
"Itu benar. Nisa sudah membunuhnya. Setelah itu kami membawa Julia pergi dari tempat itu menuju rumah sakit ini. Luka di tubuh Julia memang tidak terlalu parah tapi ia kehilangan banyak darah karna perjalanan yang jauh. Aku sudah semaksimal mungkin mempercepat laju mobil agar bisa segera sampai ke rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit dan mendapat perawatan, dokter bilang persediaan darah yang cocok untuk Julia tinggal dua kantong darah lagi. Kebetulan golongan darah Julia sama dengan Nisa, jadi Nisa menyumbangkan darahnya untuk Julia," Rica tak mampu lagi menahan air matanya. Ia kembali menangis terseduh-seduh.
"Jadi begitu ceritanya."
"Sudahlah Rica, berhenti menangis. Saat ini Ny. Flors sedang berusaha menyelamatkan nyawa Julia. Ia pasti selamat," hibur Marjorie sambil menggusap punggung Rica.
"Hiks... Hiks.... Ini semua salahku. Kalau bukan karna aku, Julia tidak akan berakhir seperti ini. Maafkan aku, Tn. Flors. Maafkan aku. Aku telah membuat putri anda celaka. Hiks... Hiks..." tanggis Rica semakin menjadi mengisi lorong rumah sakit.
"Tidak perlu minta maaf padaku. Minta maaflah pada Julia nanti dan pada Nisa juga," Daniel menghelah nafas panjang. "Karna merekalah yang dirugikan atas perbuatanmu ini. Tapi aku menghargai kau sudah mau jujur padaku dan bersedia mengatar Julia ke rumah sakit."
Setiap menit dan detik berlalu terasa lambat. Daniel sendari terus mondar-mandir lalu duduk sesaat dan kemudian berdiri lagi. Sesekali ia melirik ke dalam ruang operasi melalui jendela. Walau ia tidak bisa melihat langsung apa yang terjadi di dalam, namun ia setidaknya terus berharap kalau istrinya pasti dapat menyelamatkan Julia. Malam semakin larut. Rasa kantuk yang mereka rasakan saat ini sebisa mungkin ditahan. Lagi pula mereka tidak akan bisa tidur nyenyak juga sebelum mengetahui keadaan Julia.
"Nisa, jika kau ngatuk sebaiknya tidurlah dulu," bujuk Rica.
Rica tahu betul kalau Nisa sangat lelah, apa lagi setelah menyumbakan darahnya untuk Julia. Namun Nisa menolak untuk tidur. Ia menggelengkan kepalanya tanpa melirik Rica sama sekali. Rica menarik Nisa dalam dekapannya lalu mengelus rambut Nisa dengan lembut.
"Tidurlah. Aku akan membangunkan mu jika Ny. Flors sudah keluar dari ruang operasi."
Pelukan hangat dan usapan lembut itu membuat Nisa teringat pada ibunya yang selalu mengusap rambutnya setiap kali menjelang tidur sewaktu kecil. Nisa membiarkan dirinya terus di dekap hangat oleh Rica sampai lama-kelamaan ia pun tertidur. Sepertinya mulai dari malam ini hubungan kakak beradik ini akan membaik. Pintu ruang operasi itu terbuka. Daniel yang menyadari pertama kali segera bangkit dari tepat duduknya. Dengan wajah tertunduk Lina melangkah keluar. Ia mengangkat wajahnya menatap setiap mata yang memandangnya dengan penuh pertanyaan. Sebelum Daniel bertanya kondisi Julia, Lina tiba-tiba terjatuh. Tubuhnya tidak kuat lagi menahan berat badannya. Beruntung Daniel cepat menangkap tubuh istrinya sebelum benar-benar jatuh ke lantai.
"Kucing kecil, kau kenapa?" tanya Daniel cemas.
"Aku baik. Cuman sedikit lelah," Lina menyadarkan tubuhnya di kursi tunggu dibantu Daniel. "Fiuhh..... Tadi itu menegangkan sekali. Aku sempat kehilangannya disaat-saat terakhir. Hehe... Dasar Julia nakal. Ingatkan aku untuk menghukumnya. Hiks... Hiks..."
__ADS_1
Lina mengusap air matanya yang sudah lama ia tahan. Ia tidak mungkin menangis di ruang operasi saat melihat putrinya hampir saja meninggalkannya untuk selamanya. Daniel menarik istrinya dalam pelukannya.
"Sudah, berhentilah menangis. Bukankah kau berhasil menyelamatkan putri kita. Kau sudah berkerja keras kucing kecil."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Keesokan paginya. Julius maupun Julia masih belum sadarkan diri. Mereka saat ini terbaring di ranjang rumah sakit di ruangan yang sama. Tidak seperti Julius yang terbaring dengan cuman selang infus saja yang menempel di punggung tangannya, keadaan Julia masih sangat lemah. Ia masih memerlukan alat bantu pernafasan dan kondisinya harus terus pantau setiap menitnya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Semalaman Marjorie menunggu kesadaran Julius sampai-sampai ia tertidur dengan keadaan kepalanya berbaring di tepi ranjang Julius. Daniel yang melihat itu membiarkannya saja. Walau ia sudah mengetahui kalau Marjorie pernah sempat menjadi kaki tangan Lady Blue, entah mengapa ia percaya Marjorie tidak akan mungkin mencelakakan putranya. Dengan semua kejadian semalam membuat baru pagi ini Marjorie teringat akan ketiga bawahannya. Ia tidak bisa menghubungi salah satu dari mereka karna ia tidak memiliki hp untuk saat ini. Marjorie sedikit dibuat bingung bagaimana cara menghubungi bawahannya itu. Ia tidak mungkin berani berkata ingin meminjam hp pada salah satu dari keluarga Flors, tapi Marjorie tidak mau meninggalkan Julius sebentar saja sebelum Julius sadar.
"Kak MJ, apa yang kakak pikirkan? Kenapa raut wajah kakak terlihat gelisah begitu?" tanya Adelia yang telah berdiri disamping Marjorie.
"Tidak ada apa-apa."
"Eh, dari mana kau tahu?" tanya Marjorie sedikit terkejut.
"Mama mengajari ku untuk dapat membaca pikiran seseorang melalui gerak-gerik dan raut wajahnya. Aku tebak kak MJ pasti ingin minjam hp untuk memesan sarapan, karna kulihat kakak sama sekali tidak memiliki hp dan kakak belum sarapan pagi ini. Kakak tidak mau meninggalkan kak Julius walau cuman turun sebentar untuk membeli sarapan, bukan?"
"Pengamatan mata yang bagus tapi tebakanmu hampir benar. Aku mamang sedikit perlu alat komunikasi itu untuk menghubungi seseorang."
"Kak MJ tinggal minta. Ini," Adelia menyodorkan hpnya pada Marjorie. "Gunakan saja hpku."
"Terima kasih. Aku pinjam sebentar."
__ADS_1
"Jangan sungkan."
Adelia berlalu pergi setelah meminjamkan hpnya pada Marjorie. Dengan menggunakan hp tersebut, Marjorie segera menghubungi salah satu bawahannya. Ia menanyakan bagaimana kondisi mereka. Orang yang Marjorie hubungi menjelaskan semuanya dan mengatakan kalau keadaan mereka baik-baik saja saat ini. Ia juga sempat menanya balik keadaan nonanya itu. Marjorie mengatakan kalau ia juga baik-baik saja, cuman mengalami cedera ringan. Dari percakapan itu Marjorie mengetahui kalau ketiga anak buahnya dirawat di rumah sakit yang sama dimana ia berada saat ini. Marjorie menyampaikan kalau ia akan berkunjung ke ruangan mereka dirawat setelah makan siang nanti. Marjorie memang menanggap mereka lebih dari seorang bawahan. Baginya mereka adalah teman seperjuangan yang akan selalu setia padanya.
Tak lama Adelia kembali mendekati Marjorie, bukan ingin meminta hpnya tapi melainkan mengantarkan semangkuk sup kacang merah. Marjorie cukup tersentuh melihat tingkah imut Adelia yang menggemaskan mengantarkan sup itu untuknya.
"Makanlah kak MJ."
"Kau seorang putri kedua dari keluarga Flors, apa tidak apa kau mengantarkan makanan pada orang biasa seperti ku ini?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1