Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menemui Nisa


__ADS_3

"Ya sudahlah. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa," pikir Rica.


Sampai di atas mereka bertiga kebingungan mencari di ruangan mana Nisa berada. Mereka sempat bertanya pada pelayan namun tidak ada yang tahu. Wendy mengeluarkan hpnya dan mencoba menelpon Nisa. Tak berapa lama telpon diangkat.


"Halo. Nisa, kau dimana kau? Kami sudah datang dan ada di lantai dua restoran sekarang," kata Wendy.


"Teman-teman, aku disini," panggil Nisa dari balik pintu yang dibukanya.


"Nisa?!" kata mereka serempak kaget melihat penampilan Nisa. Mereka bergegas menghampiri temanya itu dan masuk ke ruang tersebut.


"Wow... Kau cantik sekali malam ini," puji Febby.


"Aku sempat berpikir Ny. Pinkston mungkin memberikanmu gaun yang aneh-aneh untukmu, tapi nyatanya tidak. Gaun ini cocok sekali kau memakainya."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kami tidak mungkin bohong."


"Lalu kenapa raut wajahmu terlihat tidak senang begitu?" tanya Wendy.


"Gaun ini terlalu terbuka. Aku benar-benar malu jika harus turun menemui semua orang di bawah sana dengan mengenakan gaun ini," Jelas Nisa.


Gaun berwarna merah muda berbahan sutra dengan hiasan manik-manik mutiara memang cukup terbuka di bagian dada. Rok yang panjang dan memiliki belahan disisi kanan menampakan jelas paha Nisa disaat ia berjalan.


"Tapi menurutku ini bagus. Iya walau aku tidak bisa bilang tidak kalau gaun ini memang lumayan seksi," ujar Wendy menilai.


"Tapi menurutku tidak ada yang salah dengan gaunnya. Banyak tamu undangan yang bahkan hadir dengan mengenakan gaun yang lebih seksi darimu benarkan Julia?" kata Febby menanyakan pendapat Julia, namun... "Julia, kau sedang apa?"


Wendy, Febby dan Nisa dibuat keheranan dengan Julia yang sendari tadi meneliti gaun Nisa dengan cermat.


"Em... Jika dilihat secara sekilas gaun ini memang tidak ada yang salah. Nisa, coba berjalan," pinta Julia.


"Jalan? Baik."


Walau tidak mengerti, Nisa masil melakukan apa yang diminta Julia. Baru berjalan sekitar semeter, tiba-tiba...

__ADS_1


Brak!


Jahitan pada gaun yang Nisa pakai seketika lepas disaat Julia dengan sengaja menginjak ujung ekor dari rok gaun yang menyentuh lantai. Spontan Nisa menahani roknya agar tidak melorot sampai memperlihatkan pakaian dalamnya. Wendy dan Febby sangat terkejut atas apa yang dilakukan Julia.


"Itu yang aku maksud," ujar Julia tanpa rasa bersalah.


"Julia! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau merusak gaunnya?" tanya Febby.


"Gaunnya memang sudah rusak dari awal. Aku cuman sedikit menahan ujung roknya tapi rok itu langsung lepas seketika. Aku rasa Rica dan ibunya ingin mempermalukan Nisa malam ini dihadapan semua orang," jelas Julia.


"Lalu bagaimana ini? Karna gaunnya sudah rusak, Nisa tidak bisa turun dalam keadaan seperti ini," kata Wendy khawatir.


"Jangan khawatir. Aku sudah menduga hal ini dan tentunya aku memiliki solusinya," Julia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjitnya. Itu adalah sebuah dress pesta berbahan brokat berwarna biru muda.


"Ah, sebab itu ternyata kau memilih membawa tas yang paling besar."


"Kalau aku pilih tas yang kecil dapat dipastikan aku tidak bisa membawa dress ini. Maaf Nisa, dress ini mungkin tidak semewah gaun pemberian ibu tirimu tapi ini lebih baik dari pada gaun itu."


"Mendapatkan teman seperti kalian adalah suatu keberuntungan terbesar dalam hidupku."


"Selamat datang tuan muda Hamers," kata petugas itu menyambut kedatangan Jeffri. Ia sampai membungkukkan badannya.


"Tidak perlu formal."


Jeffri mengajak masuk Julius dan Carl ke Casino. Casino ini tidak jauh berbeda dengan Casino yang perna Julius kunjungi. Terdapat berbagai macam permainan judi yang disediakan untuk memancing para pengunjung berkantong tebal menghabiskan uang mereka.


"Selamat datang di Casino Lotus! Salah satu tempat hiburan terkenal di pulau ini," kata Jeffri memperkenalkan suatu hal yang sudah jelas di depan mata.


"Kenapa dinamakan Casino Lotus?" tanya Julius sedikit penasaran.


"Itu karna..." Jeffri seketika merakul bahu Julius kemudian berbisik. "Kau lihat para gadis yang membawa nanpan itu?"


"Iya."


"Mereka akan berkeliling menghampiri setiap tamu yang datang sambil menawarkan kue manis sekali gigit berbentuk bunga teratai. Jangan dimakan! Kue itu sebenarnya mengandung alkohol yang cukup tinggi. Jadi bagi yang memakainya terlalu banyak bisa menyebabkan mabuk berat. Jika mereka sudah mabuk, mereka akan tanpa sadar terus bermain di Casino ini sampai uang mereka habis," jelas Jeffri.

__ADS_1


"Ternyata kalian menggunakan cara licik untuk mendapat keuntungan," ujar Carl.


"Itu bukan cara licik tapi teknik marketing yang bijak. Mereka tidak bisa menyalahkan kami karna terus menghabiskan uang mereka untuk berjudi. Kami cuman melayani, bukan memaksa. Untuk masalah sadar atau tidak sadar itu adalah urusan mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan kami."


"Cara kalian menjalankan bisnis boleh juga," ujak Julius.


"Sudahlah. Kalian mau mau main? Aku traktir 10 chip masing-masing, bagaimana?" tawar Jeffri.


"Boleh. Diberi modal gratis siapa yang tidak mau," Carl segera setuju.


Mereka pergi menuju tempat pertukaran uang menjadi chip untuk bermain. Carl dan Jeffri datang ke sini murni untuk mencoba beberapa permainan judi yang ada tapi lain halnya dengan Julius. Ada tujuan lain ia datang kemari yaitu mencari infomasi. Disela-sela ikut mencoba salah satu permainan yang ada, Julius menajamkan pendengarannya percakapan dari para pengunjung yang hadir. Kebanyakan pada pengunjung adalah anak buah dari bos-bos besar yang sedang istirahat atau tidak ada perkergaan dari bos mereka. Mungkin karna masih belum larut, kesadaran mereka masih terjaga dengan baik. Untuk sekarang Julius belum bisa mendapatkan informasi apapun.


"Selamat! Anda menang lagi anak muda. Keberuntunganmu sungguh luar biasa," kata dealer Casino tersebut.


"Apa?" Julius yang terlalu fokus memperhatikan sekitarnya dibuat sedikit terkejut.


"Kau menang Julius," kata Carl membantu menjelaskan pada temanya yang terlihat bingung.


"Padahal keberuntunganmu bagus tapi kau terlihat tidak niat begitu dalam bermain," ujar Jeffri.


"Itu cuman keberuntungan semata. Aku memang iseng ikut bermain bersama kalian," Julius menerima hadiah dari chip yang dipasangnya. "Aku sudah sering bermain ini di Casino Krisan. Kemampuan mama jauh lebih hebat dariku."


"Permainan bagus nak, untuk pemula," kata seorang pria tiba-tiba datang menghampiri Julius, Carl dan Jeffri.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2