Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Jalan-jalan ke Mall


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan. Di hari sabtu yang cerah ini, sekitar jam 10.05 Julia, Wendy dan Febby bersiap pergi ke kota. Nisa pagi-pagi sudah dijemput oleh seseorang dari bawahan suruhan ayahnya, jadi ia tidak bisa ikut.


"Bagaimana caranya kita ke kota?" tanya Wendy.


"Kita bisa naik taksi atau angkutan umum lainnya," kata Febby menyarankan.


"Jangan khawatir, aku punya ini," terlihat Julia memutar sebuah kunci mobil di jari telunjuknya.


"Darimana kau mendapatkan kunci mobil itu?"


"Paman Samuel yang berikan padaku."


"Tapi tidak ada diantara kita punya sim. Kita masih dibawah umur untuk mengendarai mobil. Bisa-bisa kita ditilang polisi."


"Siapa bilang tidak punya? Aku punya," Julia menujukan kartu izin berkendara yang dikeluarkan dari dompetnya.


"Hebat. Bagaimana caranya kau bisa memilikinya?"


"Haha... Cukup mudah memalsu... Em, maksudku membuatnya. Eh... Bisa dibilang papaku punya kenalan di kantor kepolisian," bohong Julia sebisa mungkin. Hampir saja ia keceplosan. "Aah, lupakan itu. Ayok pergi," Julia mempercepat jalanya menuju parkiran untuk mengalikan kecurigaan teman-temannya.


"Sebagian dari kata-kata gadis ini sebaiknya jangan dipercaya," kata Wendy pada diri sendiri.


Sampai diparkiran, Julia menghampiri mobil berwarna biru gelap yang ada disana. Ia segera menggunakan kunci mobil yang ditangannya lalu melangkah masuk diikuti Wendy dan Febby. Julia menghidupkan mobil tersebut, kemudian menginjak pedal gas. Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah masuk ke jalan raya. Julia menambah kecepatan mobilnya diantara laju kendaraan lain.


Suasana yang disuguhkan pusat kota terbilang cukup ramai di akhir pekan. Hal wajar bagi kebanyakan orang akan berlibur setelah pekerjaan yang melelahkan, tapi ada juga diantara mereka yang memanfaatkan akhir pekan untuk meraut pundi-pundi uang.


Setelah setengah jam menyelusuri jalan kota akhirnya mereka sampai di mall terbesar di pulau Balvana. Julia membelokkan mobilnya masuk ke kawasan mall tersebut menuju parkiran yang terletak di bawah tanah gedung mall. Sepertinya mall selalu dipadati pengunjung apalagi di akhir pekan. Hal ini dibuktikan dengan Julia yang kesulitan mencari lahan parkir yang kosong. Lebih dari semenit mereka berkeliling, baru mendapat tempat parkiran dan itupun harus menunggu ada salah satu mobil yang keluar.


Selesai mendapat parkiran, mereka langsung naik ke lantai dasar mall. Mereka bertika dibuat takjub dengan kemewahan yang disuguhkan mall tersebut. Terdapat pilar besar yang menjulang sampai ke langit-langit. Pilar itu dilengkapi dengan gambar proyeksi yang menampilkan banyak hal, seperti maskot mall yang menyambut pengunjung, jam digital, informasi suhu dan cuaca, informasi promosi di beberapa toko yang ada dan banyak lagi. Selain pilar ada juga tangga sepiral dengan pegangan tangga juga dilekapi gambar proyeksi.

__ADS_1


"Wah... Ini tempat yang hebat. Kita bisa belanja sepuasnya disini," dengan sangat riang hati Julia rasanya ingin mengunjungi setiap toko yang ada.


"Eet... Jangan terburu-buru dulu, Julia," cengat Wendy menahan krah baju belakang temannya itu. Ia tahu betul apa yang ingin dilakukan Julia.


"Aah... Aku cuman mau lihat kelinci," rengek Julia sambil menuju salah satu toko dengan patung kelinci di depannya. Sifat kekanak-kanakkan Julia seketika kambuh.


Wendy seketika bingung melihat ekspresi gadis imut tersebut. "Ada apa dengannya? Kenapa ia berubah menjadi seperti anak-anak begini?" tanyanya pada Febby.


"Tidak tahu. Mungkin Julia adalah tipe orang yang gila belanja."


"Sebaiknya kita dia pasang tali pengikat. Bisa-bisa dia hilang di mall ini. Apa yang harus kita katakan pada Julius jika adiknya hilang?" saran Wendy.


"Kau benar. Aku takut dia malah membeli sesuatu yang tidak penting dan itu bisa menghabiskan uang sakunya."


"Tunggu, dimana Julia tadi?" Wendy seketika panik disaat menyadari Julia sudah tidak ada disisi mereka berdua.


"Aku tanpa sengaja melepaskannya tadi."


"Astaga! Ayok cari dia!"


Wendy dan Febby kalang kabut mencari Julia di lantai dasar diantara semua pengunjung mall. Setiap toko yang ada mereka telusuri. Dengan mengandalkan topi rajut berwarna terang yang Julia pakai sebagai ciri, Wendy dan Febby cukup dimudahkan mengenali temannya di keramaian. Namun kendala lain adalah gerakan Julia yang lincah. Baru melihat sekilas ia memasuki salah satu toko, begitu mereka mau menghampiri dan sampai ditoko tersebut, Julia sudah menghilang lagi dan ternyata telah ada di toko lain yang jaraknya lumayan jauh. Wendy dan Febby benar-benar dibuat kerepotan oleh Julia.


Bosan di lantai dasar sekarang Julia naik ke lantai dua yang tokonya jauh lebih banyak dan bervariasi. Sama seperti sebelumnya, Wendy dan Febby terus mengejar Julia walau nafas mereka sudah ngos-ngosan. Mereka takut Julia nanti membeli barang-barang yang tidak penting. Lebih dari sejam akhirnya Julia berhasil ditangkap saat ia sedang menikmati es krim disalah satu kedai.


"Hosh... Hosh... Julia, kau jangan berkeliaran sembarangan," Wendy menyandarkan tubuhnya yang lelah di kursi yang tersedia kedai itu.


"Iya. Hosh... Bagaimana kalau nanti kau tersesat?"


"Maaf karna telah membuat kalian kesulitan, tapi aku sungguh tidak tahan," ujar Julia dengan raut wajah penuh kasihan.

__ADS_1


"Aku tak habis pikir. Ternyata dia memiliki sifat anak-anak yang tak bisa terkontrol. Julia memang memiliki banyak kejutan. Untung dia belum sempat membeli sesuatu"


"Ini sungguh gawat, tapi... Dia benar-benar sangat imut. Cup, cup, jangan murung begitu. Julia mau makan es krim? Sini kakak suapi," Febby malah meladeni Julia. Ia berperan sebagai seorang kakak yang memanjakan adiknya.


"Hm," anggukan Julia berikan dengan senyum mengembang diwajahnya.


Sedangkan Wendy yang menyaksikan itu hanya bisa membaringkan kepalanya di meja dengan pasrah. "Aku pasti bermimpi. Astaga... Tolong! Siapapun bangunkan aku dari mimpi ini. Kenapa kedua temanku jadi seperti ini? Mana Nisa tidak ada lagi."


Beberapa menit beristirahat melepas lelah dan dahaga, mereka melanjutkan berkeliling mall. Tapi kali ini untuk mencegah Julia berkeliaran sembarangan lagi seperti tadi, Wendy terus mengandeng tangan Julia dan tak perna melepaskannya selama di mall tersebut. Mereka bertiga pergi ke toko pakaian yang ditunjuk Julia. Sebuah toko pakaian dari brand internasional. Wendy dan Febby awalnya menolak karna sebagian besar gaun yang dipajang di toko itu memiliki harga tinggi. Namun Julia bersikeras dan memaksa kedua temannya masuk. Di dalam mereka disambut ramah oleh salah satu stap toko.


"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" sapa stap toko itu.


"Iya. Saya mau melihat semua gaun terbaik kalian. Kami ingin menghadiri pesta malam ini," kata Julia pada stap toko itu.


"Baiklah, nona-nona. Kalian beruntung, kami memiliki stok gaun pesta yang baru datang kemarin. Saya yakin kalian menyukainya. Mari, ikuti saya."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2