Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Melawan Big Man


__ADS_3

Belasan orang telah terkapar tidak berdaya bersimbah darah, sebagian dari mereka telah kehilangan nyawa. Yang masih bertahan melawan cuman Julius, Marjorie dan seorang dari anak buah Marjorie, untuk dua lagi sudah tidak sanggup bangkit karna mengalami cedera yang cukup serius. Sedangkan untuk disisi lawan, masih ada beberapa orang yang bertahan namun pemimpin mereka belum kunjung turun tangan membantu bawahannya.


"Lumayan juga kau bocah. Kemampuan mu bisa dibilang cukup hebat untuk bocah seperti dirimu. Mungkin jika berlatih lebih giat lagi beberapa tahun, kau bisa menjadi yang terhebat. Namun nasib buruk kau bertemu denganku hari ini," ujar pemimpin kelompok tersebut. Ia merapihkan pergelangan jasnya sambil melangkah maju.


"Oh, akhirnya kau maju juga, pak tua," ejek Julius mengintimidasi.


"Julius, jangan meremehkan nya. Dia dikenal sebagai Big Man. Bukan hanya tubuhnya yang berukuran besar tapi tenaganya juga mengerikan. Ia mampu mengangkat sebuah mobil berserta orang di dalamnya dan dia pernah menarik dua truk sekaligus," jelas Marjorie memperingatkan Julius untuk tidak gegabah melawan Big Man.


"Wow... Dia itu manusia atau apa? Aku memang tidak mampu mengangkat sebuah mobil atau menarik truk tapi belum dapat dipastikan kita kalah darinya. Ayok lawan dia bersama."


"Baik."


"Kemari lah dua bocah. Akan aku lawan kalian tanpa senjata," tantang Big Man pada mereka berdua.


Julius dan Marjorie maju secara bersamaan menyerang Big Man. Untuk sisa lawan mereka yang lain ditangani oleh salah satu anak buah Marjorie yang masih bertahan. Sendari tadi Big Man cuman menghindari serangan yang terus dilakukan Julius dan Marjorie. Kekompakan mereka terlihat jelas disini namun itu tidak cukup untuk dapat menyentuk Big Man. Biarpun kini Marjorie tidak segan-segan lagi mengayunkan senjatanya.


"Hahaha... Dasar lemah!" kini saatnya Big Man melakukan perlawanan. Dalam sekali serang, masing-masing diantara mereka terpental dan sampai menghantam benda-benda yang ada digubuk tersebut.


"Argh!" pekik Marjorie begitu punggungnya menghantam kursi.


"Marjorie!" Julius segera bangkit dan bergegas menghampiri Marjorie. "Kau tidak apa-apa?"


"Sstt... Tubuhnya benar-benar keras. Setiap serangan kita tidak mempan padanya."


"Apa cuman segini kemampuan kalian? Dasar lemah! Aku mengharapkan sesuatu yang lebih darimu, bocah."


Big Man mengeretakan jari-jemarinya serta tulang lehernya. Ia siap kembali menyerang Julius dan Marjorie. Merasa belum kalah Marjorie segera bangkit. Begitu juga dengan Julius yang tentunya tidak mau tinggal diam. Dengan senyum menyeringai diwajahnya, Big Man mulai meyerang duluan. Ia mengayunkan pukulannya yang besar. Sebisa mungkin Julius menghindari itu dan berbarangan dengan menyerang balik, sedangkan Marjorie melakukan serangan di titik buta Big Man. Serangan yang mereka lakukan memang mengenai lawannya tapi Big Man sama sekali tidak berkutik. Senyumnya malah semakin lebar diwajahnya. Ia kemudian mencengkram tangan Marjorie yang menyerangnya dari belakang, lalu membantingnya ke arah Julius. Hal hasil tubuh Marjorie mendarat tepat di atas tubuh Julius. Mereka meringis kesakitan, apa lagi Julius yang dibuat tidak bisa bergerak karna tubuh Marjorie menimpah tubuhnya.

__ADS_1


Marjorie lekas bangkit lalu membantu Julius berdiri. Perkelahian diantara mereka kembali berlanjut. Walau sering jatuh bangun namun mereka tidak berhenti melawan. Big Man semakin menikmati pertarungan yang membuatnya terlihat jauh lebih unggul tersebut. Entah sudah beberapa kali ia membanting atau menerjang tubuh lawannya sampai terpental cukup jauh. Marjorie merasa tubuhnya sudah mulai remuk karna perkelahian ini. Tidak ada harapan utuk dapat menang melawan Big Man.


"Ukhuk!" Julius memuntahkan darah akibat tubuhnya menghantam dinding dari gubuk tersebut sampai jebol keluar.


"Hahaha... Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku!"


"Sial! Dia jauh lebih kuat dari yang aku kira. Kalau seperti ini kami tidak mungkin menang darinya. Tidak," Julius berusaha bangkit disaat tiba-tiba ada satu ide muncul di kepala Julius. "Death knell, pancing dia keluar. Aku punya rencana," teriak dari luar.


"Aku harap rencanamu ini berhasil."


Karna teriakan dari Julius membuat fokus Big Man teralihkan dan ia malah menoleh. Marjorie mengambil kesempatan ini untuk memukul kepala pelontos Big Man menggunakan balok kayu. Biarpun tidak berdampak apa-apa tapi cukup memancing amarah Big Man. Marjorie segera berlari keluar


"Hah! Rencana konyol apa yang mau kalian lakukan? Aku akan lebih dulu mematahkan tulang leher kalian!"


Big Man terus mengejar Marjorie yang berlari memasuki tempat dimana Julius telah bersembunyi. Tepat disaat Big Man melaluinya, Julius seketika menyemprotkan suatu cairan ke seluruh tubuh Big Man. Cairan tersebut Julius ambil dari mobilnya yang terparkir di belakangnya. Itu bukan racun tapi bisa memikat racun. Aroma wangi yang berasal dari cairan tersebut mulai menyebar ke penjuru hutan.


"Jadi ini rencanamu. Sedikit parfum tidak akan mungkin bisa mengalahkan ku!"


Big Man hendak mengayunkan tinjunya namun terhenti begitu mendengar suara desisan. Bukan satu atau dua tapi melainkan banyak suara desisan yang diiringi dengan gemerisik dedaunan kering.


"Apa yang kau berikan padanya?" tanya Marjorie yang telah berdiri di samping Julius


"Lihat saja nanti."


Tubuh Marjorie seketika merinding begitu ia merasakan ada sesuatu yang merayap melewati kakinya. "Uuuaaaahh.............!!! Ular!!" pekik Marjorie sangking kaget nya sampai-sampai ia memanjat naik ke tubuh Julius dengan kakinya kini berada di bahu Julius.


Julius berusaha menyeimbakan diri agar mereka tidak terjatuh. "Yang benar saja seorang Death knell takut ular."

__ADS_1


"Tidak ada alasan bagiku untuk tidak takut hewan melata itu," Marjorie mempererat cengkeramannya memeluk Julius.


"Bagaimana caranya kau menjalankan misi yang diharuskan memasuki hutan?"


"Hei, apa-apaan ini. Menjauhlah dariku. Kalian hewan kecil tidak berguna!"


Biarpun keadaan di dalam hutan itu cukup gelap namun Marjorie dan Julius masih bisa melihat Big Man yang sendari tadi terus menjauhkan semua ular yang merayap naik ke tubuhnya lalu memberi gigitan. Big Man cukup kewalahan menghadapi banyaknya ular yang menyerangnya. Tidak hanya ular-ular kecil tak berbisa yang datang tapi ada juga ular-ular berukuran besar dengan bisa paling mematikan seperti king kobra. Untuk menghindari ular-ular tersebut Big Man malah dengan bodohnya berlari masuk kedalam hutan. Dengan aroma dari tubuh yang dapat memikat ular untuk mendekat, pilihan itu tidaklah tepat. Ia akan semakin diserang lebih banyak ular di dalam sana.


"Apa yang terjadi?" tanya Majorie yang belum kunjung turun dari tubuh Julius.


"Aku cuman memberi dia parfum pemikat ular. Aroma dari parfum tersebut cukup kuat untuk menarik perhatian para ular dari jarak 100 meter," jelas Julius.


"Tadi itu sungguh mengerikan. Aku lebih suka menghadapi sepuluh orang dari pada berhadapan dengan ular."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2