
"Aku mendapatkannya," kata Julius membuat Death knell menoleh.
"Sial! Ternyata kau bukan bocah biasa!" gerutu Death knell karna merasa ditipu.
Melihat lawannya lengah, Qazi mengambil kesempatan ini untuk pergi. Walau sebenarnya tadi merupakan kesempatan yang bagus untuk mengalahkan lawannya namun ia hanya mendapat perintah mengalikan perhatian Death knell bukan mengalahkannya apalagi menghabisinya. Tujuan mereka cuman sebatas merebut permata tersebut, tidak lebih. Karna permatanya sudah di tangan, mereka memutuskan untuk segera kembali ke kapal mereka. Death knell yang tentunya tidak terima mengejar Julius dan Qazi meninggalkan Tn. Almero yang masih meringkuk kesakitan akibat terjangan Julius.
"Kerja bagus tuan Julius," puji Qazi masih sempat-sempatnya.
"Pengawal orang itu memang hebat tapi ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Hal hasil disaat pengawalnya lengah ia malah menjadi sasaran empuk."
"Anda benar sekali. Tapi aku akui kalau gadis tadi lumayan hebat untuk anak-anak umur 12 tahun. Kemampuannya mungkin setara dengan Julia jika dibandingkan."
"Julia ya. Jadi ada kemungkinan aku bisa kalah darinya jika satu lawan satu dengannya."
"Kenapa anda berpikir demikian?"
"Itu karna aku perna kalah saat latihan bertarung bersama Julia dulu. Semuanya sebab aku terlalu meremehkan nya. Benar-benar menyedihkan."
Saat sedang berbincang sambil terus berlari, tiba-tiba sebila pisau melesat ke arah mereka. Karna masih dalam keadaan siaga mereka berdua berhasil menghindari pisau tersebut. Pisaunya tepat menancap di batang pohon. Julius melirik siapa yang barusan menyerang mereka. Ternyata dia adalah Death knell.
"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos!!" teriak Death knell sambil melemparkan pisaunya lagi.
Julius berhenti lalu menangkis pisau tersebut menggunakan belatinya. "Meleset."
"Tuan muda," panggil Qazi yang juga ikut berhenti.
Julius mengeluarkan permata itu dari saku celananya lalu melemparkan itu ke Qazi. "Paman tangkap!"
Qazi berhasil menangkap permata itu. "Apa maksudnya ini?"
"Pergilah! Aku akan menahannya," teriak Julius sambil bersiap menyerang Death knell untuk mencegahnya mendapatkan permata itu.
__ADS_1
"Apa?! Itu tidak mungkin. Seharusnya saya yang menahan dia agar anda bisa pergi," tolak Qazi. Mana mungkin ia mau meninggalkan Julius sendirian.
"Jangan khawatirkan aku, paman. Aku cuman ingin bermain sebentar dengannya."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Prioritaskan permatanya! Ini perintah."
"Saya akan segera kembali."
Dengan berat hati Qazi berlari pergi. Walau ia yakin Julius tidak mungkin kalah dengan mudah namun tetap saja ada kekhawatiran yang menyelimutinya. Ia mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai di kapal dan kembali lagi untuk menjemput Julius. Jika terjadi sesuatu pada Julius, Qazi benar-benar tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri dan tidak tahu harus bagaimana berhadapan dengan Daniel nanti.
"Hah! Kau pikir bisa menahanku disini? Dengar ya, aku tidak akan mencari kesempatan meladeni anak kecil sepertimu. Sebaiknya kau menyingkir karna aku juga tidak akan segan-segan membunuh mu!" bentak Death knell dengan ancaman.
"Siapa yang kau panggil anak kecil? Dasar tidak tahu diri. Aku saja lebih tinggi darimu. Uuh... Pendek," kata Julius sambil mengejek Death knell untuk memancing kemarahannya.
"Ee....! Kau ini sungguh menyebalkan!"
Dan benar saja. Amarah Death knell mulai terpancing. Ia seketika mengerahkan segenap kemampuannya menyerang Julius dengan membabi buta. Julius lumayan kewalahan menangkis setiap ayunan pisau itu. Death knell benar-benar tidak memberi kesempatan bagi Julius untuk menyerang balik. Percikan api sesekali muncul saat pisau Death knell bergesekan dengan belati miliknya dan suara gemericik lonceng tersebut cukup membuat konsentrasi Julius terganggu. Rasa sedikit menyesal Julius rasakan karna telah mengejek orang yang mudah emosian. Namun walaupun begitu, entah mengapa duel mereka berdua ini sangat Julius nikmati. Sudah lama Julius tidak merasakan perasaan begitu menikmati setiap detik momen pertarungannya dengan seseorang.
"Wah... Sudah lama sekali aku tidak menyaksikan pemandangan seperti ini. Sangat indah," kata pemilik rumah lelang itu yang memantau orang-orang saling membunuh hanya untuk memperebutkan sebuah barang incaran mereka.
"Ada yang jauh menarik lagi dari pada orang-orang payah itu, Sir," ujar salah satu pria yang mengoperasikan komputer.
"Oh, apa itu? Biar aku sendiri yang menilainya."
"Di acara pelelangan kali ini kita kedatangan tamu spesial. Dia adalah Death knell, seorang pembunuh bayaran yang rumornya baru-baru telah menyebar di dunia bawah tanah. Saat ini ia sedang terpantau bertarung bersama seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya," jelas pria tersebut.
"Tunjukan gambarnya."
"Baik."
__ADS_1
Jari pria itu mulai mengutak-atik keyboard. 4 layar komputer dihadapannya kini menampilkan gambar pertarungan sengit antara Death knell dan Julius.
"Menarik, tapi pertarungan mereka terlihat seimbang. Bagaimana kalau beri mereka sedikit aksi? Aktifkan sistem keamanan pulau," perintah bos mereka.
"Siap terlaksanakan, Sir," ujar seorang wanita yang berada di sudut ruangan.
Wanita itu menekan salah satu tombol merah dihadapannya untuk mengaktifkan sistem keamanan pulau yang ada di lokasi Julius dan Death knell. Sedang serius-seriusnya saling menjatuhkan, tiba-tiba muncul berbagai jebakan begitu salah satu dari mereka memicunya. Kaget akan hal itu Julius dan Death knell sebisa mungkin menghindari luncuran anak panah yang diarahkan pada mereka. Pertarungan mereka terpaksa terhenti. Mereka sekarang tidak bisa bergerak sembarangan. Salah langkah sedikit saja bisa mengaktifkan jebakan yang lain.
"Hah? Apaan ini? Bukankan pulau ini tidak memiliki keamanan, kenapa sekarang muncul jebakan?" pikir Julius dibuat bingung. Ia beruntung berhasil menghindari anak panah tadi.
"Sepertinya para penonton itu telah mengaktifkan sistem keamanan pulau ini. Aku tidak tahu tujuan mereka apa, tapi ini bagus untukku. Kau tidak akan bisa menghentikan aku sekarang!"
"Kau berpikir demikian? Kalau aku tidak! Semacam perangkap kecil ini tidak akan membuatku kesulitan sama sekali!"
Julius melemparkan belatinya dan tepat menembus kamera pengawas yang tersamarkan oleh ranting pohon. Pemilik dari rumah lelang itu cukup dibuat terkejut dengan tayangan cepat ujung belati menembus kamera pengawas. Satu layar komputer yang menyorot wajah Julius langsung mati seketika.
"Apa maksudmu membuang senjatamu seperti itu? Kau meremehkan aku?!!" bentak Death knell yang salah mengira atas tindakan Julius barusan.
"Aku cuman tidak mau terus diperhatikan oleh orang lain."
"Kau tidak perlu mencari alasan. Akan aku habisi kau bocah mengemaskan!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε