
Duar!!!
Mereka dikagetkan dengan suara ledakan yang terjadi di lantai dua mall tersebut. Ledakan yang sangat kuat sampai-sampai puwing-puwing bekas ledakan terlihat jelas, kemudian berjatuhan ke lantai dasar. Semua orang yang masih berada di dalam mall berlari keluar karna panik disaat mendengar suara ledakan.
"Wah... Mereka memasang lebih dari satu bom di mall ini," kata Julia yang terlihat tidak takut sama sekali.
"Tapi daya ledakan bom itu jauh lebih kecil dari pada bom ini jika meledak," tunjuk Julius pada bom yang berhasil mereka jinakan.
"Kau benar kak. Kalau bom ini yang meledak, sudah bisa dipastikan tempat ini akan hancur berantakan."
"Kalian sudah tahu ada lebih dari satu bom disini, kenapa masih berdiri diam saja? Ayok keluar menyelamatkan diri!" kata Sean sambil menarik tangan Julius dan Julia keluar dari mall tersebut.
Sean tidak tahu harus bilang apa melihat kelakuan kakak beradik ini yang terlihat tidak takut sama sekali. Raut wajah tanpa ekspresi seperti tidak terjadi apa-apa disekitar mereka malahan membuat Sean ngeri.
"Apa mereka tidak takut sama sekali? Padahal tadi itu sangat berbahaya. Salah sedikit saja nyawa bisa jadi taruhannya," batin Sean.
Duar!!
Kembali terdengar suara ledakan yang sama seperti sebelumnya. Sean mempercepat larinya keluar dari mall sambil terus menarik Julius dan Julia.
"Wah.. Ada berapa banyak bom yang mereka pasang kira-kira di mall ini, ya?" kata Julia yang masih sepat-sempatnya bertanya.
"Tidak ada yang tahu kecuali mereka," jawab Julius.
"Bukan waktunya mempertanyakan hal itu! Apa kalian tidak ada rasa takut sama sekali?!!" betak Sean yang mulai kesal.
"Tidak."
Sampai diluar mall, Sean mengatur nafasnya yang terasa sesak. Tadi itu adalah pengalaman terburuk yang perna ia alamin. Untuk pertama kalinya ia begitu dekat dengan maut. Diluar semua orang dibuat bersujud syukur karna masih diberi kesempatan dapat lolos tragedi yang mengerikan. Tangis haru juga terdengar disaat sanak saudara dan keluarga memeluk anggota keluarga mereka yang ikut menjadi korban penyanderaan.
Para polisi yang ada di tempat dengan hati-hati bergegas masuk untuk melihat kondisi di dalam mall tersebut dan sebagian polisi lainnya mencoba menenangkan para korban yang masih dilanda ketakutan. Untuk yang sudah tenang, perlahan-lahan mereka diajukan pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang lebih detai.
"Sean!" panggil seorang wanita yang berlari menghampiri dan segera memeluk Sean. "Syukurlah kau baik-baik saja. Ibu sangat khawatir sekali padamu."
"Aku baik-baik saja ibu, lepaskan pelukanmu. Banyak orang disini," kata Sean yang merasa sedikit malu diperlakukan seperti anak kecil oleh ibunya. Apalagi dihadapan Julia.
__ADS_1
"Bodoh! Apa yang kau pikirkan? Aku mengkhawatirkan mu," Ny. Gelael malah semakin mempererat pelukannya.
Dengan terpaksa Sean membiarkan ibunya memeluk dirinya sampai salah satu polisi datang menghampiri. Ny. Gelael melepaskan pelukannya.
"Dengan tuan muda Sean," tanya polisi itu.
"Iya."
"Bisa ceritakan apa yang terjadi? Kami menemukan para penjahat itu telah tewas karna luka tembakan dan sebagian lagi tewas karna sabetan senjata tajam. Menurut kesaksian dari para sandera yang lain, tiba-tiba muncul asap tebal yang menggangu pandangan mereka. Tak lama setelah itu terdengar suara tembakan. Hanya anda yang berada paling dekat dengan para penjahat saat hal itu terjadi."
"Eh..." Sean melirik pada Julius dan Julia yang terlihat memalingkan muka. "Aku juga tidak terlalu tahu detailnya. Semua itu terjadi begitu cepat. Ada dua orang asing yang tiba-tiba datang dan membunuh para penjahat itu. Mereka bedua mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng ski yang membuat saya tidak dapat mengenali wajah mereka. Maaf, saya terlalu shock atas semua kejadian ini."
"Terima kasih atas informasinya. Kami akan mengajukan beberapa pertanyaan lebih lanjut disaat semuanya sudah tenang. Permisi," polisi itu berlalu pergi.
"Sean, apa benar semua itu terjadi padamu?" tanya Ny. Gelael.
"Te, tentu. Masa iya aku berbohong."
"Siapapun orang itu, aku sungguh sangat berterima kasih pada mereka karna telah menyelamatkan putraku. Benar juga. Aku harus meminta ayahmu mencari tahu identitas kedua orang tersebut agar aku bisa berterima kasih pada mereka berdua secara langsung," dengan bersemangat Ny. Gelael melangkah pergi mencari suaminya.
"Ibumu bersemangat sekali," kata Julia yang melihat itu. "Oh iya, aku hampir lupa. Aku harus mencari teman-teman ku. Ada pesta yang harus kami hadiri malam ini. Aku pergi dulu kak."
Sama seperti Ny. Gelael, Julia juga bergegas pergi meninggalkan Sean dan Julius untuk mencari kedua temannya, Wendy dan Febby.
"Dia sungguh gadis yang hebat," gumang Sean.
"Namamu Sean, kan?" tanya Julius yang sendari tadi diam.
"Iya."
"Aku biasanya tidak perna mengatakan ini pada sembarang orang, tapi terima kasih untuk yang tadi."
"Sama-sama..."
"Walau pun begitu bukan berarti aku mengizinkanmu untuk mendekati adikku!" potong Julius sambil melangkah pergi.
__ADS_1
"Dia benar-benar tidak bersahabat."
Polisi melakukan penyelidikan menyeluruh tentang masalah ini. Kawasan mall ditutup sepenuhnya dari aktivitas apapun sampai waktu yang tidak ditentukan. Semua jasad para penjahat itu juga sudah diamankan dan dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Menurut hasil kesimpulan dari polisi, para penyandera ini merupakan tahanan yang kabur dari penjara dua bulan yang lalu. Sudah banyak laporan dari kota sebrang yang melihat keberadaan mereka namun polisi belum kunjung berhasil menangkap satupun dari mereka. Sedangkan untuk motif dari penyanderaan ini jelas karna menginginkan uang semata. Polisi masih memburu otak dari penyanderaan ini yang berhasil melarikan diri. Menurut perkiraan polisi, orang tersebut masih bersembunyi pulau Balvana.
Sementara itu, sore harinya Tn. Gelael melakukan konferensi pers tepat di depan mall. Ia sangat menyayangkan atas apa yang terjadi hari ini. Ia meminta maaf pada semua termasuk korban-korban yang menjadi sandera dan dirugikan. Ia berjanji hal serupa tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang. Dan untuk para korban akan diberi kompensasi berupa uang. Karna masalah ini, keluarga Gelael benar-benar sangat dirugikan.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Krrriiiing....
Suara hp Marjorie berbunyi. Ia yang baru selesai mandi segera mengangkat telpon tersebut.
"Halo."
"Marjorie, ada tugas untukmu."
Mendengar itu membawa senyum ke wajah Marjorie. "Aku akan menyelesaikannya sesuai keinginanmu, Lady Blue."
"Itulah yang aku suka darimu, sayang. Aku meminta mu untuk membunuh seseorang. Data dan lokasinya akan dikirim padamu satu menit dari sekarang."
"Baik."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1