknya. Violet melangkah masuk ke dalam mobil tersebut sebelum mobil melaju meninggalkan bandara internasional.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Haa... Haa... Sudah, cukup. Aku lelah," kata Lina yang terkulai lemas di atas tempat tidur sambil mengatur nafasnya.
Daniel menarik dirinya lalu berbaring di samping Lina. "Aku ingin mereka cepat-cepat tumbuh disini."
"Kau harus berusaha."
"Baiklah. Bagaimana kalau satu kali lagi?" Daniel menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua sampai kepala.
"Ahh! Daniel. Kau tidak memberiku istirahat."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Hari ini Lina pulang sedikit terlambat dari hari biasanya. Pekerjaannya di rumah sakit sangat menumpuk, ditambah lagi terjadi kebakaran di sebuah gedung yang berjarak lima blok dari rumah sakitnya. Asap hitam tebal membubung tinggi, tampak jelas dari balik kaca rumah sakit. Semua korban kebakaran dilarikan ke rumah sakit Ramona untuk segera mendapat pertolongan. Sangking banyaknya korban, Lina ikut turun tangan sendiri menolong korban yang hampir sebagian adalah anak-anak.
"Nona Lina langsung saja duluan ke mobil. Biar saya yang ambilkan hpnya," kata Emma sambil menyerahkan payung pada Lina, karna memang keadaan malam itu sedang turun hujan.
Lina menerima payung tersebut. "Maaf merepotkan mu Emma."
"Bukan masalah."
Emma melangkah masuk kembali ke dalam rumah sakit untuk mengambilkan hp Lina yang tertinggal di ruang kerjanya di lantai tujuh. Sedangkan Lina pergi duluan menuju mobilnya yang terparkir di parkiran belakang gedung rumah sakit. Begitu hendak membuka pintu mobil, Lina dikejutkan dengan suara di belakangnya yang membuat ia sontak berbalik.
"Lama tidak berjumpa, sayang."
"Siapa kau?"
"Tidak mengenali ku?"
__ADS_1
Wanita itu menjauhkan sedikit payung hitamnya kebelakang agar lawan bicaranya bisa mengenali ia. Betapa terkejutnya Lina begitu melihat wajahnya sendiri. Wanita yang ada di depannya seperti patulan dirinya sendiri di dalam cermin. Apa-apaan ini? Siapa dia? Apa Lina memiliki kembaran? Lina mengerutkan dahinya menatap tajam wanita tersebut.
"Aku pikir kau tidak akan kembali setelah menghilang selama bertahun-tahun, Violet."
"Kenapa tidak? Tapi aku cukup terkesan kau segera dapat mengenali ku," Violet menutup payung nya membiarkan tubuhnya diguyur air hujan.
"Biarpun kau menjadi debu, aku masih dapat mengenalimu. Kali ini, apa rencanamu? Kenapa kau merubah wajahmu sama sepertiku."
"Tidak perlu bertanya. Kau pasti telah menebak apa rencanaku. Dan untuk mencapainya aku terlebih dahulu harus membunuh mu!"
Tampa peringatan, Violet tiba-tiba menyerang Lina menggunakan pisau. Dengan mengandalkan payung di tangannya, Lina berusaha menangkis serangan tersebut. Pertarungan diantara mereka berdua tidak terelakankan. Dalam kondisi seperti ini mereka terlihat seimbang. Tidak memperdulikan air hujan yang dingin membasahi tubuh mereka serta menghanyutkan darah dari luka yang dihasilkan, mereka terus mengerahkan kekuatan masing-masing untuk saling menjatuhkan. Sampai akhirnya Lina berhasil membuat lawan ya kehilangan senjata.
"Kau kalah, Violet," Lina mengacungkan ujung payung nya tepat ke tenggorokan Violet yang telah terbaring di tanah.
"Tidak! Aku belum kalah!"
Violet tiba-tiba menembakan salah satu hiasan rambutnya yang seperti ujung sumpit ke arah Lina. Bukannya membuat Lina terluka, hiasan rambut itu mala ditangkap mulus olehnya. Violet mengambil kesempatan ini berlari masuk ke mobilnya dan berusaha kabur.
"Violet!! Tidak akan aku biarkan kau berhasil kabur kali ini!"
Lina masuk ke mobilnya, menacap gas dengan kecepatan tinggi mengejar Violet sebelum kehilangan jejak. Jalanan yang licin tidak menjadi penghalang bagi Lina untuk menambah kecepatan lagi. Tidak sia-sia latihan mengemudi bersama ayahnya selama ini. Keahlihan berkendaranya bisa dibilang cukup profesional bagi yang baru belajar melakukan manuver di jalanan.
Aksi kejar-kejaran terus berlanjut. Lina tidak akan membiarkan Violet berhasil kabur lagi. Violet melajukan mobilnya menuju jembatan tua yang merupakan jalur sepih kendaraan. Jembatan itu tidak beroperasil lagi setelah selesai pembangunan jembatan penghubung yang memungkinkan pengemudi bisa lebih cepat sampai di tujuan. Tepat di atas jembatan itu Lina menabrakan mobilnya sampai mobil Violet hampir jatuh dari jembatan tersebut.
Lina keluar dari mobilnya menghampiri mobil Violet. Ia menarik paksa tubuh Violet keluar dari mobil tersebut lalu menghempaskannya ke aspal. Dengan keadaan masih lemah sehabis kecelakaan, Violet berusaha berdiri. Ia menyekat darah yang mengalir di pelipisnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε