
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku merasa bersalah jika melihatmu meneteskan air mata seperti ini," Julius melepaskan pelukannya lalu mengusap sisa air mata Julia.
"Aah... Andai aku memiliki kakak seperti Julius pasti aku sangat senang sekali. Bukan hanya tampan tapi juga penuh perhatian," kata Rica sambil berangan-angan.
"Kau mungkin memang tidak memiliki kakak tapi kau masih bisa menjadi kakak yang baik untuk Nisa, bukan?" kata Marjorie.
"Iya, mungkin kau benar Marjorie. Tapi Julius itu tipe pria idaman banyak disukai kaum wanita. Siswi-siswi yang ada di sekolah kita pasti tambah tergila-gila begitu tahu kalau pria dingin yang mereka kenal ternyata memiliki sisi hangat seperti ini. Seorang gadis yang bisa menjadi pasangannya adalah gadis yang paling beruntung di dunia."
"Oh, apa kau menyukai Julius?" ada sedikit nada cemburu dalam kalimat Marjorie.
"Tidak. Aku cuman berharap memiliki kakak seperti dia bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Aku... Aku sudah memiliki orang yang aku cintai," kata Rica malu-malu.
"Ooh.... Siapa gerangan pria beruntung itu yang disukai nona Pinkston ini?" Marjorie mendekatkan wajahnya dengan ekspresi menggoda.
"Aah... Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku malu," Rica mendorong wajah Marjorie. Pipinya semakin merona karna kalimat Marjorie barusan.
"Hihi..." Marjorie tertawa kecil melihat Rica.
Mereka berempat kembali penginapan dengan rasa kecewa dari para penonton balapan. Bagaimana tidak. Hal yang di nanti nanti kan malah berakhir tidak seperti yang diharapkan. Tidak ada pemenang dari perlombaan ini dan hadiah yang sempat disiapkan malah dibagi rata ke pembalap. Tapi untuk menutup kekecewaan tersebut, pada malam harinya mereka mengadakan pesta BBQ di taman belakang.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Hari ini mereka semua sudah sepakat pergi memancing di bukit belakang penginapan. Terdapat sungai disana yang jika ditelusuri akan terhubung langsung dengan danau di belakang sekolah Anthony. Dengan perbekalan dan perlengkapan memancing yang sudah disiapkan, mereka berangkat menuju sungai dengan berjalan kaki. Walau jarak dari penginapan ke sungai terbilang cukup jauh namun mereka segaja berjalan kaki kesana. Sambil menikmati udara segar tanpa polusi, bukankah dengan seperti ini malah semakin menyenangkan. Bagi Samuel, Julius, Carl, Yusra, Julia, Marjorie dan Rica sebenarnya bukan masalah namun yang lain terlihat sudah kelelahan setelah berjalan selama lebih dari sejam. Sepanjang perjalanan tadi mereka beberapa kali mengeluh tapi begitu sampai di sungai, rasa lelah mereka terbayarkan oleh keindahan air terjun mini bertingkat. Air yang sebening kaca mengalir jatuh melalui cela bebatuan.
Seperti tidak merasa lelah sama sekali, mereka segera mempersiapkan alat memancing mereka dan sebagian lagi membentang tikar di bawah pohon yang rindam serta menyusun semua perlengkapan piknik. Tim memancing dibagi menjadi dua kelompok yaitu tim laki-laki dan tim perempuan. Di atas bebatuan besar yang tersebar disepanjang sungai itulah mereka memancing. Upan di lempar ke air sungai yang jernih. Kesabaran menjadi kunci utama. Beberapa menit menunggu umpan dari pancing Feli disambar ikan. Feli terlihat kesulitan menarik ikan naik ke daratan karna ukurannya yang lumayan besar. Samuel terpaksa membantunya menarik ikan tersebut. Sorak dan ucapan selamat diberikan yang lain begitu bu guru mereka berhasil menjadi yang pertama mendapatkan ikan.
Secara bergantian kemudian upan yang lain juga disambar ikan kecuali milik Julia. Ia sudah gonta-ganti upan sendari tadi namun tetap saja ia tidak mendapatkan satupun ikan. Kesal karna hal itu, Julia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia turun dari bebatuan sungai lalu mengambil satu benda dari keranjang yang ia bawa. Itu adalah robotnya, Pippo. Julia menekan tombol tersembunyi di robot nya tersebut. Begitu tombol di tekan muncul cela yang mengeluarkan senjata tersembunyi di dalamnya. Julia meraih senjata itu lalu kembali sungai. Dengan mengandalkan mata yang jeli, Julia mulai membidik ikan di dasar sungai. Setelah mengunci sasarannya...
Dor!
__ADS_1
Satu tembakan Julia luncurkan dan tepat mengenai ikan tersebut. Semua orang yang mendengar suara tembakan itu dibuat kaget bukan main. Mereka melirik ke arah Julia dengan ekspresi sama. Julia tidak mempedulikan itu. Ia turun ke sungai yang kedalamannya cuman selutut itu untuk mengambil ikan yang berhasil ia tembak tadi sebelum jauh hanyut oleh arus sungai.
"Akhirnya aku mendapatkan ikan juga," teriak Julia sambil menunjukan ikan yang lumayan besar.
"Hehe... Cara adikmu sungguh unik, Julius," ujar Carl yang duduk di sebelah Julius.
"Iya. Kalau tidak begitu bukan Julia namanya," Julius hanya menatap datar lalu kembali fokus memancing.
"Hei! Itu curang! Mana boleh menangkap dengan cara seperti itu. Kita ini sedang memancing tahu!" teriak Rica.
"Memancing sungguh membosankan. Sendari tadi aku tidak mendapatkan ikan sama sekali. Menembak mereka seperti ini jauh lebih praktis."
Julia kembali membidik ke dasar sungai dan meluncurkan lagi satu tembakan. Ia kembali mendapatkan ikan walau ukurannya lebih kecil dari yang pertama. Samuel, Julius, Carl, Yusra, Sean, Marjorie, Nisa, dan Rica tentu tidak terlalu dibuat terkejut lagi melihat Julia yang begitu piawai menggunakan senjatanya untuk menangkap ikan, namun bagi Jeffri, Alwen, Chris, Wendy, Febby, Kety dan Feli tidak begitu. Mereka saja baru tahu kalau Julia memiliki senjata dan sangat mahir menembak. Mereka tidak tahu harus berkata apa melihat aksi Julia.
"Julia, apa kau lupa kalau kita sekarang sedang bersama yang lain," kata Marjorie mengingatkan Julia dengan orang-orang yang masih dibuat terkejut olehnya.
Julia melirik satu persatu teman-temannya dan baru menyadari itu tapi Julia malah bermaksud membuat mereka lebih terkejut lagi.
"Boleh," jawab Nisa tanpa sadar.
Nisa meletakan pancingnya lalu menghampiri Julia. Seperti dugaan Julia, mereka tambah dibuat kaget. Nisa, si gadis yang dikenal pemalu ternyata bisa menembak juga. Jika tidak melihatnya sendiri mungkin tidak akan ada yang percaya. Wendy dan Febby meletakan pancing mereka dan ikut menghampiri Julia. Mereka berdua ingin melihat lebih dekat apa Nisa memang benar bisa menembak. Julia menyerahkan senjatanya pada Nisa dan mulai membimbing Nisa agar dapat menembak ikan yang berenang dalam air tersebut.
"Nisa, apa sungguh bisa menembak?" tanya Wendy.
"Julia perna mengajariku tapi ini pertama kalinya aku mencoba menembak target yang bergerak. Sepertinya sangat sulit," jawab Nisa. Ia memfokuskan diri pada target yang mulai terlihat.
"Tidak terlalu sulit jika kau sudah bisa melakukannya. Yang paling penting jangan menembak tepat ke target. Usahakan sebisa mungkin menembak ke arah kemana dia akan bergerak," jelas Julia.
"Bagaimana caranya kita tahu ikan tersebut berenang kemana?" tanya Febby.
__ADS_1
"Kau harus yakin," Julia membantu Nisa membidik sasaran. "Tembak!"
Nisa segera menarik pelatuknya. Peluru melesat cepat menuju target, namun sayangnya tidak berhasil mengenai ikan tersebut sama sekali. Raut wajah Nisa tampak kecewa.
"Sial, meleset. Pelurunya cuman mengenai ujung ekornya saja."
"Cobalah lagi. Pasti kau bisa."
"Aku rasa tidak."
"Kenapa?"
"Kau kelupaan mengisi pelurumu lagi Julia."
"Apa? Benarkah?" Julia memeriksa isi peluru dalam senjatanya dan benar saja tidak ada satupun peluru yang tersisa. "Astaga, aku lupa mengisi pelurunya dan aku tidak membawa peluru cadangan. Maaf ya Nisa. Aku membuatmu kecewa."
"Tidak apa-apa Julia. Lagi pula aku tidak yakin berhasil melakukannya."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε