Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pulau Balvana


__ADS_3

Pesawat yang mereka tumpangi take of dari bandara tersebut. Gemuruh suara mesin pesawat dan sedikit berguncang saat pesawat lepas landas tidak membuat Julius dan Julia takut, malah mereka sangat menikmati penerbangan ini. Mengangkasa diantara gumpalan awan merupakan pengalaman yang paling disukai Julia. Melihat pemandangan keluar jendela yang berhiaskan hamparan putih selama perjalanan berlangsung akan selalu Julia lakukan. Beda halnya dengan Julius. Ia tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil disekitarnya. Ia lebih suka fokus pada buku yang ada di tangannya, atau tertidur selama perjalanan.


Dua jam mengangkasa, pesawat tersebut sudah bersiap mendarat. Seorang pramugari menghampiri Julius dan membangunkannya. Ia meminta Julius untuk segera mengenakan sabuk pengaman. Dari balik kaca jendela sudah terlihat keelokan sebuah kota pelabuhan di pulau yang indah. Beberapa kapal terlihat seperti ular laut, meleak-leok dengan ekor mereka yang sebenarnya adalah bekas jalur ombak yang mereka ciptakan sendiri. Gedung-gedung pencakar langit tampak kecil dari atas sini. Tepat disebelahnya terdapat landasan yang akan menjadi jalur pendaratan pesawat. Landasan tersebut cuman berjarak beberapa ratus meter dari air laut. Guncangan mengeruduk kembali mereka rasakan disaat pesawat mendarat.


Keahlian seorang pilot sangat diutamakan. Ratusan nyawa ada ditangan mereka. Kesalahan kecil saja bisa merengut semuanya. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Semua penumpang beranjak dari kursi masing-masing dan berjalan menuju pintu keluar, termasuk Julius dan Julia. Bandara yang berdesain futuristik dengan semua kecanggihannya membuat Julia berdecak kagum. Dari kesian banyak bandara yang perna mereka datangi hanya bandara ini yang menyajikan suasana berbeda.


Setelah memastikan semua barang bawaan mereka lengkap, Julius dan Julia berjalan menuju pintu keluar. Disana mereka bertemu Samuel yang telah lama menunggu kedatangan dua keponakannya itu.


"Julius! Julia!" panggil Samuel dari kejauhan begitu melihat mereka.


"Paman Samuel!" balas Julia sambil melambaikan tangannya.


"Apa kabar paman?" sapa Julius.


"Baik. Akhirnya kalian tiba juga. Aku sudah lama menunggu kalian."


"Kan jadwa pesawat mendarat sudah diatur, kenapa paman Samuel harus menunggu lama?" tanya Julia dengan ekspresi polosnya.


"Ah, lupakan itu. Ayok aku antar kalian ke vila. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh."


"Tidak juga."


Samuel membantu membawakan koper Julia sampai dimana ia memarkirkan mobilnya. Samuel sengaja menjemput mereka secara pribadi. Mobil melaju meninggalkan area parkiran bandara memasuki jalan raya. Persis apa yang diterangkan Samuel, kepadatan mobilitas di kota ini tidak seramai di ibu kota. Semuanya bergerak tenang seperti minggu pagi. Gedung-gedung pencakar langit yang semulanya tampak kecil kini menjulang tinggi.


15 menit menyelusuri kota, mobil berhenti tepat di depan sebuah vila megah yang dibangun di pinggir pesisir pantai. Salah seorang penjaga bergegas menghampiri dan membantu membukakan pintu mobil. Setelah itu ia mengeluarkan semua barang-barang Julius dan Julia lalu membawanya masuk, menyusul mereka yang sudah duluan.


"Wah... Vila milik paman Samuel lebih bagus dari vila Krisan milik mama," puji Julia begitu melirik ke setiap sisi ruangan.


"Iya, awalnya aku tidak terlalu percaya tapi setelah melihatnya secara langsung, ini cukup bagus. Terutama pemandangan yang disuguhkan," kata Julius yang telah berdiri di balkon yang menghadap langsung ke laut.


"Apa aku bilang. Kalian saja yang tidak mau percaya. Aku berhasil mendapatkan tanah ini dari pelelangan 5 tahun lalu. Persaingannya sangat ketat waktu itu namun aku tidak menyerah sampai berhasil mendapatkannya. Dan lihatlah sekarang, tempat ini menjadi tempat favorit ku dari semua vila yang aku miliki."


"Oh, kalau boleh tahu, apa saja yang ada di vila ini?" tanya Julia pada Samuel.

__ADS_1


"Semuanya ada. Yang paling menarik adalah berendam di kolam air panas sambil menikmati hamparan bintang. Apa keponakan manis ku mau mencoba?"


"Iya. Aku ingin mencobanya," jawab Julia dengan tegas.


"Baiklah. Malam nanti aku akan meminta pelayan menyiapkan semuanya. Untuk sekarang sebaiknya kalian istirahatlah dulu di kamar sambil menunggu koki selesai membuatkan makan siang untuk kita."


"Terima kasih paman Samuel," jawab Julius dan Julia bersamaan.


Mereka berdua pergi ke kamar masing-masing yang sudah disiapkan. Untuk malam ini mereka akan menginap semalam di vila milik paman mereka. Merasa tidak lelah sama sekali sehabis perjalanan jauh, Julius dan Julia pergi ke taman belakang untuk merasakan hebusan angin pantai sambil melakukan panggilan video pada orang tua mereka. Telpon diangkat.


"Halo. Papa, mama, kami sudah sampai," sapa Julia begitu layar laptop menampikan gambar kedua orang tua dan adik-adik mereka.


"Syukurlah kalau begitu. Tidak ada kendala selama perjalanan kalian, kan?" tanya Lina.


"Tidak ada. Penerbangan kami berjalan lancar," jawab Julius.


"Kakak, sekarang ini kalian ada dimana?" tanya Adelia terlihat meneliti pemandangan tepat dibelakang Julius dan Julia.


"Kami ada di vila milih paman Samuel. Vila ini terletak di persisir pantai. Pemandangannya sangat indah sekali," Julia memutar laptopnya untuk memperlihatkan paronama memanjakan mata.


"Aku pun. Melihat secara langsung pasti jauh lebih menarik," sambung Adelio.


"Kalian pasti takjub. Keelokan dari kota ini jauh lebih menarik dari ibu kota," kata Julius menerangkan.


"Aku kira kakak tidak memperhatikan sama sekali. Maklumlah, sepanjang perjalanan kakak lebih suka membaca buku dan tidur," ada nada sedikit ejekan di kalimat Julia.


"Walaupun pandanganku terfokus pada buku, tapi aku masih tahu betul apa yang terjadi disekitar ku."


"Papa, mama, kapan-kapan kita pergi ke sana, ya?" ajak Adelia.


"Iya, iya. Liburan nanti kita kesana," kata Daniel sambil mengelus rambut Adelia.


"Itu masih lama," Adelia mencemberutkan wajahnya.

__ADS_1


"Adelia dan Adelio kan harus sekolah besok."


"Akhir pekan?"


"Akhir pekan waktunya terlalu singkat, nanti tidak puas main disana," bujuk Lina.


"Benar kata mama, Adelia. Hari libur panjang nanti saja kalian semua kesini agar kita bisa main sepuasnya," Julia ikut membantu membujuk adik-adiknya itu.


"Baiklah."


"Oh, iya. Dimana Samuel?" tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.


"Paman tadi keluar sebentar. Mungkin sekarang sudah dalam perjalanan kembali ke vila," jelas Julius.


"Oh..."


Dalam keasikan berbincang, seorang pelayan datang menghampiri. Ia memanggil Julius dan Julia untuk memberitahu bahwa makan siang sudah siap. Mereka berdua pamit ke orang tua mereka lalu mematikan telpon. Julius dan Julia beranjak dari tempat duduknya, masuk ke dalam menuju ruang makan yang dipandu pelayan wanita tadi. Sampai disana terlihat Samuel telah menunggu mereka. Ia sudah kembali dari urusannya di kota. Selesai makan, mereka menghabiskan waktu bersantai sejenak. Duduk selama lebih dari dua jam di pesawat sungguh membuat pinggang jadi pegal. Lagi pula besoknya Julius dan Julia sudah harus pergi ke sekolah.


Namun sebelum itu seperti yang dijanjikan Samuel, malam harinya Julia menikmati aktifitas berendamnya di kolam pemandian air panas yang terletak di atas bangunan vila. Uap dari air panas melayang ke langit malam penuh bintang. Suara emburan obak yang menenangkan menjadi melodi tersendiri. Malam ini merupakan pengalaman baru bagi Julia.



.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2