
"Siapa aku sebenarnya disisimu?"
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Daniel menatap wajah yang kini memandang jauh keluar. Sebenarnya pertanyaan itu juga dipertanyakan Daniel pada dirinya sendiri. Ia juga bingung tentang perasaannya pada Lina. Cinta kah ia pada gadis di depannya ini? Ia bahkan tidak tahu apa arti cinta. Bagaimana cara mencintai seseorang? Merasa tidak mau jauh darinya, selalu ingin menggegam erat tangannya, berdebar jika begitu dekat dengannya, rela melakukan apapun demi dirinya, senang melihat senyumnya, sedih melihat air matanya, sakit melihat ia terluka, gelisah jauh darinya, marah melihatnya bersama yang lain, takut ia meninggalkannya, tak berdaya dengan wajah imutnya, malu begitu ia menatanya. Apa semua itu cinta? Jika iya, maka cinta bukan hanya sekedar menyukai wajahnya, bukan hanya sekedar menyukai lekuk tubuhnya, bukan hanya sekedar menyukai statusnya, bukan hanya sekedar menyukai seberapa kaya ia. Cinta adalah menyukai kelebihan dan menerima kekurangannya. Perasaan yang dalam dan selalu ingin bersama dengannya selamanya apapun yang terjadi. Satu pertanyaan, apa semua itu harus ada dalam sebuah hubungan cinta?
Hal ini yang membuat Daniel bimbang. Bagaimana ia tahu kalau semua itu telah cukup untuk mencintai seseorang? Apa ia akan tahu dengan sendirinya? Atau ia tidak perlu menunggu semua itu. Langsung ungkapkan saja, kalau ia tidak mau jauh dari Lina sedetikpun. Tapi, apa Lina merasakan perasaan yang sama seperti dirinya? Daniel tidak siap ditolak.
"Kau kucingku. Kalau aku mengatakan pertanyaan yang sama, apa jawabanmu?"
"Aku... Aku juga tidak tahu. Aku takut dengan perasaanku sendiri. Bagaimana menurutmu?" kini Lina menatap lurus ke mata Daniel.
"Pernahkah kau merasakan perasaan ini sebelumnya?"
"Tidak perna."
"Sama. Kita bahkan tidak tahu tentang perasaan kita sendiri. Bagaimana caranya kita memberitahu orang lain? Aku hanya pria kejam berdarah dingin. Dari kecil aku sudah terbiasa dengan bau amis darah. Apa orang sepertiku masih berhak memiliki perasaan dan... Cinta?"
"Itu tergantung. Orang sepertimu tidak perlu takut tidak memiliki pasangan. Semua gadis mengantri untuk mendapatkan cintamu tinggal kau sendiri yang memilih mana yang kau suka."
"Jika aku tidak menyukai mereka semua?"
Keadaan senyap. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai Daniel tersadar dari kesunyian mereka karna suara dering hpnya. Salah satu bawahannya mengirim sebuah pesan.
"Aku harus pergi. Istirahatlah dengan baik. Bukankah kau ingin jadi seorang ibu?" kata Daniel memecah keseriusan sambil melangka menuju pintu.
"Siapa bilang aku mau jadi seorang ibu?!!" sepertinya itu berhasil. Sikap Lina kembali seperti biasa.
"Kau sendirinya bilang. Ingin melahirkan anak untukku," godah Daniel.
"Jangan perna ungkit kejadian itu lagi!!!"
Dengan kesal Lina melemparkan bantal ke arah Daniel, tapi Daniel berhasil menangkap bantal itu lalu melemparnya kembali dan tepat mengenai wajah Lina.
"Itu hukumanmu karna telah membuat seisi rumahku jadi bau," Daniel berbalik meninggalkan Lina yang sangat kesal.
__ADS_1
"Daniel ! ! !" teriak Lina mengisi seluruh bagian Rumah.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Diruang kerja, Daniel sibuk mengetuk-ngetukan pulpennya di atas meja. Suara ketukan itu terdengar seperti detingan jam setiap detiknya. Tepat dihadapannya berdiri dua anak buahnya yang sedikit tertunduk. Sepertinya mereka telah berbuat kesalahan dan siap menerima hukuman.
"Bagaimana laporan penyelidikan kalian?" tanya Daniel dengan sorot mata tajam.
"Maaf tuan..."
Belum selesai pria tersebut bicara, Daniel sudah melemparkan pulpen itu dan tepat menyengol telinga pria tersebut. Pulpen itu berakhir menancap di papan panah dart.
"Aku tidak mau dengar lagi kata maaf. Apa hasil penyelidikan kalian?" kali ini Daniel menaikan anak panah dart yang sebenarnya di antara jarinya.
"Kami... Kami belum berhasil menemukan siapa yang telah menyerang anda, tuan muda."
Tanpa bicara Daniel melemparkan dua anak panah dart itu sekaligus dan tepat menggores telinga dua bawahannya itu. Darah menetes disana. Sama hal nya dengan pulpen tadi, dua anak pana dart itu menancap kuat di tempatnya.
"Lanjut!" kata Daniel. Ia kini memainkan pistol nya.
"Tapi kami berspekulasi bahwa orang yang menyerang tuan muda adalah tuan Samuel."
"Iya. Hanya dia yang memiliki alasan kuat untuk menyerang anda, tuan muda."
Jelas mereka secara bergantian. Mereka telah tertunduk dan pasrah saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dor! Dor!
Dua tembakan melayang melalui mereka tampa melukai mereka sedikitpun. Dua lubang hasil tembakan tercipta di papan dart. Kedua anak buah Daniel itu sedikit menari nafas lega. Tapi...
"Kembalilah ke ayahku!" Perintah Daniel membuat mereka berdua terkejut.
"E... Ini, ini. Tuan muda."
__ADS_1
Lebih baik mereka mati dari pada kembali ke Tn. Flors. Kenapa? Karna bagi anggota Black Mamba, jika seseorang telah diberikan pada pemimpin yang baru namun tiba-tiba mereka berbuat kesalahan dan dihukum dikembalikan pada pemimpin yang lama. Itu merupakan aib bagi mereka. Mereka memang tidak akan di bunuh, tapi akan sangat di permalukan dalam anggota kelompok. Mereka akan dikucilkan, dihina dan dipermalukan. Kebanyakan dari anggota Black Mamba yang di kembalikan berakhir gila karna tidak sanggup menerima tekanan batin dan kemudian bunuh diri. Ini merupakan membunuh secara psikologis. Sebab itu kedua anak buah Daniel lebih baik menerima hukuman fisik dari pada hukuman yang menyerang mental.
"Kenapa kalian masih disini?"
"Tuan muda kami mohon, beri kami satu kesempatan lagi," kata mereka dengan sangat memohon, berharap belas kasihan tuan muda mereka.
"Kalian mencoba menentang keputusanku?"
"Tidak. Kami tidak berani."
"Kalau begitu pergi! Sebelum aku berubah pikiran."
Mereka berdua saling pandang lalu kembali membungkuk. "Kami izin undur diri," kata mereka serempak. Dengan pasrah mereka berjalan keluar.
"Jangan sampai barangnya lecet dan juga tolong ambilkan pakaianku yang baru aku pesan di tempat biasa," kata Daniel membuat langkah mereka terhenti.
"Terima kasih tuan muda."
Yang tadinya wajah mereka lesuh kini berubah semangat lagi.
"Jika benar Samuel yang menyuruh seseorang untuk membunuhku, ia harus mendapatkan sebuah hadiah, karna hanya dia yang hampir berhasil membunuhku. Hadiahnya adalah hari kematiannya."
Samuel merupakan salah satu dari saingan Daniel dalam penjualan senjata di pasar gelap bawah tanah. Selain pesaing dalam penjualan senjata, ia juga bersaing dalam hal bisnis. Sudah beberapa kali perusahan TL yang dijalankan Samuel bersaing dengan perusahan Flors dalam memperebutkan sumber daya, dan diantaranya berhasil di dapat oleh perusahaan TL.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε