Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Festival kebudayaan


__ADS_3

Besok paginya. Langit terlihat cerah dengan sisa titik-titik hujan masih menetes di dedaunan. Burung-burung dari hutan berkicau ria menyambut sinar mentari pagi. Udara yang sempat dingin perlahan-lahan mulai menghangat. Seperti biasa Julia lah yang terakhir bangun dari ketiga teman-temannya. Julia mengucek matanya dan melirik ke arah Febby begitu Febby memanggilnya dengan semangat.


"Ayok cepat bangun Julia. Kau tidak mau ketinggalan acara pembukaan festival kebudayaan, kan?"


"Iya. Aku turun. Aku mau mandi dulu. Jangan tinggalkan aku ya."


"Makanya cepatlah atau kami sungguh akan meninggalkanmu," kata Wendy.


Dengan masih menguap, Julia melangkah menuju kamar mandi. Selesai mandi dan bersiap-siap mereka berempat berangkat menuju halaman utama sekolah. Disana sudah berdiri kokoh sebuah panggung yang besar lengkap dengan barisan kursi dihadapannya. Sebagian besar siswa dan siswi telah menempati kursi mereka masing-masing. Para orang tua murid juga telah berdatangan silih berganti. Beberapa kendaraan terus memasuki area sekolah dan memarkirkan kendaraan mereka di area parkir yang luas. Mereka merupakan para orang tua/wali murid yang memang sengaja diundang untuk memeriahkan acara ini.


Melihat kedatangan para orang tua yang disambut oleh anak-anak mereka membuat Julia sedih. Ini karna kedua orang tuannya tidak bisa hadir pada hari ini. Namun ia berusaha menutupi kesedihannya itu supaya tidak diketahui oleh teman-temannya. Mereka berjalan mencari kursi kosong yang tersedia untuk mereka berempat duduk bersebelahan. Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka menemukan tempat yang cocok bagi mereka. Disaat Julia menghampiri teman-temannya...


"Julia!" panggil Samuel.


Mendengar itu membuat Julia menoleh. "Paman Samuel datang?"


"Iya, tentu saja paman harus datang. Paman kan guru musik di sekolah ini. Ngomong-ngomong, dimana Julius?"


"Tidak tahu. Mungkin bersama teman-temannya."


"Ada apa ini Julia? Kenapa wajahmu murung begitu? Apa karna orang tuamu?" tanya Samuel yang tahu betul perasaan Julia saat ini.


"Padahan mereka sudah janji tapi malah tidak jadi datang."

__ADS_1


"Jangan bersedih keponakanku yang manis. Mungkin hari ini mereka tidak bisa datang, tapi bisa saja besok atau lusa pekerjaan mereka sudah selesai dan datang untuk melihat pertunjukan kalian," kata Samuel berusaha menghibur Julia.


"Aku tidak yakin akan hal itu. Biasanya urusan mendesak seperti itu apalagi diluar kota biasanya memakan waktu paling lambat tiga hari untuk selesai. Tapi semoga saja apa yang paman katakan benar. Aku pergi dulu paman. Acaranya sudah mau dimulai," dengan masih berusaha tetap tersenyum. Julia berbalik dan sedikit berlari mengehampiri teman-temannya sebelum kursinya hilang.


"Oh... Julia ku yang malang. Ingin sekali aku langsung memeluknya. Aku benar-benar rindu padanya," ujar Lina sambil menghampiri Samuel bersama Daniel dan juga putra putrinya. Mereka berempat saat ini sedang menyamar agar tidak diketahui oleh Julia.


"Jangan dramatis begitu kucing kecil nanti dia menyadari keberadaan kita," kata Daniel sambil membetulkan kumis palsu nya.


"Iya ma, nanti rencana ini akan gagal."


"Aku tahu itu. Aku cuman terbawa emosi."


"Ayok kita ke tempat duduk kita. Adelia, Adelio," Daniel mengandeng tangan putra dan putrinya itu menujuk kursi mereka.


"Selamat pagi para hadirin siswa dan siswi SMA Anthony serta juga para orang tua/wali murid yang sudah menyempatkan diri hadir pada hari ini. Seperti biasa setiap tahunnya SMA Anthony akan mengadakan Festival kebudayaan yang akan berlangsung selama tiga hari, dimulai dari hari ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, festival kebudayaan tahun ini akan diisi dengan berbagai kegiatan dan penampilan dari para murid-murid berbaakat. Selain itu terdapat juga bazar yang yang menyediakan banyak jajanan dan cinderamata dari berbagai negara sebagai bentuk ragam budaya. Walau kebudayaan kita berbeda antara satu sama lain tapi di sekolah Anthony ini semuanya menjadi satu. Tak perlu belama-lama lagi. Dengan ini, saya selaku kepalah sekolah SMA Anthony menyatakan festival kebudayaan di buka!" teriak Tn. Vincent diakhir kalimatnya.


Riuh tepuk tangan dari para hadirin. Tn. Vincent kembali ke tempat duduknya yang bersebelahan dengan stap penting sekolah lainnya. Pembawa acara itu mengambil alih kembali acara. Ia mempersilakan band sekolah untuk tampil pertama. Sambutan meriah diberikan. Anggota band yang terdiri dari lima orang itu mulai memainkan musik mereka. Berbeda dengan kelas musik, band ini merupakan bentukan sendiri dari para siswa dan siswi yang berminat membentuk band. Mereka cukup mengajukan proposal kepada kepalah sekolah. Jika proposal tersebut diterima dan mendapat izin, maka mereka sudah bisa mulai latihan dengan diperbolehkannya menggunakan fasilitas sekolah yang ada. Selain penampilan dari band sekolah, ada juga persembahan tarian dan permainan alat musik tradisional.


Acara di panggung terus berlanjut sampai jam makan siang tiba. Semua orang bubar untuk makan siang atau cuman berkeliling di taman dekat danau. Sebagian para siswa dan siswi juga ada yang telah membuka toko kecil mereka dan bersiap-siap berjualan atau mengadakan permainan kesempatan. Di bazar ini sudah mulai dikerumuni banyak orang yang sekedar ingin melihat-lihat atau membeli sesuatu yang menarik perhatian mereka. Yang paling ramai dikerumuni tentu saja jajanan pasar dari berbagai negara.


Begitu juga dengan Julia, Wendy dan Nisa lakukan saat ini. Sedangkan Febby, ia tiba-tiba hilang entah kemana setelah semua orang bubar. Mereka berkeliling menyulusuri bazar dibagian jajanan pasar. Walau makan camilan merupakan kegemaran Julia tapi entah mengapa hari ini ia terlihat tidak berselera sama sekali. Ajakan dari Wendy dan Nisa yang ingin mencoba ini itu dengan berbagai tingkah mereka tetap saja tidak bisa membuat Julia ceria seperti biasa.


"Ada apa Julia? Kami perhatikan sendari tadi kau tidak terlihat senang hari ini," tanya Wendy.

__ADS_1


"Iya. Biasanya kalau sudah urusan camilan seperti ini kau yang paling bersemangat."


"Aku sangat senang hari ini, cuman... Ini karna orang tuaku. Mereka tidak bisa datang hari ini karna ada urusan mendesak," jelas Julia sambil tertunduk murung.


"Jangan murung begitu Julia, orang tuaku juga tidak bisa datang hari ini. Bagaimana kalau untuk menghibur mu, aku mentraktirmu apa saja yang kau suka di bazar ini, mau?"


"Apa kau yakin Wendy?"


"Tentu saja."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2