
"Tamatlah riwayatmu hari ini wanita rendahan! Tn. Samuel tidak akan memaafkanmu! Melukai bawahannya sama saja menyerangnya. Kau tidak tahu apa-apa tentang Tn. Samuel yang sebenarnya!" bentak pelayan sambil masih bisa menebar senyum pada Lina.
"Kau pikir dia bisa menyelamatkan mu? Aku membunuh mu di depannya saja, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa!!"
Bugk!
Dengan sekuat yang ia bisa, Lina tendangan pelayan tersebut tepat mengenai pinggangnya. Pelayan itu terpental sampai menghantam tembok dan memuntakan darah.
"Velia, apa yang terjadi? Kenapa kau menghajar pelayan ini?"
Samuel sedikit ngeri melihat keadaan pelayan tersebut. Bukan karna luka yang dialaminya tapi karna penyebabnya. Samuel tidak menyangka wanita semanis Lina bisa berbuat kejam seperti ini. Dari tatapan mata Lina benar-benar memancarkan aura membunuh yang kental. Hari ini Samuel baru melihat Lina yang sebenarnya.
"Tn. Samuel, untung anda datang. Wanita gila ini mencoba membunuh saya," tunjuk pelayan itu pada Lina dengan suara penuh kasihan. "Saya tidak tahu mengapa. Awalnya saya hendak mengantar sup untuk Tn. George, tiba-tiba ia menyenggol saya sampai mangkuk kesayangan Tn. George jatuh dan pecah. Bukannya minta maaf, ia mala menyerang saya dengan pecahan mangkuk tersebut."
"Velia, apa semua itu benar?" tanya Samuel.
"Iyap. Itu semua benar," jawab Lina seperti tanpa rasa bersalah.
Samuel tidak menyangka atas jawaban tersebut. Tapi ia masih berharap kalau pasti ada alasan dibalik Lina melakukan semua ini.
"Tn. Samuel dengar sendiri apa katanya, kan? Saya tidak berbohong. Wanita gila ini sungguh ingin membunuh saya tanpa alasan. Mohon untuk Tn. Samuel menegakan keadilan untuk saya," ujar pelayan itu sambil menangis.
"Velia, aku memberi kau satu kesempatan untuk membela diri. Sebaiknya kan memberiku jawaban yang memuaskan karna aku..."
"Apa boleh aku membunuhnya?" potong Lina.
Belum sempat Samuel terkejut atas jawaban yang ia dengar, Lina sudah merengut pistol yang ada di saku jas Samuel dan...
Dor!
Suara tembakan menggema di lorong tersebut. Satu peluruh telah bersarang di jantung pelayan wanita itu. Ia tewas seketika. Samuel sangat terkejut atas apa yang baru saja dilakukan wanita disampingnya. Ia hanya melirik Lina ngeri. Apa ini masih wanita yang terkadang memiliki sifat kekanak-kanakan itu?
"Velia, kau sungguh membunuhnya?"
__ADS_1
"Dia adalah salah satu penghianat yang kita cari," kata Lina kemudian. Ia menyerahkan kembali pistol itu pada Samuel.
"Dari mana kau tahu?"
"Apa ayahmu selalu menggunakan mangkuk itu?" tunjuk Lina pada sisa pecahan mangkuk di lantai.
Samuel berjongkok dan meneliti sedikit pecahan mangkuk yang berserakan itu. "Iya. Aku sering melihat ayah makan sup menggunakan mangkuk ini. Sup jamur adalah kesukaannya."
"Mangkuk itulah racunnya."
"Apa maksudmu? Mangkuk itu beracun?" Samuel tidak mengerti apa yang dikatakan Lina. "Bagaimana caranya mangkuk bisa beracun?"
"Aku baru ingat baru tentang racun yang kulelang tiga tahun lalu. Itu adalah racun Gold crystal. Aku memberi namanya begitu karna racun tersebut berbentuk butiran kristal kecil berwarna emas. Agar tidak repot harus melatakan racun tersebut setiap seminggu sekali ke dalam makanan. Aku mencampur butiran kristal racun itu pada pewarna keramik. Jadi disaat mangkuk itu bersentuhan dengan sesuatu yang panas, maka racunnya akan menguap. Lihat," Lina menunjuk ke bintik-bintik emas seperti glitter yang terdapat pada bagian dalam mangkuk yang pecah. "Ini adalah racunnya. Jumlah butiran racun di mangkuk ini telah berkurang dan memudar. Itu menandakan racun di mangkuk ini sudah hampir habis."
"Jadi itu penyebabnya kenapa aku dan dokter Pram tidak perna menemukan orang yang meletakan sesuatu yang aneh di makanan ayah. Ternyata racun tersebut ada di mangkuk yang selalu ayah gunakan. Aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih padamu, Velia. Berkatmu ayahku bisa selamat."
"Em... Samuel. Apa kau juga sudah tahu siapa yang memberikan mangkuk ini?" tanya Lina ragu-ragu. Ia sedikit tidak enak hati mengatakannya pada Samuel kalau kemungkinan besar yang meracuni ayahnya adalah ibunya sendiri.
"Mangkuk ini adalah hadiah ulang tahun dari Sara," kata Samuel membuat Lina tersentak.
"Dia bukan ibuku."
"Bukan ibumu?"
"Dia ibu tiriku. Ibu kandungku telah meninggal 7 tahun yang lalu. Tiga tahun kemudian ayah menikah dengan Sara yang lebih mudah 10 tahun darinya. Dari dulu aku memang membenci wanita itu karna beranggapan dia mendekati ayah hanya untuk menguasai harta kekayaan di rumah ini. Tidak aku sangka ternyata ia berencana membunuh ayahku!" kebencian Samuel pada Sara terlihat jelas dimananya kini. "Aku akan membunuhnya hari ini!!"
"Sabar Samuel," cegat Lina. "Jangan gegabah. Kita selidiki dulu alasan yang sebenarnya kenapa ia ingin membunuh ayahmu. Aku merasa ada alasan yang lebih dalam lagi dan itu tidak sederhana."
"Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu," Samuel mengacak-ngacak rambut Lina. "Oh, iya. Kenapa kau membunuh pelayan itu? Dia belum tentu kaki tangan Sara."
"Hah?! Aku... Aku... Dia... Karna dia menghina anakku. Aku tentunya tidak terima."
"Jangan takut. Aku cuman bercanda. Aku mengenal pelayan ini. Dia adalah pelayan pribadi dari Sara."
__ADS_1
"Oh... Lalu apa yang harus aku lakukan pada mayat pelayan ini?"
"Karna kau yang membunuhnya, berarti kau yang harus membereskannya. Sampai jumpa," Samuel melangkah pergi meninggalkan Lina sendirian dengan mayat pelayan itu. "Pastikan kau tidak meninggalkan jejak sedikitpun."
"Membereskannya? Bagaimana caranya?"
Tiga jam kemudian.
"Kemana Velia tadi? Sudah selama ini aku tidak melihatnya. Bahkan di kamarpun aku tidak menemukan dia," kata Samuel yang sendari tadi mencari Lina.
"Samuel!" panggil Lina.
Mendengar suara yang begitu ceria itu membuat Samuel menoleh. Tapi betapa terkejutnya ia disaat melihat Lina.
"Astaganaga! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bermandikan darah begini?"
"Kau bilang aku harus membereskan mayat pelayan perempuan itu. Jadi aku memotongnya menjadi potongan-potongan kecil, merebusnya lalu memberikannya ke pada anjing penjaga. Dengan begitu mayatnya hilang seketika dan tidak akan mungkin bisa ditemukan lagi. Untuk tulang berserta tengkorak nya aku melemparkannya ke sungai yang tidak jauh dari sini," jelas Lina dengan ekspresi polosnya.
"Apa kau sungguh melakukan semua itu?" lagi-lagi Samuel dikejutkan dengan apa yang dilakukan Lina.
"Tentu saja."
"Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak mengatakan itu padanya sebelumnya. Tidak aku sangka kalau si manis ini akan memotong mayat pelayan itu, lalu... Hah... Apa dia masih Velia yang aku kenal selama ini? Padahal aku sudah meminta orang lain untuk membereskan mayat pelayan itu," Samuel hanya bisa menghela nafas panjang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε