
"Siapa pria itu?"
"Iya adalah Tn. Flors, ayah dari tuan muda. Kami diberikan pada tuan muda sebagai hadiah karna ia telah menjadi Mafia yang ditakuti di dunia bawah tanah. Mengingat tuan muda tidak menyukai perempuan dan menganggap perempuan itu adalah makhluk yang lemah, ia menjadikan kami sebagai pelayan saja di rumah ini."
"Tapi setelah melihat asik nona Lina, mungkin tuan muda akan merubah pandangannya terhadap perempuan sebagai makhluk lemah," kata Emma dengan nada sedikit bercanda
"Kalian berdua mulai berani ya."
Mereka dikejutkan dengan kehadiran Daniel yang bersandar di pintu sambil melipat tangannya di dada dengan serigai kecil di wajahnya. Emma dan Judy tersentak kaget dan langsung bersujud minta ampun.
"Maafkan kami tuan muda. Kami tidak bermaksud..."
"Sudahlah," potong Daniel. "Berdirilah kalian berdua. Aku tidak akan mempersoalkan ini tapi diharapkan jangan perna terulang kembali! Kembali berkerja!" ujar Daniel dengan nada tegas.
"Terima kasih tuan muda."
Emma dan Judy bangkit lalu membereskan peralatan makan, piring, mangkuk yang sudah kosong. Setelah itu mereka berdua lekas pergi meninggalkan Lina dan Daniel sendirian di kamar tersebut.
"Mereka tidak salah, jangan menggertaknya," kata Lina tidak mampu memandang wajah Daniel.
"Kenapa kau memalingkan muka dariku?" tanya Daniel sambil berjalan mendekat lalu duduk di samping Lina.
"Tidak mengapa," jawab Lina ketus.
"Kau marah karna kejadian semalam? Padahal kau sendiri yang memohon sambil menangis padaku," ujar Daniel dengan nada menggoda.
__ADS_1
Pipi Lina seketika memerah ketika mengingat kejadian tersebut. "Itu... Itu, aku dalam keadaan tidak sadar."
"Benarkah? Tapi matamu terbuka. Bukankah kau sendiri yang mengatakannya, kucingku" bisik Daniel ditelinga Lina kemudian menggitnya.
Lina seketika berusaha menjauhkan dirinya dari Daniel. Ia menutupi telinganya yang digigit menggunakan kedua tangan dengan wajah semerah tomat. "Ada apa dengan orang ini? Kenapa ia begitu ahli dalam menggoda?"
Melihat tingkah Lina yang malu-malu ini membuat Daniel semakin ingin menggodanya. Daniel merangkak mendekati Lina sampai wajahnya sangat dekat dengan wajah Lina. "Aku sangat menyukai dirimu yang semalam. Kau terlihat bodoh dan polos seperti seseorang gadis kecil yang sedang mabuk."
"AAH..... Menjauh lah dariku," Lina berusaha mendorong bahu Daniel menjauh namun tenaganya tidak memungkinkan untuk itu.
"Kau sungguh kucing kecil yang galak. Tapi baiklah, aku tidak menggodamu lagi," Daniel menjauhkan dirinya dari tubuh Lina. "Aku sudah meminta cuti selama seminggu dari kampusmu. Istirahatlah baik-baik di rumah. Jangan berkeliaran, apalagi mencoba kabur."
Dengan wajah cemberut Lina tidak menjawab. Kalau bukan rencananya mau kabur, ia juga tidak akan berakhir seperti ini. Dan seharusnya Lina berterima kasih pada Daniel karna telah menyelamatkannya. Ia tidak lebih tidak bisa membayangkan kalau pria semalam bukanlah Daniel.
"Dari mana kau tahu aku ada disana?"
"Bagaimana keadaan Qazi sekarang? Ia terluka karna melindungi ku," tanya Lina dengan nada sedih.
"Dia ada dirumah sakit sekarang sedang menjalani perawatan. Luka yang dialaminya cukup serius. Dua luka tembak, retak tulang iga dan beberapa luka kecil, ia juga kehilangan banyak darah. Tapi walaupun begitu ia tidak akan mati dengan muda. Jadi jangan perlihatkan wajah sedih itu padaku. Kau dilarang mengkhawatirkan orang lain baik pria maupun wanita," kata Daniel dengan nada cemburu. Ia cemburu melihat Lina begitu peduli dengan Qazi.
Mendengar kalimat terakhir Daniel raut wajah sedih Lina Seketika berubah menjadi kerutan di dahi. "Hah? Peraturan aneh apa itu? Kau tidak bisa melarangku seenaknya tidak boleh mengkhawatirkan orang lain. Kalau aku peduli pada Qazi, itu wajar saja kan karna ia sedang terluka saat ini dan luka yang dialaminya karna melindungi ku."
"Jika aku terluka karna melindungi mu, apa kau akan mengkhawatirkan aku?" tanya Daniel tiba-tiba. Itu membuat Lina terdiam sesaat.
"Em... Itu, itu. Tentu saja," jawab Lina gugup.
__ADS_1
"Kau hanya boleh khawatir padaku, peduli padaku. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku ini hanya milikmu."
Seketika wajah Lina memerah dan tampa sadar berkata. "Jika kau hanya milikku seharusnya aku yang berkata seperti itu dan melarangmu dekat dengan gadis lain. Hmp!" Lina dengan cepat menutup mulutnya begitu ia sadar apa yang baru saja ia katakan.
Senyum jahat di wajah Daniel kembali terukir. "Kau masih marah aku makan malam dengan gadis lain? Sebab itu kau membuat gadis tersebut buang gas sembarangan dan berakibat seisi rumah ku jadi bau. Ingatlah aku belum membuat perhitungan denganmu karna masalah ini."
"Em... Itu, itu... Bagaimana bisa kau menemukan ku? Tidak mungkin karna keberungankan?" kata Lina berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak berani menatap langsung wajah Daniel.
"Aku mendapat informasi dari Qazi setelah ia sadar di rumah sakit kalau ada penembak jitu yang mau menyerang mu namun tidak berhasil. Kemudian ada sepuluh orang tiba-tiba menyerang kalian. Mendengar tentang penembak jitu hanya satu orang dalam pikiranku yang memiliki kemungkinan besar yaitu Rylie, seorang pembunuh bayaran yang adiknya Lexi terbunuh di tangan ku. Aku segera mendatangi rumahnya untuk mencarinya namun tidak bertemu. Aku menginterogasi seluruh pelayan rumah yang akhirnya aku tahu kalau Rylie ada di klub malam di pinggiran kota. Tentu saja tampa basa basi lagi aku kesana membawa beberapa anak buah ku untuk menyelamatkan mu. Tapi yang terlihat sepertinya aku terlambat datang," jelas Daniel.
Lina tersentak mendengarnya. Sampai segitunya Daniel mencarinya. Ia langsung turun tangan sendiri. Se, seberapa berharganya ia dimata Daniel, sampai-sampai Daniel berbuat sejauh ini hanya untuk mencarinya? Ia hanya gadis miskin yang selalu direndahkan oleh orang lain. Kenapa Daniel begitu memperlakukan ia seperti ini? Siapa dirinya bagi Daniel? Hanya sekedar kekasih palsu nya? Atau... ada status lain? Semua pertanyaan itu membuat hati Lina gelisah.
"Daniel, apa aku boleh bertanya sesuatu?" kata Lina dengan wajah tertunduk. Ia lalu memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. Lina sedikit ragu menanyakan hal ini, tapi ia harusnya berhak mendapat kepastian. "Siapa aku sebenarnya bagimu?"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε