Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Lomba Sains dan Teknologi


__ADS_3

"Ada satu pengumuman yang mau saya sampaikan pada kalian. Di festival kebudayaan nanti klub sains akan mengadakan perlombaan sains dan teknologi. Bagi yang mau berpartisipasi bisa mendaftar ke saya, dengan anggota kelompok empat orang. Kalian bebas memilih anggota kelompok masing-masing dan bahan apa yang mau dipersembahkan di perlombaan nanti. Asalkan itu murni ciptaan kalian sendiri dan tanpa campur tangan dari orang luar. Jika sampai ketahuan maka kelompok tersebut akan di diskualifikasi. Waktu kalian sebulan sebelum perlombaan. Kalau ada pertanyaan tentang lomba maupun project apa yang ingin kalian persembakan, jangan takut untuk bertanya pada saya. Sekian untuk hari ini. Sampai jumpa lagi minggu depan."


Via mengumpulkan semua bukunya lalu melangkah keluar. Siswa dan siswi lainnya juga sudah beranjak dari kursi mereka. Sebagian dari mereka ada yang telah keluar kelas dan sebagian lagi masih berkumpul dengan teman masing-masing untuk membahas tentang lomba tersebut. Begitu dengan Julia dan Nisa saat ini. Sedangkan Julius jangan tanya. Ia sudah hilang entah kemana.


"Perlombaan sains dan teknolagi. Bagaimana kalau kita ikut Nisa?" ajak Julia.


"Entahlah, Julia. Kita cuman berdua. Untuk berpartisipasi kita membutuhkan dua orang lagi."


"Aku bisa mengajak kakak untuk ikut bergabung. Dia tidak mungkin satu kelompok dengan yang lain. Tinggal satu lagi. Siapa ya..." Julia berpikir sejenak. Ia melirik kesana kemari mencari orang yang mungkin bisa diajaknya untuk ikut bergabung.


"Aku dengar kalian kekurangan orang untuk ikut lomba. Bagaimana kalau aku bergabung bersama kalian?" kata Sean yang telah berdiri di belakang Julia.


"Aku tidak mengatakan apapun. Bagaimana kau bisa mendengarnya?" ujar Julia cuek seperti biasa.


"Tidak apa jika kau tidak mau memilihku tapi kalau boleh aku katakan... Kalian tidak akan dapat menemukan anggota lain selain aku. Sebaiknya pikirkan sekali lagi sebelum monolakku."


"Oh, kenapa kau bisa berpikir demikian? Ada banyak siswa dan siswi lain yang bisa kami ajak dan itu bukan kau."


"Silakan dicoba. Tapi aku yakin kalau kau tidak akan mau memilih seorang siswi sebagai anggotamu karna mereka pasti lebih sibuk menggoda kakakmu itu dari pada ikut berkerja. Dan yang aku tahu semua siswa di klub sains ini sudah memiliki kelompok mereka sendiri. Bagaimana menurutmu?"


"Walau aku tidak mau mengakuinya tapi Sean ada benarnya juga. Jika aku mengajak seorang siswi... Aku rasa itu bukanlah menjadi pilihan terbaik. Kakak kalau sudah fokus bisa sangat mempesona. Kalau sudah seperti ini bisa-bisa dia cuman memandangi kakak saja dan tidak berkerja sama sekali. Aku tidak suka itu," batin Julia. "Bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau itu cuman akal-akalan kau saja? Darimana kau tahu kalau semua siswa sudah memiliki kelompok sendiri?"


"Cuman ada 12 laki-laki di yang ikut klub sains ini termasuk aku dan kakak mu. Mereka sudah mengetahui soal lomba tersebut dari jauh-jauh hari dan tentunya sudah membentuk kelompok masing-masing."


"Kenapa aku malah mencurigai mu?"


"Eh... A, apa yang kau maksud? Kau mencurigaiku soal apa? Jangan berpikir yang bukan-bukan," kata Sean sedikit gugup.

__ADS_1


"Kau pikir aku bodoh? Dia pasti sudah merencanakan hal ini. Tapi kalau di pikir-pikir mengajaknya juga bukanlah sesuatu yang merugikan. Sean cukup pintar soal sains dan teknologi. Aku bisa menyuruhnya melakukan ini itu tanpa bisa ia membatahnya. Jika ia mengganguku, toh masih ada kakak. Coba saja kalau berani," pikir Julia. "Baiklah. Aku akan buat kau sebagai cadangan dulu. Jika kami memang tidak menemukan satu anggota lagi, kau terpilih. Ayok pergi Nisa."


Julia menarik tangan Nisa pergi meninggal Sean sendirian. Di lorong koridor Nisa bertanya soal anggota kelompok, siapa yang mau mereka ajak untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut?


"Julia, kenapa kau tidak mau menerima Sean ikut bergabung? Ia lumayan pintar, dengan mengajaknya kita pasti juara."


"Karna dia menyebalkan. Lagi pula tanpa dia pun kita masih bisa memenangkan lomba ini. Kita coba cari rekan yang lain dulu."


Julia berpikir sebentar, siapa gerangan orang yang bisa ia ajak untuk melengkapi anggota kelompoknya. Sampai ia melihat tidak jauh di depan mereka ada salah satu teman sekelasnya yang juga ikut kelas sains tadi.


"Rian!" panggil Julia sambil berlari menghampiri bersama Nisa.


"Julia, Nisa, ada perlu apa?"


"Kami cuman mau tahu, apa kau mau satu tim bersama kami untuk berpartisipasi dalam lomba itu? Saat ini kami kekurangan satu orang lagi," kata Julia.


"Aduh, maaf sekali tapi aku sudah punya rekan setim. Bahkan project sains kami sudah setengah jalan," tolak Rian merasa tidak enak hati.


"Sekali lagi maaf. Aku harus pergi dulu. Sampai jumpa."


"Dah..." Julia melambaikan tangannya sekali pada Rian yang berlalu pergi.


"Tidak apa Julia, masih 9 orang lagi yang bisa kita ajak," kata Nisa menghibur Julia.


"Kau benar Nisa. Ayok kita berusaha mencari rekan lagi. Hari ini harus dapat agar besoknya kita bisa memulai project sainsnya."


Selagi Julia mencari satu anggota baru bersama Nisa, Via yang hendak kembali ke ruangannya dibuat menoleh disaat Julius memanggil. Keadaan di sekitar mereka sedang sepi, cuman ada mereka berdua.

__ADS_1


"Ada apa Julius? Ayok lah senyum lah sedikit, jangan dingin begitu. Nanti para gadis kabur loh."


"Jika itu benar, aku tidak perlu bersusah payah terus menghindari mereka. Apa yang bibi lakukan di sekolah ini? Kenapa bibi mau jadi seorang guru sains?"


"Karna kekhawatiran mama kalian berlebih. Sebab itu bibi menyamar menjadi guru di sekolah ini untuk menjaga kalian," jelas Via maksud kedatangannya.


"Kami bukan anak kecil yang senantiasa diawasi terus. Lagi pula disini ada paman Samuel."


"Hah... Mama itu sudah sangat marah pada pamanmu itu karna sudah berani meminjamkan mobil pada Julia. Sebaiknya beritahu pamanmu itu agar berhati-hati, kalau tidak... Entah apa yang bisa dilakukan kak Lina padanya."


"Apa cuman itu alasannya? Tidak ada yang lain, kan?" kata Julius mencuringai. Ia sedikit tidak puas dengan jawaban dari bibi nya.


"Sungguh, tidak ada yang lain lagi. Sudah ya, bibi mau mengurus pendaftaran para siswa dan siswi yang mau ikut lomba. Bagaimana denganmu? Apa kau mau ikut lomba juga?"


"Sebenarnya aku sedikit malas untuk ikut tapi tidak tahu dengan Julia. Jika ia mau ikut lomba ini sudah dipastikan dia akan menarik ku juga ikut dalam kelompoknya."


"Jika kalian ikut, kalian pasti dapat juara pertama. Bibi sangat menantikan project sain atau teknologi apa yang akan kalian persembahkan diperlombaan," Via menepuk pundak Julius sebelum melangkah pergi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2