Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Acara pembukaan


__ADS_3

"Kenapa kau tidak melaporkan hal itu pada ayahmu?" tanya Febby.


"Sudah kucoba, namun ayah tidak percaya. Mereka selalu bersikap baik di depan ayah tapi tidak dibelakangnya."


"Ceritamu ini mirip seperti kisah putri Cinderella saja," ujar Julia. "Tapi kalau diingat-ingat... Ny. Pinkston cukup memiliki pengetahuan tentang dunia bawah tanah. Papa perna memberitahu kalau gelagat Ny. Pinkston di pesta pejamuan waktu itu terlihat sering menyingung tentang kelompok mafia. Apa mungkin ia sengaja menikah dengan keluarga Pinkston hanya untuk mendekatkan diri pada kelompok Mafia Black Mamba?" pikir Julia.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Pagi ini adalah hari pertama mereka bersekolah. Julia saat ini sedang memandangi dirinya di depan cermin dengan pakaian seragam sekolahnya. Kemeja putih dipadukan dengan rok biru gelap bergaris kuning disisi bawahnya dan dilengkapi sebuah jas yang senada dengan rok. Terdapat lambang sekolah di dada kiri jas tersebut. Sebagai sentuhan akhir, sebuah dasi hitam sebagai pelengkap. Tidak lupa Julia juga mengenakan sepatu serta kaus kaki hitamnya.


"Hm, Seragam ini lumayan. Aku mulai menyukainya."


"Aku juga. Seragam ini terlihat lucu," Febby sependapat dengan Julia.


"Aku tidak menyukainya. Roknya terlalu pendek. Ini memalukan!" ujar Wendy yang terus menahan rok seragamnya menggunakan kedua tangan, seakan-akan roknya bisa terangkat kapan saja.


"Menurutku tidak. Seragam itu cocok untukmu, Wendy," kata Nisa.


"Apa yang cocok? Itu menurutmu tapi tidak untukku."


"Lalu kau mau ganti seragammu dengan seragam pria, gitu?" kata Julia sambil melipat tangannya di dada.


"Jika bisa mungkin aku sudah menukarnya."


"Sudahlah, kita tidak banyak waktu untuk pembicaraan ini. Kita sudah hampir telat untuk berkumpul dilapangan. Semua siswa dan siswi tahun ajaran baru sudah berada disana sekarang."


Febby menarik tangan Wendy dan Julia keluar dari kamar mereka. Nisa menggunci pintu sebelum bergegas menyusul ketiga temannya. Sementara itu Julius, Carl dan Jeffri juga sedang dalam perjalanan menuju lapangan. Dilorong, Julius sedikit terganggu dengan setiap mata dan kata-kata dari para siswi yang berlintasan dengan mereka.


"Wah... Lihat pria itu, tampan sekali."


"Dengar-dengar kalau ia merupakan salah satu siswa baru tahu ini."


"Sudah punya pacar belum ya?"


"Aah... Aku jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Ia tampan sekali."


"Ingin sekali aku berkenalan dengannya."

__ADS_1


"Kira-kira siapa namanya ya?"


"Harap-harap ia satu kelas denganku."


"Aah... Aku bersedia memberikan apapun untuk berkenalan dengannya."


"..."


Dan beberapa kalimat lainnya. Julius tidak peduli pada mereka semua. Pandangannya lebih fokus ke layar hpnya.


"Dengarkan itu Julius. Mereka semua sedang membicarakan diriku. Sudah aku bilang kan dengan wajah tampanku ini dapat memikat seluruh hati para wanita," oceh Jeffri tiada kapok nya. Ia sungguh percaya diri kalau para siswi itu sedang membicarakan dirinya.


"Diam kau Jeffri. Apa kau sungguh berpikir kalau mereka sedang membicarakan dirimu?" tanya Carl.


"Jika bukan aku siapa lagi? Lihat ini baik-baik. Aku akan menghampiri mereka dan akan aku tunjukan pada kalian," dengan penuh percaya diri, Jeffri menghampiri salah satu siswi. "Halo cantik..."


Belum selesai Jeffri menyapa dua siswi tersebut, mereka semua tiba-tiba menyebru mendekati Julius. Julius seketika kaget dan hampir saja hpnya jatuh karna desakan para siswi itu. Dengan hebohnya mereka menggoda, menanyakan berbagai hal dan saling dorong.


"Woi, woi, apa-apa ini? Kenapa kalian mengerumuniku?" bentak Julius berharap mereka semua pergi.


"Aah... Menakutkan sekali. Aku semakin suka."


"Aku juga mau dibentak seperti itu."


"Aku sangat suka pria dingin."


"Siapa namamu, tampan?"


"Boleh minta no WeChat ya dong."


"..."


"Aku tak habis pikir. Bukannya pergi mereka malahan tambah suka. Aku harus mengambil kesempatan kabur dari sini. Menghadapi mereka benar merepotkan," batin Julius.


Sementara itu, Carl terpaksa tersingkir kan oleh desakan para gadis yang mengerumuni Julius. Ia menghampiri Jeffri yang mematung.


"Apa aku bilang. Bukan kau yang disukai para siswi itu tapi melainkan Julius," ujar Carl pada Jeffri.


"Tidak mungkin! Secara spesifik aku lebih tampan darinya. Sepertinya ada yang salah," Jeffri berpikir-pikir untuk menyangkal apa yang terjadi dihadapannya. "Aku tahu! Para gadis ini pasti malu-malu untuk bertemu denganku. Mereka mendekati Julius hanya ingin menanyakan tentang diriku."

__ADS_1


"Hah... Otak temanku ini sudah rusak," pikir Carl. "Ngomong-ngomong, dimana Julius tadi?"


Carl dan Jeffri melirik kesana kemari mencari Juluus yang entah hilang kemana. Yang tersisa hanya para gadis yang tampak kecewa karna perginya pria idaman. Carl dan Jeffri sedikit dibuat binggung bagaimana caranya Julius berhasil kabur dari kepungan para siswi itu. Tapi dari pada memusingkan itu, lebih baik mereka mencari temannya sebelum acara dimulai. Beberapa menit berkeliling, mereka berdua tidak kunjung menemukan Julius. Karna acara sudah dimulai, Carl dan Jeffri terpaksa segera pergi ke halaman sebelum terlambat. Beruntung bagi mereka begitu sampai disana acaranya baru dimulai. Seorang pria dengan kumis melintang baru saja naik ke atas podium untuk menyampaikan kata sambutan. Dia adalah kepalah sekolah SMA Anthony.


"Darimana saja kalian?" sapa seorang siswa pada Carl dan Jeffri.


"Julius?! Kami sendiri tadi mencarimu!" kata Jeffri.


"Kenapa mencariku? Aku tidak pergi kemana-mana."


"Hei, tunggu dulu. Inikan kacamata baca ku," Carl seketika merebut kacamata yang dikenakan Julius. "Bagaimana bisa ada padamu?"


"Aku pinjam sebentar."


Acara pembukaan berjalan lancar. Kata sambutan yang kepalah sekolah ucapkan tidak terlalu panjang maupun pendek, sehingga tidak membuat jenuh orang mendengarkannya. Namun disaat penampilan hiburan berupa band sekolah, tiba-tiba sebuah helikopter dengan suara berisik serta angin kencangnya mendarat di atas bangunan sekolah. Hal itu membuat acara penyambutan siswa/siswa baru terhenti seketika. Semua orang melirik ke atas bangunan sekolah untuk melihat siapa itu. Seorang siswa dan seorang siswi terlihat keluar dari helikopter tersebut. Julius melirik datar siswa yang terlihat menatap sinis ke arah para murid baru dibawahnya.


"Siapa dia? Sesuka hati datang dan mengacau," kata Julius begitu saja.


"Sustt... Jangan berbicara seperti itu jika kau tidak ingin terkena masalah. Dia adalah tuan muda dari keluarga Arlo, keluarga yang paling disegani di kota ini," jelas Carl.


"Tidak perna dengar."


"Wajar saja karna keluarga Arlo memang baru-baru ini masuk daftar keluarga berpengaruh. Rumor mengatakan kalau keluarga Arlo berkerjasama dengan satu kelompok mafia yang sangat kuat. Tidak ada yang tahu seberapa kuat mereka sampai-sampai ada yang bilang kalau kekuatannya setara dengan kelompok mafia di ibu kota dan bahkan ingin melampauinya," sambung Jeffri sambil berbisik.


"Apa mungkin keluarga Arlo berkerja sama dengan Lady Blue? Mengingat kalau Lady Blue sekarang sedang meningkatkan kekuatan untuk melawan keluarga tersembunyi. Sepertinya aku harus memberitahu papa dan mama soal ini," pikir Julius.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2