Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kawasan asrama khusus


__ADS_3

"Di kelas musik nantikan kalian bisa mencari anggota lain, tidak harus kami. Lagi pula aku mau ingin klub lainnya. Satu klub saja tidak cukup, tapi klub apa ya yang seru?" Julia berpikir-pikir ingin masuk klub yang menurutnya menyenangkan.


"Bagaimana kalau klub masak?" saran Febby.


"Tidak."


"Klub teater?" ujar Wendy juga ikut memberi saran. "Dengan wajah manismu ini, kau pasti terpilih menjadi pemeran utama."


"Aku rasa tidak. Pemeran utama terlalu bodoh. Aku lebih suka peran antargonis."


"Cara berpikir mu benar-benar berbeda."


"Kalau begitu klub olahraga saja, kan banyak pilihan seperti klub basket, tenis atau voli."


Julia mendengarkan setiap saran yang diberikan teman-temannya namun belum ada satupun yang menarik perhatiannya sampai Nisa menyarankan...


"Klub sains?"


"Sains? Em... Sepertinya boleh juga. Diklub sains pasti sering melakukan percobaan seru," Julia tampak tertarik begitu mendengarnya.


"Iya."


"Ah, aku tidak mau masuk klub itu. Klub tersebut cuman diperuntukan untuk murid berotak encer," ujar Wendy.


"Tapi aku cukup suka melakukan eksperimen dengan bebagai zat kimia."


Dikeasikan berjalan santai sambil mengobrol, mereka berempat tidak menyadari kalau ternyata mereka telah memasuki kawasan asrama khusus. Sebenarnya tidak ada larangan bagi murid lainnya untuk berkeliaran disana, hanya saja penghuninya yang terlalu cerewet.


"Hei! Apa yang kalian lakukan disini?" cengat seorang gadis sambil menghampiri mereka.


Gadis itu memiliki tubuh yang relatif kecil jika harus dibandingkan dengan siswi SMA pada umumya. Mata berwarna biru dengan rambut hitam bergelombang berhiaskan dua jepit rambut kecil berwarna pink di sisi kiri rambutnya. Ia mengenakan mini dress berwarna biru muda bergradasi putih, memakai sepatu hak tinggi dan sebagai sentuhan akhir kalung permata melingkar di lehernya yang putih. Dengan tatapan seperti gadis sombong tentunya ia meremehkan keempat siswi baru dihadapannya ini.


"Maafkan kami. Kami sungguh tidak sengaja datang kesini," ucap Febby pada gadis itu. "Kami akan segera pergi."


"Memangnya kenapa kami tidak boleh kesini? Toh, ini juga bagian dari wilayah sekolah. Tidak ada peraturan yang melarang kami untuk menginjakan kaki di kawasan ini," kata Julia membuat Wendy dan Febby kaget.


Wendy segera menutup mulut Julia menggunakan kedua tangannya. "Apa yang barusan kau katakan ini, Julia? Apa kau mau dikeluarkan dari sekolah?" bisiknya.


Julia menepis tangan Wendy dari mulutnya. "Memangnya kenapa tidak boleh? Itukan memang kenyat... Ehmp........!"

__ADS_1


Sebelum Julia menyelesaikan kalimatnya, Wendy kembali menutup mulut Julia. "Haha... Jangan dengarkan omongannya. Dia baru datang dari ibu kota dan tidak tahu apa-apa."


"Iya, iya, itu benar," Febby ikut-ikutan menahan Julia yang terlihat meronta-ronta melepaskan diri. "Saya mewakilkan teman saya untuk minta maaf."


"Baik, baiklah, aku memaklumi itu. Kalian dari kalangan menengah memang tidak tahu apa-apa. Lebih baik kalian cepat pergi dari sini karna sangat mengganguku menikmati pemandangan," ujar gadis itu.


"Apa?!!" bentak Julia dalam hati. Ia yang mendengar itu tentu tidak bisa menahan emosinya. Dengan mata melotot, ia ingin sekali menonjok gadis di depannya ini, namun Wendy dan Febby terus menahan tubuhnya dan secepatnya menarik ia pergi.


"Tunggu!" cegat seorang gadis lain yang datang menghampiri.


"Rica?" panggil gadis itu. "Apa yang kau lakukan disini?"


"Bukan begitu caranya menyambut tamu, Delfa."


"Gadis satu ini terlihat baik," batin Julia. Mulutnya masih didekap Wendy.


"Apa maksudmu, Rica? Mereka ini cuman murid biasa yang berani memasuki kawasan asrama khusus. Mereka tidak pantas ada disini," ujar gadis bernama Delfa sambil menatap sinis pada mereka.


"Apa kau tidak mengenali salah satu dari mereka?" Rica berjalan mendekati Nisa. "Bukankah ini adikku tersayang, Nisa Pinkston."


"Oh, maafkan aku, Rica. Aku sungguh tidak mengenali adikmu itu karna penampilannya yang murahan," ejek Delfa.


"Nanti dulu," kata Julia yang akhirnya bisa bebas dari tangan Wendy dan Febby.


Julia mendekati Silvi dan memperhatikan lebih seksama wajah gadis bermake-up tebal itu. Seorang gadis dengan rambut berwarna coklat dan bermata hijau itu cukup dikagetkan dengan tatapan Julia yang sangat dekat.


"Apa yang ingin kau lakukan? Menjauh lah dariku!"


"Kau adalah Castarica Pinkston, kan?"


"Kalau iya, kenapa? Merasa takut? Sudah seharusnya. Kau sebagai gadis rendahan sebaiknya jangan macam-macam denganku atau..."


"Hahaha.... Aku ingat kau," tawa Julia seketika membuat mereka semua bingung. "Kau gadis yang terpeleset di perjamuan makan malam pada pesta pemegang saham keluarga Flors. Kau seketika menjadi trending topik dalam sehari."


Julia mengeluarkan hpnya lalu memutarkan sebuah rekaman video yang menunjukan seorang gadis mengenakan gaun merah panjang terpeleset dan seketika terjatuh ke arah meja yang dipenuhi hidangan. Gadis itu benar-benar basa kuyup bermandikan sup buah. Seketika wajah Rica memerah karna malu. Kejadian tersebut benar-benar membuat ia malu sampai tidak mau keluar kamar sebelum berita tersebut menghilang tepenuhnya dari publik. Wendy, Febby, Nisa dan juga Delfa berusaha menahan tawa mereka.


"Dari mana kau mendapatkan video itu?!!"


"Aku menyimpannya sebelum video tersebut hilang dari sosial media karna menurutku sangat lucu. Aku tidak henti-hentinya tertawa walau sudah melihatnya berulang kali," Julia terus mengulang video tersebut.

__ADS_1


"Ee...! Berikan itu padaku atau kau akan menyesal karna telah main-main denganku!"


Rica hendak merebut hp Julia namun ia kurang cepat. Gerakan Julia yang lincah membuat ia tidak bisa merebut hp tersebut. Beberapa kali ia berusaha mengejar Julia tapi ia malahan tersandung kakinya sendiri dan membuatnya nyungsek ke semak-semak.


"Hahaha... Ini akan menjadi koleksi terbaruku. Seorang putri dari keluarga Pinkston kembali terpeleset dan berakhir disemak-semak," ujar Julia yang berhasil merekam momen tersebut.


"Dasar bedebah!!! Kau akan menyasali ini gadis rendahan!!" betak Rica yang kesal.


"Siapa kau itu sebenarnya? Berani sekali kau macam-macam dengan salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini!" bentak Delfa ikut-ikutan. Ia membantu Rica keluar dari semak-semat itu.


"Sebaiknya kau segera bersujud minta maaf pada ku dan berikan hpmu itu! Mungkin aku akan berbaik hati mengampuni seluruh keluargamu," ancam Rica.


"Kenapa kau belum bersujud juga gadis rendahan. Berterima kasihlah karna Rica masih bersedia mengampuni keluargamu itu. Apa kau tahu, dengan kekuatan yang keluarga Rica miliki dapat dengan mudah melenyapkan kalangan menengah seperti kalian."


"Kakak, aku mohon maafkanlah dia. Dia temanku."


"Diam! Kau bukan adikku!" bentak Rica pada Nisa.


"Em.. Julia, sebaiknya kau segera minta maaf..." bisik Wendy.


"Minta maaf?" potong Julia. "Untuk apa aku minta maaf padanya? Lebih baik kau harus tahu dulu siapa aku sebenarnya sebelum kau menyesal."


Tubuh Rica seketika merinding begitu melihat tatapan tajam dari Julia. "Me, memang siapa kau sebenarnya? Kau itu cuman gadis rendahan yang kebetulan berasal dari ibu kota!"


"Namaku Julia."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2