
"Kau ini menyimpan banyak sekali rahasia ya Julia. Kau pikir kami tidak tahu?" kata Wendy.
"Apa yang aku rahasiakan? Kalian bedua 'kan sudah tahu kalau aku yang menyebarkan video itu."
"Bukan tentang videonya, tapi apa maksud dari yang kau bilang 'menerobos sistem keamanan' itu?"
"Iya. Dari kata-kata yang kau gunakan seperti seorang Hecker yang suka ada di film-film. Mereka mencuri data komputer atau meletakan virus-virus berbahaya yang bisa merusak kinerja suatu jaringan."
"Kalian berdua terlalu banyak menonton film. Tapi aku akui juga sebenarnya aku memang tertarik mempelajari sistem jaringan komputer."
"Jadi, kau memang bisa mencuri data atau melakukan pembajakan seperti yang selalu muncul di tv?" tanya Febby dengan mata berbinar.
"Eh... Bisa dibilang begitulah, tapi aku belum ahli melakukannya. Jangan berpikir memintaku melakukan hal aneh."
"Eh... Hihi... Kami baru mau memikirkannya," kata Wendy pelan.
"Hm, tidak mau melakukan hal aneh. Bukankah kau paling suka melakukannya?" ejek Julius membawa lirikan tajam dari Julia.
"Namamu tadi Julia, ya?" tanya Marjorie.
Raut wajah Julia yang kesal dalam sekejap berubah saat Marjoriet bertanya padanya. "Iya," jawabnya.
Manjorie mendekatkan wajahnya ke telinga Julia lalu berbisik. "Sejujurnya aku juga ingin bertemu denganmu. Kau memiliki pertahanan akun yang luar biasa."
"Terima kasih. Hei, bagaimana kalau hari ini kita sedikit bertukar ilmu?" Sebelum Marjoriet menyetujui, Julia sudah menarik tangannya pergi.
"Tunggu kami Julia! Aku juga mau melihat," teriak Wendy sambil menyusul mereka bersama Febby.
"Hei, dia milikku!" teriak Julius yang juga ikut menyusul mereka.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Sementara itu, di tempat yang jauh. Tn. Geraldo tersadar dari tidurnya. Dengan kepala masih dilanda rasa pusing akibat pengaruh alkohol, ia sedikit dibuat linglung begitu melihat sekitarnya. Ruangan kosong yang cuman dilengkapi satu lampu penerangan. Dengan keadaan tangan dan kaki terikat dan digantung di dinding, Tn. Geraldo mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
__ADS_1
"Selamat pagi. Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya seorang wanita sambil berjalan menghampiri.
"Siapa kau? Tapi kalau boleh aku katakan nona, kau sangat cantik," mungkin karna masih sedikit dalam pengaruh alkohol, Tn. Geraldo sempat-sempatnya menggoda wanita dihadapannya ini.
"Oho... Terima kasih. Tapi sayangnya aku sudah lama menikah," wanita itu menunjukan cincin kawin kebanggaannya yang melekat dijari manisnya.
"Siapa gerangan suamimu itu? Apakah ia jauh lebih hebat dariku? Ketahuilah nona, aku ini adalah anggota mafia Dragon yang paling hebat di kota ini" ujar Tn. Geraldo dengan sombongnya.
"Hahaha... Kau sungguh pandai membual. Seharusnya aku memberi tahu mu terlebih dahulu di mana kau sekarang ini berada. Ini bukan lagi di pulau kecil nan cantik itu lagi."
"Lantas memangnya dimana aku sekarang?"
"Ibu kota. Dan tadi kau sempat bilang kalau kelompok mafiamu sangat hebat. Ketahuilah kelompok mafiamu itu tidak lebih dari secuil kerikil di ibu kota yang luas ini."
"Apa?! Berani sekali kau nona kecil menghina anggota mafia Dragon! Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau tahu tentang dunia bawah tanah?" Tn. Geraldo tersulut emosinya disaat kelompok mafianya dihina.
"Kau bertanya? Sudah pasti aku harus menjawabnya. Oh, iya. Kau tadi sempat bertanya, siapa suamiku, kan? Aku akan memberi tahumu supaya kau tidak penasaran. Suamiku adalah putra dari keluarga Flors, Daniel Alcander Flors."
"Kalian anggota mafia yang baru naik daun sudah sok keras. Kalian tentunya masih belum tahu apa-apa tentang dunia bawah tanah yang sebenarnya."
"Kau bicara seperti ini seolah-olah sangat paham betul apa itu dunia bawah tanah. Siapa kau itu memangnya?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi aku akan memberitahu identitas lain dari suami ku di dunia bawah tanah. Apa kau perna mendengar soal anggota mafia Black Mamba?"
"Anggota mafia Black Mamba?! Suamimu salah satu anggota Black Mamba?"
"Oh, tidak. Dia lebih dari seorang anggota. Dia adalah pemimpin dari seluruh anggota tersebut."
"Pemimpin anggota Black Mamba yang misterius itu adalah putra dari keluarga Flors?!" dengan tubuh mulai gemetar namun Tn. Geraldo berusaha bersikap tenang. "Me, memangnya kenapa? Kau, kau pikir anggota Black Mamba sangat hebat? Walau mafia Dragon belum sehebat mafia Black Mamba tapi orang dibelakang mafia Dragon adalah Lady Blue! Kehebatannya sudah setara dengan keluarga tersembunyi. Mafia Black Mamba bukan apa-apa jika dibanding Lady Blue."
"Jika Lady Blue yang sangat kalian banggakan itu begitu hebat, lantas dimana dia? Kenapa ia tidak kunjung menampakan batang hidungnya?"
"Kalau soal itu aku tidak tahu. Tapi aku yakin dia tidak akan tinggal diam karna kalian telah berani main-main dengan salah satu bawahannya!"
__ADS_1
"Fftt... Hahaha... Kau pikir kau itu sangat berharga? Biarpun aku membunuh mu disini, dia tidak akan peduli. Aku yakin dia memiliki banyak bawahan yang jauh lebih hebat dari pada dirimu. Seorang pria yang kerjaannya cuman berjudi dan bermain wanita. Pion sepertimu akan cepat disingkirkan," Lina menarik nafas panjang lalu menghebuskannya perlahan. "Hah... Baiklah. Aku rasa sudah cukup perkenalannya. Bagaimana kalau kita mulai bermain?"
"Bermain?"
"Iyap. Pertama-tama seperti biasa aku akan memberimu penawaran. Beritahu aku apa yang kau tahu tentang Lady Blue, maka aku akan dengan senang hati membebaskanmu."
"He! Kau pikir aku bodoh?! Itu adalah tawaran klasik yang sering digunakan. Aku tidak akan percaya!"
"Itu urusanmu mau percaya atau tidak. Yang pasti kau cuman memiliki dua pilihan. Pertama, kau bisa memberitahu ku tentang Lady Blue kalian itu, maka kau akan bebas. Atau yang kedua, tidak apa-apa jika kau tidak memberitahu ku, tapi kau akan menjadi teman mainku hari ini."
"Bagaimana bisa kau membuatku percaya padamu? Aturan paling utama yang diajarkan pada kami adalah jangan perna mempercayai siapapun, apalagi musuh sendiri."
"Prinsip yang bagus. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Tapi sungguh percayalah aku pasti akan membebaskan mu jika kau memberitahu semua yang yang kau tahu tentang Lady Blue."
"Aku tetap tidak akan percaya! Jika aku memberikan apa yang kau mau, sudah dapat dipastikan kau akan menghabisiku dari pada membebaskan ku! Aku lah yang lebih memahami pikiranmu itu."
"Tidak, malah apa yang kau pikirkan sangat bertentangan dengan apa yang aku pikirkan. Namun aku memaklumi itu karna rata-rata orang pasti berpikiran sama denganmu."
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Jangan berbelit-belit!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1