
"Adelia! Jangan lari-lari! Kau bisa menabrak orang tahu!" kata Julius memperingatkan adiknya itu.
"Aku sudah dapat minuman dinginnya. Ini untukmu Adelio," Adelia memberikan salah satu minuman dingin yang ada di tangannya pada Adelio.
"Terima kasih," Adelio menerima minuman tersebut lalu diserumputnya.
"Dimana papa dan mama?" tanya Adelia.
"Disana," tunjuk Julius di area permainan kesempatan.
Adelia menoleh ke arah yang ditunjuk kakaknya itu. Terlihat disana papa dan mama mereka begitu asik bermain permainan menembak target menggunakan panah dart untuk mendapatkan hadiah sebuah boneka. Dengan berapa boneka lain dari permainan sebelumnya yang sudah ada di tangan, Lina terlihat senang begitu Daniel berhasil mencetak poin tertinggi dan mendapatkan hadiah utama.
"Ternyata mereka sedang kencan rupanya," ujar Adelia dengan ekspresi datar.
"Mereka meninggalkan kita lagi."
"Tidak apa juga. Berkeliling sendiri jauh lebih mengasikan. Kita bisa melakukan apa yang kita mau."
"Tapi kita bisa tersesat di keramaian ini."
"Kan masih ada kak Julius."
"Sudah aku duga akan terjebak bersama kalian," gumang Julius. Tiba-tiba matanya tertujuh pada seorang gadis yang sangat ia kenal. "Itukan Marjorie. Apa yang dilakukannya sendirian disana? Dimana tuan muda itu?" pikir Julius. "Adelia, Adelio, jenguklah papa dan mama, kakak ada urusan sebentar."
"Kakak mau kemana?" panggil Adelia namun tidak di dengar Julius.
"Sekarang kak Julius yang meninggalkan kita. Kalau seperti ini lebih enak bersama kak Julia. Ayok jenguk papa dan mama," ajak Adelio. Baru hendak berbalik, Adelia seketika menahan tangannya.
"Jangan nganggu papa dan mama yang sedang kencan. Bagaimana kalau kita ikuti kak Julius? Lihat siapa yang ditemuinya itu?" tunjuk Adelia pada kakaknya yang terlihat menghampiri dengan seorang gadis.
"Tapi kakak meminta kita menemui papa dan mama. Wanita itu paling cuman teman kak Julius."
"Apa mungkin? Bagaimana kalau dia pacarnya kak Julius? Ayok kita ikuti kakak," Adelia menarik tangan Adelio membuntuti kakak menarik.
"Kau mau apa?"
"Mencari tahu siapa gerangan gadis yang telah berhasil meluluhkan hati kakak kita yang galak itu."
"Kak Julius tidak galak tapi memang kau yang nakal," gumang Adelio.
Julius bergegas menghampiri Marjorie karna ia tidak mau kehilangan jejak Marjorie di kerumunan ini. Tepat waktu sebelum Marjorie pergi, Julius segera menyapanya. Marjorie menoleh begitu mendengar namanya dipanggil seseorang.
"Julius? Em... Ada apa?" tanya Marjorie.
__ADS_1
"Aku cuman ingin menyapamu. Kulihat seorang gadis sendiri, jadi aku menghampirinya. Dimana orang itu?"
"Siapa? Yusra?"
"Siapa lagi. Kau kan selalu bersamanya."
"Dia sibuk dengan kedua orang tuanya. Mana mungkin aku harus ikut juga."
"Baguslah."
"Apanya yang bagus?"
"Dirimu. Ah, maksudku... Aku..." Julius seketika gugup dibuatnya. Belum perna ia merasa perasaan seperti ini. Benar-benar memalukan bagi orang yang dikenal dingin bisa salah tingkah dihadapan seorang gadis.
"Julius," panggil Marjorie.
Julius terpaku diam menatap wajah di depannya. Mata biru yang indah diantara helaian rambut pirang keemasan itu membuat Julius tanpa sadar berkata. "Mau jalan bersama?"
Marjorie tersenyum. "Kebetulan aku tidak ada kegiatan sampai sore ini, jadi aku akan meladenimu."
Marjorei menggandeng tangan Julius lalu mengajaknya berjalan diantara orang-orang. Sementara itu Adelia dan Adelio terus mengikuti kakak mereka. Di dalam kerumunan yang ramai memungkinkan mereka tidak ketahuan, tapi kedala lain adalah mereka harus jeli dan cepat agar tidak kehilangan jejak. Selama mengikuti Julius dan Marjorie, mereka terlihat cuman membeli masing-masing es krim lalu pergi ke taman. Mereka memilih kursi taman yang cukup sepi dari orang-orang yang lalu lalang. Dibawah pohon yang rindam dengan angin sepoi-sepoi memang cocok untuk bersantai di hari yang terik ini. Sambil menikmati es krim yang manis dihadapan danau berkilauan akibat matahari membuat suasana menjadi lebih baik.
"Udara disini menyegarkan."
"Es krim kakak meleleh," kata Adelia tiba-tiba membuat Julius tersadar.
"Apa?!" Julius segera menyekat bekas lelehan es krim yang mengaliri di tangannya menggunakan selembar tisu yang disodorkan Adelio.
"Siapa anak-anak manis ini?" tanya Marjorie begitu melihat Adelia dan Adelio.
"Mereka adik-adik ku," kata Julius yang masih sibuk membersikan es krim di tangannya. Butuh beberapa saat baginya untuk tersadar sepenuhnya. "Tunggu. Adelia, Adelio, bagaimana kalian bisa ada disini? Kalian membuntuti kami?"
"Aku tidak ada maksud mengikuti kakak tapi aku dipaksa," kata Adelio membela diri.
"Tidak ada gunanya juga kak Julius marah," Adelia mengambil tempat duduk antara Julius dan Marjorie. "Hei, hei. Kalau boleh tahu siapa nama kakak?"
"Namaku Marjorie," kata Marjorie memperkenalkan diri.
"Eh... Kakak orang Swedia, ya?" tebak Adelia dengan mata melebar.
"Iya."
"Hihi... Aku suka mata kakak. Sungguh cantik."
__ADS_1
"Oh... Terima kasih. Kalau boleh kuberi tahu, kau juga sangat manis."
"Terima kasih kembali. Namaku Adelia dan yang itu kembaran ku, namanya Adelio," tunjuk Adelia pada Adelio yang duduk disebelah Julius sambil menghabiskan es krim kakaknya.
"Kembaran? Kalian berdua kembar? Tapi kakak kalian juga memiliki kembaran. Wow... Ini sungguh langkah. Sangat sulit dipercaya jika tidak melihatnya sendiri."
"Memang kebanyakan orang tidak percaya tapi ini benar-benar kenyataannya."
"Sudah cukup. Kalian sudah berkenalan, kan? Sebaiknya kalian kembali pada papa dan mama. Jangan mengganggu kami," ujar Julius.
"Kenapa kakak mau mengusir kami? Aku tidak mau pergi. Lagian kakak Julius juga cuman memperhatikan dia saja. Siapa yang suka dengan suasana canggung begitu," kata Adelia mencibir kakaknya.
"Apa yang kau tahu, dasar bocah!"
Baru juga digertak, Adelia tiba-tiba langsung merangkulkan tangannya ke pinggang Marjorie. "Kak MJ, takut! Kakak galak."
"MJ? Baru berkenalan beberapa menit aku sudah diberi julukan oleh gadis kecil ini," pikir Marjorie. Ia meletakan tangannya di punggung Adelia dan mengelusnya dengan lembut. "Sudahlah Julius. Biarkan saja jika mereka ingin disini."
Julius tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam adiknya itu, namun Adelia tahu betul kalau tatapan itu berisyarat memintanya melepaskan pelukannya pada Marjorie. Adelia tentunya menggeleng dan malah menjulurkan lidahnya pada Julius.
"Adelia... Lepaskan dia sekarang!" kata Julius terdengar seperti gumangan yang ditekan amarah.
"Tidak mau. Apa kakak kepengen?" seperti tidak takut dengan acaman Julius, Adelia malah menggodah kakaknya itu.
"Apa?!"
Sambil tersenyum, Adelia semakin mempererat pelukannya. "Tubuhnya benar-benar hangat loh, dan... Em... Wangi."
"Adelia...!" teriak Julius tak tertahan lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε