
Sementara itu di asrama sekolah, Julius baru selesai memberi makan hewan peliharaan kesayangannya. Dihari libur ini ia tidak berencana mengikuti kegiatan apapun. Niat hati ingin bersantai dan bermalas-malasan, namun semua itu buyar begitu Jeffri menerobos masuk ke kamar.
"Julius! Carl! Lihat ini!" teriak Jeffri dengan hebohnya sambil menunjukan layar hpnya.
"Memangnya ada apa?" tanya Carl. Ia yang sendari tadi duduk dibalkon bergegas masuk disaat mendengar teriakan Jeffri.
"Makanya lihat dulu. Ini adalah siaran langsung di depan mall terbesar di pulau ini. Telah terjadi penyanderaan ratusan pengunjung mall disana yang melibatkan banyak wanita dan juga anak-anak. Masih belum diketahui pasti motif dari penyanderaan itu. Pihak polisi saat ini sedang berusaha bernegosiasi dengan para penyandera dan memikirkan cara terbaik agar tidak menimbulkan korban jiwa," jelas Jeffri.
"Serius kau, Jeffri?" Carl sangat terkejut mendengarnya. "Seingatku mall itu merupakan kepemilikan dari keluarga Gelael."
"Iya. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah Sean, putra pertama keluarga Gelael juga menjadi salah satu dari ratusan sandera di mall itu. Hal ini di dapat dari keterangan beberapa stap penjaga toko yang mendapat kunjungan langsung dari Sean, serta orang tuanya juga membenarkan bahwa putra mereka berkunjung ke mall tersebut. Keluarga Gelael benar-benar dibuat tertekan karna masalah ini."
"Jika tujuan dari para penyandera itu adalah uang, mereka benar-benar untung besar kalau begitu."
"Iya."
"Hm... Kalau tidak salah hari ini Julia berencana jalan-jalan ke kota bersama teman-temannya," Julius mengeluarkan hpnya untuk melihat lokasi alat pelacak yang ia pasang pada jam tangan yang dipakai adiknya. "Sudah aku duga. Adikku yang selalu bikin masalah ikut menjadi sandera dalam mall tersebut. Sebaiknya aku segera menyusulnya sebelum ia bersenang-senang sendiri," Julius menyimpan kembali hpnya. "Carl, boleh aku pinjam motormu?"
"Silakan. Memangnya kau mau kemana?" Carl melemparkan kunci motornya pada Julius.
"Menjemput adikku," kata Julius sambil berlalu pergi setela menerimanya kunci motor tersebut.
"Adik? Aku baru tahu kalau Julius punya adik?"
Julius pergi menuju parkiran dimana Carl memakirkan motornya. Sebuah motor hitam yang termasuk kedalam jenis motor besar terparkir disana, itulah motor yang ia cari. Julius meraih helm pada motor tersebut lalu dengan menggunakan kunci yang diberikan Carl, ia menyalakan motor itu. Julius mulai melajukan motor tersebut meninggalkan kawasan parkiran sekolah. Ia semakin menambah kecepatan begitu memasuki kawasan jalan raya. Dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit bagi Julius untuk sampai di mall tersebut.
Tepat di sekitaran kawasan mall itu Julius melihat sudah ramai sekali mobil polisi. Seluruh anggota polisi bersenjata yang ada siap siaga berjaga diluar mall. Tidak hanya itu, dikerahkan juga para penembak jitu yang bersembunyi di beberapa sudut gedung yang bersebelahan dengan mall untuk berjaga-jaga kalau ada pergerakan yang tidak diinginkan.
"Polisi benar-benar sudah mengepung tempat ini. Aku harus mencari cara agar bisa masuk ke mall itu tanpa diketahui oleh para polisi."
__ADS_1
Julius memarkirkan motornya di kawasan parkiran gedung disebrang mall. Ia berjalan kaki menyusup masuk ke dalam mall. Dengan bersusah payah ia menghindari setiap anggota polisi yang ada. Akhirnya Julius berhasil masuk. Saat ini ia ada di parkiran bawah tanah mal tersebut. Julius berjalan menuju lif lalu menekan tombol disana. Pintu lif terbuka dan dengan cepat ia melangkah masuk tapi hanya sebagian tubuhnya saja untuk menekan tombol angka pada lif tersebut, kemudian Julius keluar meninggalkan lif yang perlahan bergerak naik. Hal ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian beberapa penyandera yang kemungkinan masih berpatroli. Julius memilih menggunakan tangga biasa yang berada di arah berlawanan dengan lif tadi. Sampai diatas tepatnya dilantai dua, Julius bisa melihat hampir keseluruhan situasi yang terjadi dibawah sana.
"Ini penyanderaan besar-besaran rupanya. Mereka sungguh sangat nekat. Tapi untungnya aku tepat waktu. Adikku itu belum melakukan pergerakan sama sekali. Aku harus pikirkan cara untuk menyusup ke dalam sana."
"Hei! Siapa kau? Bagaimana bisa kau ada disini?" bentak salah seorang dari penyandera yang berhasil menemukan Julius. Ia mengacungkan laras panjangnya ke arah Julius untuk menakut-nakuti. Namun Julius menanggapinya dengan santai.
"Ada apa disana?" tanya rekannya yang lain melalui Handsfree.
"Aku menemukan orang yang kemungkinan mengaktifkan lif tadi."
"Bagus. Seret dia kebawah."
"Baiklah," jawabnya. "Cepat jalan!" perintah orang tersebut pada Julius.
Namun tiba-tiba orang tersebut merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti ada yang mencekiknya. Ia meringkuk di lantai dan terlihat berusaha mencari nafas. Julius yang ada di dekat pria itu tidak memperdulikannya sampai pria itu meregang nyawa.
"Sekarang apa lagi? Halo!" tanya rekannya yang tadi begitu mendengar suara aneh dari Handsfreenya lalu menghilang
"Dia melakukan perlawanan. Aku terpaksa menghabisinya," jawab Julius dengan suara samaran.
"AAH! Kenapa kau bertindak gegabah? Cepat bereskan orang itu dan turun ke bawah!"
"Baik," Julius mematikan Handsfree tersebut. "Mereka tidak sepintar yang aku kira. Kerja bagus Pieper."
Pieper keluar dari sela-sela jaket pria itu lalu merayap naik ke tubuh Julius. Sendari tadi disaat pria itu sedang berbicara dengan rekannya, Pieper dengan gesit naik ke tubuh pria itu dan menggigitnya. Bisa dari Pieper yang mematikan dengan cepat menyebar dan menewaskan pria itu dalam hitungan detik. Julius memanfaatkan hal ini untuk menyamar sebagai salah satu dari para penyandera. Ia melepaskan jaket hitam yang dikenakan pria itu lalu memakainya berserta topeng kayu berwarna coklat yang cuman menutupi bagian mata. Setiap penyandera mengenakan topeng berbeda untuk menutupi identitas mereka. Selesai membereskan pria tersebut, Julius bergegas turun ke bawah.
"Bagaimana keadaan diluar?" tanya bos mereka pada salah satu anak buahnya.
"Para polisi bersenjata lengkap berjaga disegala sisi dan ada terdapat penembak jitu yang bersembunyi," jelas salah satu anak buahnya.
__ADS_1
"Apa mereka sudah menyiapkan semua yang kita inginkan?"
"Semuanya sudah disiapkan kecuali uangnya. Mereka masih belum selesai mengirimkan uang ke saldo rekening kita."
"Apa?! Seharusnya itu yang paling mudah mereka lakukan."
"Mereka beralasan kalau terjadi kendala saat pengiriman. Jadi harus memerlukan waktu sedikit agak lama."
"Bilang pada Tn. Gelael diluar sana, jika uangnya tidak kunjung dikirimkan maka aku akan menembak mati putranya berserta sandera yang lainnya!" perintah bos mereka untuk mengancam Tn. Gelael.
"Baik bos," pria itu seterah pergi melaksanakan perintah bosnya.
"Seret putra Gelael kemari!"
Dua orang segera melaksanakan perintah bosnya. Mereka menyeret Sean yang dudup paling depan dari semua sandera. Sean sempat memberontak melepaskan diri. Ancaman akan ditembak tidak digubris olehnya. Dua orang itu cukup kewalahan menahan Sean yang sempat melancarkan pukulan. Dengan terpaksa dua orang lagi diperintahkan membantu menahan Sean yang memberontak.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1