Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Perwaris


__ADS_3

Semua anggota Ronal tersentak kaget begitu mengetahui itu termasuk Ronal sendiri.


"Dan dua orang itu juga sama," lirik Daniel pada dua orang yang tewas tadi. "Norman dan Jony telah menyelidiki semua ini dan melaporkannya padaku di waktu 30 menit sebelumnya."


"Tuan muda, ini kesalahanku yang telah lalai sampai-sampai membuat pihak musuh berhasil menyelinap. Mohon hukum saya," kata Ronal sambil bersujud di lantai.


"Aku akan mengurusmu nanti," Daniel mengeluarkan pistol nya dan mengacukan itu tepat ke dahi pria di depannya. "Sekarang sebaiknya kau bicara."


"Tidak! Aku tidak akan membuka mulutku biarpun kau mengancam ku untuk membunuhku!"


Dor!


Satu tembakan menggema lagi. Pria itu seketika tersungkur ke lantai dengan keadaan kepala hancur.


"Berani kau membentaku. Kau berpikir aku tidak akan bisa tahu siapa bosmu jika kau mati," Daniel berbalik, melangkah kembali menuju tempat duduknya. "Kalian, periksa tubuhnya!" perintah Daniel pada anggota Ronal.


Mereka segera menjalankan perintah dari Daniel. Mereka memeriksa seluruh tubuh dari ketiga pria yang tewas itu dan menyusun semua barang yang ditemukan, seperti senjata, hp dan dompet yang seluruh isinya juga dikeluarkan.


"Ronal, sebagai hukumanmu karna tidak kecerobohan yang menyebabkan kerugian yang amat besar. Jabatanmu akan diturunkan ke tingkat terendah dan 70% dari kekayaanmu akan disita. Bersyukur aku tidak membunuh mu."


"Terima kasih tuan muda atas kemurahan hatinya."


"Tuan muda, sepertinya aku mengenali salah satu senjata mereka," ujar Norman. "Tidak salah lagi ukiran di sarum belati itu perna aku lihat di suatu tempat."


"Oh... Benarkah. Bawa belati itu kemari," pinta Daniel.


Salah satu dari mereka membawakan belati yang dimaksud ke hadapan Daniel. Daniel menerima belati itu lalu memberikannya pada Norman.


"Ingat-ingat dimana kau perna melihatnya."


Norman meneliti belati tersebut. Di tariknya belati itu dari sarumnya. Belati tajam dan mengkilat mengingatkan Norman pada suatu kejadian.


"Malam pesta," Norman membungkuk lalu berbisik pada Daniel. "..."


"Apa kau yakin Norman?"


"Sangat yakin tuan muda."


"Kalau begitu, panggil seluruh anggota kalian berdua. Kita serang markas mereka malam ini. Dan untuk kalian, apa mau ikut membalaskan dendam ketiga rekan kalian?"


"Kami siap ikut tuan muda," jawab mereka serempak.


"Iya. Dendam ketiga tekan kita harus dibalas malam ini," kata Ronal sambil mengepalkan tinjunya dengan geram. Eh... Sebenarnya dia lebih kesal karna mereka yang menyebabkan ia mendapat hukuman ini.

__ADS_1


"Bersiap-siaplah."


"Baik."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Kembali ke Lina. Mobil mereka berhenti di depan Casino. Joe secara pribadi menyambut mereka di depan pintu. Ia sedikit bingung melihat Lina yang berjalan berdampingan dengan Ducan.


"Apa gadis kecil ini yang mau Tn. Cershom perkenalkan padaku? Siapa dia? tapi sepertinya aku perna melihatnya, dimana ya?" pikir Joe. "Selamat datang Tn. Cershom dan nona manis."


"Maaf merepotkan mu Joe sampai kau menyempatkan diri menyambut kami secara langsung," kata Ducan.


"Saya hanya pembawa acara biasa Tn. Cershom, bukan orang penting seperti anda."


"Joe bisa saja."


"Mari masuk. Saya telah meminta ruang khusus di lantai atas. Kita bisa berbincang disana."


Joe mengantar Ducan dan Lina menuju ruangan yang telah ia persiapkan di lantai 29. Sebuah ruangan luas dengan dekorasi yang menawan. Dinding kaca transparansi yang langsung menyajikan pemandangan kota. Ruangan yang bagus dan nyaman.


"Silakan duduk Tn. Cershom dan nona manis," kata Joe mempersilakan mereka duduk. "Kalian mau minum apa?"


"Apa saja asalkan tidak beralkohol."


"Boleh," jawab Lina.


Joe meminta pada pelayan melalui telpon untuk membawakan teh kamomil dan kudapan manis ke ruangan mereka. Selang beberapa saat pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah menyajikan itu, pelayan tersebut berlalu pergi.


"Silahkan Tn. Cershom dan nona."


"Terima kasih Joe."


Ducan meraih cangkir teh itu lalu menyerumputnya. Begitu juga dengan Lina.


"Nah, sayang. Dia adalah Joe, teman baik Ariana. Sang pembawa acara di pelelangan Red Krisan," kata Dukan memperkenalkan Joe.


"Salam kenal. Kau bisa memanggilku tante Joe," Joe mengulurkan tangannya.


"Namaku Lina," balas Lina menjabat tangan Joe.


"Maaf Lina. Apa kita perna bertemu? Aku merasa perna melihatmu tapi aku sedikit lupa kapan itu dan dimana," tanya Joe sambil mengingat-ingat. Ia sebenarnya sudah sendari tadi memperhatikan gadis kecil yang sedang hamil di depannya ini.


"Saya perna menghadiri acara pelanggan Red Krisan bulan lalu."

__ADS_1


"Sulit mengingatnya karna seluruh peserta lelang mengenakan topeng. Apa anda perna pergi ke bagian selain tempat acara lelang?"


"Saya yang mengajukan untuk melelang racun Blue Lotus berserta obat penawarnya."


"Racun Blue Lotus... Oh, aku ingat. Jadi kau Master ahli racun Oleander."


"Iya."


"Suatu kehormatan dapat berjumpa dengan anda. Kau sungguh sangat hebat. Di usiamu yang masih muda kau sudah mampu menciptakan racun yang begitu diminati banyak orang."


"Putriku memang hebat," ujar Ducan membuat Joe bingung.


"Pu, putri anda? Bukankah putri anda adalah Violet. Apakah anda mengangkat seorang putri lagi Tn. Cershom?"


"Tidak. Dia putri kandungku. Violet barulah putri angkat ku. Akhirnya aku menemukannya setelah pencarian selama 17 tahun ini, aku berhasil membawanya pulang," jelas Ducan.


Joe tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Lina dalam diam. Pertama kali melihat gadis ini memang membuat Joe mengingat temannya. Terutama mata itu, senyumnya dan sifat sedikit malu-malunya, sungguh mirip dengan Ariana. Joe berpindah tempat duduk ke samping Lina. Dipandanginya wajah Lina dari dekat.


"Ini sungguh dirimu yang kecil itu? Kau sudah tumbuh besar dan begitu manis. Sudah aku duga kalau Violet itu bukan putri Ariana. Walau wajahnya sedikit mirip tapi sifat-sifat lembut Ariana tidak ada padanya. Namun hanya melihatmu sekali saja membuatku yakin kalau kau putri Ariana," mata Joe tertuju pada liontin di leher Lina. Dikeluarkannya liontin itu dari baju Lina. "Ini adalah liontin yang selalu di kenakan ibumu. Liontin ini tidak perna lepas dari lehernya biarpun sedetikpun. Dia memang perna berkata akan mewariskan liontin ini pada putrinya suatu saat nanti. Liontin yang perna hilang kini muncul kembali."


"Sebab itu kami ke sini untuk menunjukan ini padamu Joe," Ducan meletakan Token kepemilikan rumah lelang Red Krisan di atas meja.


"Token kepemilikan?!" kata Joe begitu melihat Token tersebut


"Anda mengenalinya?"


"Hah?! Ini, ini... Maksudku..." seketika Joe langsung gugup karna tidak sengaja keceplosan.


"Tidak perlu menyembunyikannya lagi Joe. Kami sudah tahu kalau kau adalah kepala penanggung jawab yang ditugaskan mengelola gedung ini. Karna hal ini aku memintamu untuk bertemu."


"Kau mau meminta pemindahan kepemilikan dari rumah lelang Red Krisan? Sebagai putri tunggal dari Ariana, nona Lina memang secara otomatis mewarisi rumah lelang Red Krisan ini," Joe meraih Token tersebut lalu di pandanginya. "Ini kedua kalinya aku melihat Token kepemilikan setelah aku menggantikan ayahku menjadi kepala penanggung jawab," Joe menyerahkan Token itu pada Lina. "Simpan ini baik-baik. Banyak orang yang mengicar Token ini."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2