Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pengaruh obat


__ADS_3

Lina tidak memperdulikan perkataan Daniel. Ia mala mendorong Daniel sampai mereka berdua jatuh ke atas kasur yang empuk. Daniel sangat terkejut atas perbuatan Lina saat ini. Kenapa ia terlihat bukan seperti dirinya, perasaan tadi ia masih baik-baik saja. Daniel tahu kalau Lina tidak suka disentuh sembarangan. Tapi kali ini kenapa Lina berinisiatif sendiri? Tidak. Ada yang salah dengan kucing ini. Nafas Lina terasa panas begitu ia bernafas dileher Daniel.


"Hei, kucing. Ada apa denganmu? Menyingkirlah dari tubuhku!" kata Daniel sebelum ia hilang kendali dan mala memakan kucing yang kini ada diatas tubuhnya.


Lina mengangkat wajahnya menatap Daniel. "Kenapa kau menyuruhku pergi? Apa kau tidak menyukai ku? Atau aku kurang menarik."


"Apa?" Daniel sangat terkejut mendengar kalimat itu. "Benar-benar ada yang salah dengannya." Daniel berbalik membuat Lina sekarang ada di bawah. "Kau tidak dalam keadaan sadar. Pasti mereka memberimu suatu obat padamu."


Itu pasti. Tidak mungkin Lina bertingkah seperti ini kalau bukan terpengaruh obat. Mereka telah memberikan obat tertentu pada Lina. Karna kondisi tubuh Lina yang sedikit istimewa membuat obat itu lambat berkerja dan juga dosi yang mereka berikan terlalu besar. Sebab itu Lina hilang kendali atas dirinya karna pengaruh obat tersebut.


"Aku? Tidak sadar? Tapi mataku terbuka. Kenapa kau bilang aku tidak sadar?" kata Lina bertingkah bodoh.


"Otak gadis ini pasti rusak kalau sedang terpengaruh obat. Tapi ia begitu imut," pikir Daniel sambil memalingkan wajahnya yang merona. Ia sungguh tidak tahan melihat ekspresi Lina.


"Apa karna wanita itu sekarang kau tidak menyukaiku?" kata Lina membuat Daniel menoleh. "Aku benar-benar marah melihatmu makan malam bersama gadis itu dengan begitu mesranya dalam suasana romantis. Hatiku cemburu," kali ini Lina mengembungkan pipinya cemberut. Hal itu membuatnya tambah imut dimata Daniel.


"Oh... Jadi kau sangat cemburu melihatku dekat dengan gadis lain?"


"Tentu saja. Kau hanya milikku seorang karna aku yang telah menyelamatkan nyawamu ini."


Lina menarik tangannya dari genggaman Daniel sampai tangannya itu berhasil lolos. Lina mulai menyelusuri kemeja Daniel dengan jari-jarinya yang mungil dan akhirnya berhenti di dasi. Lina menarik dasi tersebut sampai membuat wajah Daniel sangat dekat dengan wajahnya. Dengan senyum kecil di wajah, Lina merangkul leher Daniel semakin mendekatkan wajahnya. Diciumnya bibi Daniel dengan tekanan panas. Daniel yang sendari tadi menahannya kini membalas ciuman itu. Dibukanya bibir Lina agar lidah mereka bisa bermain dengan tubuh Daniel yang sepenuhnya jatuh di atas tubuh Lina. Cukup lama lidah mereka bermain akhirnya Daniel menarik diri dari Lina melepaskan ciuman mereka. Daniel menatap wajah Lina yang terlihat kecewa karna Daniel tidak melanjutkan.


"Kenapa kau berhenti?" tanya Lina.


"Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak mau mengambil keuntungan darimu yang tepengaru obat saat ini. Semua ini bukan keinginanmu," Daniel berusaha turun dari tubuh Lina walau ia tahu kalau tubuhnya juga kecewa.


"Kau jahat Daniel," satu bulir air mata jatuh di ujung mata Lina. "Aku sedang tersiksa disini. Tapi setega itu kau meninggalkan ku."


"Tunggu, jangan menangis," Daniel segera membelai wajah lembut Lina. Ia tiba-tiba merasa bersalah pada Lina. Obat itu pasti telah menyiksanya.


"Panas. Panas sekali. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku mohon bantu aku," rintih Lina. Tubuhnya menggeliat karna hawa panas yang menyelimutinya.


"Oke, oke. Aku akan membantu tapi berhentilah menangis."


"Panas sekali."


Tanpa pilihan lain Daniel segera melepaskan pakaiannya dan menumpukan seluruh berat badannya di atas tubuh Lina yang mungil. Tangan Daniel mulai bermainkan buah dada Lina dengan gemas.


"AAH........!"

__ADS_1


Suara indah itu berhasil keluar dari bibi manis Lina membuat Daniel semakin bersemangat. Daniel memberi beberapa kecupan di leher Lina lalu berakhir ******* bibi Lina yang manis.


"Apa kau yakin mau aku melakukan ini?" tanya Daniel yang dibalas anggukan. Perlahan-lahan Daniel mulai memasukan miliknya ke dalam tubuh Lina.


"AAAAHH ! !"


Lina terbelalak begitu milik Daniel masuk seutuhnya ke lubang nya yang sempit. Daniel mulai menggerakkan tubuhnya membuat gerakan lembut. Setiap gerakan yang dilakukan Daniel di iringi dengan kecupan kecil. Hal itu membuat Lina mengeluarkan erangah yang tak tertahankan.


"Hmmmphh...... Ohh... Da-niel."


"Apa kau mau menyuruhku berhenti sekarang?"


"Tidak. Lanjutkan. Jangan... Menahan dirimu."


"Baiklah, sesuai permintaanmu," bisik Daniel ditelinga Lina.


Daniel mulai mempercepat gerakannya yang membuat Lina mengeluarkan erangan kenikmatan.


"Ahhh... Begitu Daniel. Lebih cepatlah. Ahh......" racau Lina.


Daniel tahu kalau sekarang Lina masih tepengaruh obat tapi melihatnya begitu menikmati permainan membuat ia tidak bisa menahan diri. Ia memperkasar gerakannya. Tangannya tidak henti-hentinya memainkan keindahan yang menghiasi tubuh Lina atau sesekali **********.


"Sebentar. Lakukan bersama-sama."


Daniel menarik dirinya lalu menghetakannya sekali berbarengan dengan semburan panas memenuhi perut Lina.


"AAAH ! !" Teriak Lina begitu rasa panas menyembur dalam dirinya. "Haa.......ha... Ohh....."


"Tumbuhlah dalam sana. Aku ingin seorang bayi dari mu," kata Daniel sambil bangkit dan duduk di atas tubuh Lina yang terlihat lemas tanpa menarik diri. Ia mengusap pelan perut Lina dengan kelembutan dan kehangatan.


"Kalau begitu, kau harus berusaha."


Mendengar itu Daniel menarik tubuh Lina untuk duduk bersama.


"Ahh......! Hmmmphh!"


Dilumatnya bibir Lina sambil memeluknya erat di tubuhnya yang bidang. Cukup lama mereka berciuman, mereka menarik diri mencari nafas. Daniel memutar badannya lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur, membiarkan Lina duduk di atas nya.


"Bagaimana kalau kau yang memimpin?"

__ADS_1


"Apa? Bagaimana caranya? Aku tak bisa," ujar Lina dengan wajah polosnya.


"Bergerak saja semaumu."


Lina masih kebingungan ia meletakan kedua tangannya di dada bidang Daniel.


"Aaa....... Aku tak bisa," rengek Lina seperti anak kecil.


"Bagaimana mau cepat hamil jika kau tidak bisa melakukannya?" Daniel memengangi pinggul Lina membantunya bergerak naik turun.


"Ahhh! Hmmph! Sebenarnya...... Aku..... Ohh.... Belum siap hamil. Ahh.... Aku takut," kata Lina diselah-selah erangannya.


"Jangan takut. Kau pasti menyukainya. Ha.... Melihat mereka tubuh dalam perutmu dan bergerak, menjadi seorang ibu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupmu."


"Benarkah? Kalau begitu aku ingin cepat-cepat hamil dan melahirkan anak untukmu."


Daniel melepaskan pinggul Lina membiarkan ia bergerak sendiri. Beberapa menit bergerak dengan diiringi suara merdu tiba-tiba Lina berhenti.


"Ada apa?" tanya Daniel.


"Ha.... Hah.... Aku haus," jawab Lina dengan nafas terengah-engah.


Daniel bangkit lalu mengajak Lina turun dari tempat tidur. Lina mengaitkan kakinya dipinggang Daniel sambil merangkul lehernya. Daniel berjalan menuju dispenser yang tersedia di sudut kamar. Daniel menuangkan segelas air dan memberikan itu pada Lina. Sepertinya Lina benar-benar sangat kehausan. Ia menganghabiskan air segelas penuh itu dalam sekali teguk. Selesai minum, mereka kembali ke ranjang. Daniel duduk di pinggiran ranjang sambil menatap wajah Lina yang polos.


"Kau begitu manis sekali kucingku," dibelainya rambut Lina kemudian diselipkan di telinga nya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2