Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Meracuniku dengan racunku sendiri?


__ADS_3

Jam makan siang tiba. Di sebuah restoran yang tidak jauh dari dari universitas, Lina menceritakan hari-hari nya bersama Daniel. Lina terpaksa menceritakannya akibat paksaan dari Ira yang sangat ingin tahu. Disaat sedang asik mengobrol sambil menikmati hidangan yang mereka pesan. Datang si pengacau yang menghancurkan suasana mereka.


"Hai, Lina dan Ira. Apa boleh aku ikut bergabung?" sapa Violet yang langsung mengambil tempat duduk di antara Lina dan Ira.


"Apa maumu Violet?" tanya Ira dengan tatapan dingin.


"Tidak bolehkah aku makan siang bersama teman-temanku?"


"Teman? Sejak kapan kita berteman? Lagi pula kau sebagai nona muda yang manja bukannya lebih terbiasa makan di ruang VIP. Aku dengar bagian VIP menyediakan hidangan berbeda," kata Ira dengan nada ejekan.


"Sabar Violet," ia berusaha menahan amaranya dengan senyum terpaksa. "Aku cuman ingin mau mencoba hidangan dari kalangan menengah seperti kalian. Apa itu tidak boleh?"


"Sudahlah Ira, biarkanlah nona Cershom makan siang bersama kita. Tidak ada salahnya juga," kata Lina sambil menepuk punggung tangan Ira.


"Tapi..."


"Ira," Lina berusaha menyakinkan temannya itu dengan memberi isyarat mata.


"Lina saja tidak keberatan. Kau memang teman baik ku Lina. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan mentraktir kalian hari ini."


Violet memanggil pelayan untuk membawakan hidangan yang telah disiapkan sebelumnya. Seorang pelayan wanita datang menghampiri sambil membawa nampan yang berisi tiga hidangan Steak. Ia meletakan masing-masing Steak tersebut dihadapan mereka. Setelah itu ia berlalu pergi.


"Selamat menikmati. Ini merupakan menu terbaik mereka. Kalian berdua pasti belum perna mencicipinya karna hidangan ini tidak bisa di pesan oleh sembarangan orang. Kalian beruntung memiliki teman seperti aku yang merupakan putri dari pemegang saham dari restoran ini."


"Tidak terima kasih. Aku sedang diet," kata Lina menolak Steak tersebut.


"Untuk hari ini saja Ira. Aku akan merasa tersinggung jika kau menolak."


"Iya, Ira. Jarang-jarang nona Cershom mentraktir kita," kata Lina yang terlihat sangat menikmati Steak tersebut.

__ADS_1


"Lina, kau sungguh memakannya? Apa kau tidak takut dia menaruh sesuatu di makanan tersebut. Dia itu kan bermusuh dengan kita. Gelagatnya hari ini yang sok baik pasti ada yang direncanakannya," bisik Ira pada Lina.


"Em... Ini sangat enak," Lina tidak menghiraukan dan mala semakin menikmati Steak itu.


"Dasar gadis lugu dan bodoh. Nikmatilah makanan terakhirmu," batin Violet dengan tatapan sinis melihat Lina.


"Tapi Steak itu sedikit kurang asin," baru hendak mengambil garam, Lina tampa sengaja menyenggol minuman Ira. Hal itu membuat pakaian Ira jadi basah. "Maaf, maaf Ira. Aku tidak sengaja."


"Tidak apa-apa Lina. Aku ke toilet dulu untuk membersihkannya."


"Sekali lagi maaf ya Ira."


"Iya. Cuman basa sedikit juga kok."


Ira bangkit dari tempat duduknya kemudian berlalu pergi menuju toilet. Lina memperhatikan temanya itu yang berjalan menuju toilet, namun pandangannya perlahan-lahan kabur. Lina meletakan tangannya di sebelah kepalanya dan sedikit mencengkramnya. Ia terlihat seperti menahan kesakitan.


"Apa racunnya sudah berkerja?" senyum kemenangan terukir di wajah Violet. "Kau tidak apa-apa Lina?" tanya nya pura-pura khawatir.


Tak berlangsung lama tiba-tiba Lina jatuh pingsan. Ia tersungkur ke lantai restoran tersebut. Melihat itu Violet segera berjongkok di depan Lina untuk memastikan.


"Lina, bangun Lina. Apa kau sudah mati? Kalau iya, itu bagus. Akhirnya rencanaku berhasil. Dengan begini aku bisa menarik perhatian Daniel dan membuatnya jatuh hati padaku. Sungguh sial sekali nasifmu Lina, mati diusia semudah ini. Kau tidak tahu seberapa kejamnya dunia bawah tanah. Gadis lugu sepertimu tidak akan bisa bertahan. Tapi jangan khawatir, aku pasti aku memberi pemakaman yang layak untukmu."


"Hoam..." Lina bangun sambil menguap. Ia meregangkan tubuhnya lalu mengambil hpnya. "Aku lupa memberitahu Daniel kalau hari ini aku mau jalan-jalan ke taman bersama Ira. Sebaiknya aku beritahu dia sekarang."


Lina sibuk mengirim pesan pada Daniel tampa memperdulikan Violet yang terngagah sangking terkejutnya melihat Lina kembali hidup dan seperti tidak terjadi apa-apa.


"Ba, bagaimana bisa? Ini tidak mungkin. Kau, kau hidup lagi. Aku sudah melumuri racun di makananmu. Apa kau hantu?" kata Violet sambil menujuk Lina dengan tangan gemetar.


"Em?" Lina melirik Violet, kemudian tersenyum. "Mau tahu kenapa? Karna kau tidak bisa meracuni sang ahli racun mengunakan racun buatannya sendiri," Lina bangkit dari lantai restoran tersebut lalu kembali duduk ke kursinya.

__ADS_1


"Apa, apa maksudmu? Aku membeli racun itu dari pelelangan illegal terbesar di ibu kota. Racun itu dibuat oleh Oleander, seorang Master ahli racun yang sangat misterius! Kau mengatakan racun tersebut buatanmu... Itu tidak mungkin!!"


"Kau tahu kenapa racun tersebut ku beri nama 'Blue Lotus'?" Lina mengeluarkan pil kecil berwarna putih dari tasnya dan langsung meminumnya. "Bukan hanya dari warnanya yang biru tapi racun tersebut mengeluarkan aroma samar bunga teratai. Orang biasa tidak akan bisa mencium bau khas ini. Dan lagi, jika kau ingin meracuni seseorang dengan cara seperti ini sebaiknya beri tanda yang tidak terlalu mencolok untuk hidanganmu sendiri. Kalau seperti ini kau pasti sangat mudah dicurigai," lirik Lina membandingkan kedua piring Steak miliknya dan Violet yang sangat tampak jelas perbedaan di antara keduanya.


"Kau pasti bergurau untuk menakut-nakutiku! Tapi, tapi dari mana kau tahu racun tersebut bernama Blue Lotus? Apa mungkin kau sungguh Oleander? Tidak. Aku sama sekali tidak percaya!! Kau cuman gadis lugu dan polos, tidak mungkin sang Master ahli racun itu!"


"Bodoh," Lina berdiri menghampiri Violet. Ia sedikit berjinkat untuk menyelaraskan tinggi badannya. "Aku sudah bosan memerankan gadis lugu nan polos, apalagi dihadapan gadis sombong sepertimu," Lina memicit pipi Violet memaksanya membuka mulut agar ia bisa memasukan pil bundar kecil berwarna coklat ke dalam mulut Violet.


"Uhuk! Uhuk! Apa yang kau berikan padaku?" Violet berusaha memuntahkan kembali pil tersebut tapi sayangnya pil itu telah tertelan masuk ke lambungnya.


"Jangan takut. Racun itu tidak akan membunuh mu. Ia lebih ke arah menyiksamu. Setiap kali kau datang bulan kau akan merasakan rasa sakit yang teramat sangat di perutmu dan tak tertahankan. Tidak ada obat dan dokter manapun yang dapat menyembuhkanmu selain aku. Oh, iya aku lupa. Kau kan calon seorang dokter."


"Jangan terus membual! Aku tahu kau hanya mengeretakku! Kalaupun semua itu memang benar, aku masih tidak percaya tidak ada satupun dokter di dunia ini yang tidak dapat menyembuhkan ku," Violet berlalu pergi dengan sangat kesal.


"Selamat mencoba," Lina mala melambaikan tangannya pada Violet.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2