
Seminggu sebelum tanggal ulang tahun dari tuan besar Flors, Lina sudah disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang acara pernikahannya yang memang ditetapkan pada tanggal bertepatan dengan tanggal tersebut. Semuanya ini sesuai permintaan tuan besar Flors sendiri. Undangan telah disebar, foto prewedding juga telah dilakukan diberbagai tempat dan untuk persiapan lain sudah diatur pada orang-orang terpercaya. Tinggal pemilihan gaun dan kali ini Lina ingin melakukannya sendiri. Bersama Daniel, Lina pergi ke butik untuk mendapatkan gaun pengantinnya. Terdapat banyak pilihan gaun pengantin dibutik tersebut. Setelah beberapa saat memilih, mata Lina akhirnya tertuju pada gaun putih tak berlengan berbalut kain brokat mawar berwarna putih dengan rok gaun kembang serta berekor sepanjang tiga meter dan berhiaskan ratusan mutiara asli.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Pagi harinya di hari pernikahan, di kediaman. Lina saat ini tengah bersiap-siap. Dibantu Judy dan Emma, Lina mengenakan gaun pengantinnya. Rambut hitam panjangnya ditata rapi dan diberi hiasan tiara berlian yang tersemat di tudung pengantinnya. Untuk aksesoris lainnya juga telah melekat pada tubuhnya. Lina memandangi wajah serta tubuhnya sekali lagi dibalik cermin. Walau ia sudah menjalani pernikahan sebelumnya namun tetap saja ia masih merasa gugup. Pernikahan adalah sebuah acara yang sakral dan paling dinantikan serta diimpikan setiap orang.
"Istriku cantik sekali hari ini. Apa kau siap?" Daniel tiba-tiba datang dan langsung memeluk Lina dari belakang. Ia juga sudah rapi dalam balutan jas putihnya.
"Sedikit gugup."
"Bukankah kita sudah perna melaluinya, kenapa kau masing gugup?"
"Waktu itu berbeda, cuman anggota keluargamu saja yang hadir. Tapi kali ini kita akan menikah dihadapan ratusan tamu undangan."
"Kau benar. Pernikahan kita waktu itu belum dipublikasikan. Dan untuk hari ini akan aku beritahukan pada dunia kalau Veliana Cershom adalah istri tercintaku, belahan jiwaku, matahariku."
"Simpan kata-kata manismu untuk nanti. Ngomong-ngomong, dimana Julius dan Julia?"
"Dua malaikat manis kita itu sudah pergi duluan bersama ayah dan ibu ke gereja tempat acara pernikahan kita. Sebaiknya kita juga kesana, jangan membuat mereka semua menunggu."
"Baiklah."
Daniel membantu Lina membawakan sebagian besar ekor roknya yang menyentuh lantai agar lebih mudah untuk berjalan. Tapi bukannya turun ke bawah, Daniel mala mengajak Lina naik ke atas menuju teras atap.
"Kenapa kau mengajakku ke atas? Bukankah kita mau pergi ke tempat acara pernikahan?" tanya Lina bingung.
"Karna kendaraan yang akan membawa kita kesana ada di atas."
"Hah?! Kendaraan apa yang bisa ada di atap rumah?"
__ADS_1
"Kau akan tahu," jawab Daniel dengan senyuman
Sampai di atap Lina sedikit terkejut dengan kendaraan yang Daniel maksud. Sebuah helikopter berwarna putih bergaris biru yang telah dihias terpakir disana. Dua orang pilot yang berdiri di samping helikopter memberi hormat begitu melihat Lina dan Daniel.
"Ki, kita sungguh akan naik itu untuk kesana?" tanya Lina masih tidak percaya.
"Tentu saja. Kau menyukainya?"
"Wow... Ini benar-benar pengalaman baru dan tidak akan terlupakan," seperti tidak terganggu dengan gaunnya yang panjang, Lina berlari mendekati helikopter itu.
"Hei, hati-hati!" tegur Daniel sambil mengejar Lina.
Mesin dinyalakan, baling-baling helikopter mulai berputar. Tak lama, perlahan-lahan helikopter bergerak naik meninggalkan teras atap rumah. Dengan wajah berhiaskan senyum lebar, Lina meletakan sepuluh jarinya di kaca jendela sambil menikmati pemandangan kota dari atas. Gedung-gedung pencakar langit terlihat begitu berbeda rasanya begitu helikopter terbang melaluinya.
Lima menit mengudara Lina sudah dapat melihat gedung gereja tempat dimana tujuan mereka. Helikopter perlahan terbang merendah menuju titik pendaratan yang ada tepat di lapangan luas di depan gereja. Angin yang dihasilkan dari baling-baling helikopter membuat pohon-pohon yang ada disana bergoyang. Tak jauh dari titik pendaratan Ducan telah menunggu bersama dengan beberapa orang pelayan wanita. Ia menghampiri helikopter begitu sudah mendarat dengan selamat.
"Kau terlihat sangat cantik persis seperti ibumu dulu," puji Ducan pada putrinya sambil membantunya turun.
"Terima kasih ayah. Kau membuatku malu."
"Baiklah Daniel. Izinkan aku mengambil alih mulai dari sini. Mereka semua sudah menunggu kalian di dalam."
"Okey. Aku akan menunggumu masuk dengan anggun nanti. Sampai bertemu lagi di altar pernikahan," dengan setengah berlari Daniel pergi menuju gereja.
"Sekarang gilirang kita, sayang. Sebagai ayahmu, biarkan aku melakukan kewajiban ku mengantar putriku menuju kehidupan barumu. Oh tidak, kehidupan itu telah kau jalani. Kalau begitu menuju kehidupan yang lebih baik lagi."
"Aku gugup," Lina merangkul tangan ayahnya seperti rantai.
"Santai saja."
__ADS_1
Ducan membimbing putrinya menuju gereja. Beberapa pelayan yang ada membantu membawakan ekor gaun Lina agar tidak menyentuh tanah. Sampai di depan pintu gereja, Lina menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Pintu gereja dibuka setelah pelayan merapikan rok gaun Lina agar tampak mengembang disaat berjalan di atas karpet merah.
"Kau siap?" tanya Ducan sambil menoleh pada Lina.
"Siap."
Perlahan mereka melangkah masuk. Semua mata para tamu kini tertuju pada Lina. Dari sebagian besar tamu selain kerabat merupakan rekan bisnis, baik dari keluarga Flors atau keluarga Cershom. Karna tamu undangan berasal dari keluarga kalangan atas, tidak menutup kemungkinan Lina mengenali beberapa orang yang kebetulan satu universitas dengannya termasuk Reva dan Anisa.
Keluarga mereka berdua adalah rekan bisnis dari Ducan. Mengingat identitas Lina sebagai putri kandung Ducan yang hilang telah tersebar di masyarakat membuat mereka terlihat takut berpapasan dengan Lina. Datang ke acara pernikahan ini saja karna paksaan dari orang tua masing-masing.
Di kampus, mereka selalu menghindari untuk bertatap muka dengan Lina. Tidak seperti dulu disaat Violet masih ada. Begitu bertemu dengan Lina, Reva dan Anisa pasti langsung bersifat angkuh dan sombong. Lina tidak memperdulikan mereka. Banyak hal yang lebih penting dan berguna untuk dikerjakan dari pada berurusan dengan bocah. Mereka tidak menggangu dirinya saja sudah cukup untuknya.
Sambil menebar senyum manisnya, pandangan Lina hanya tertuju pada Daniel yang telah menungguhnya dihadapan pendeta. Sesekali ia melirik Julius dan Julia yang ada dalam pelukan Rayner dan Briety, atau melirik Ira yang terus memotretnya dengan kamera. Apa ia ingin mengganti profesinya sebagai fotografer ketimbang menjadi seorang dokter?
Acara pernikahan berjalan lancar dan khidmad. Janji suci diucapkan dengan lancar dan tanpa ada perubahan, sama seperti dulu. Untuk cincin pernikahan juga cincin yang sama. Daniel perna menyarankan untuk menggunakan cincin baru, namun Lina bersikeras ingin cincin lamanya. Ia mengatakan kalau cincin pernikahannya cukup satu itu saja dan tak akan tergantikan, seperti cinta mereka yang tidak akan perna tergantikan. Cinta sejati akan terus abadi sampai kehidupan selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1