
"Memangnya robot mana yang mau kau minta papa kirimkan? Perasaan semua rancangan robot mu tidak ada yang berhasil," ejek Julius pada adiknya sendiri.
"Siapa bilang tidak ada yang yang berhasil?!! Pippo buktinya," tunjuk Julia pada robot Pinppo yang dibawanya.
"Robot ini buatanmu sendiri, Julia?" tanya Sean. Ia mengapai robot kecil itu agar bisa melihatnya lebih dekat lagi.
"Haha... Tentu saja. Hebat, bukan?"
"Luar biasa hebat," puji Sean.
Sean hendak menekan tombol kecil yang ada bagian belakan robot tersebut, namun dengan cepat Julia melarangnya. Ia menrebut kembali robotnya yang ada di tangan Sean.
"Jangan tekan tombol itu."
"Kenapa? Memangnya tombol apa itu? Apa semacam senjata rahasia?"
"Jika kau mau berpikir demikian."
"Apa?! Itu tadi nyaris saja," batin Sean. Ia hampir lupa kalau Julia bukanlah gadis kecil biasa. "Suatu hari nanti kau pasti bisa menjadi pencipta robot yang sangat terkenal," katanya kemudian untuk mengalihkan pembicaraan.
"Itu cita-cita ku. Baiklah. Ada dua rekomendasi robot yang bisa kita ikut perlombahkan. Yang pertama adalah robot pendamping kesehatan pribadi. Robot ini berfungsi untuk membantu pemiliknya jika mengalami cedera ringan maupun serius. Dilengkapi dengan hologram yang dapat menampilkan cara terbaik melakukan pertolongan pertama saat cedera setelah memindai kondisi kesehatan pemiliknya. Kita bisa menambahkan fitur lain seperti dilengkapi dengan obat-obatan dan alat kesehatan lainnya. Sebenarnya aku merancang robot ini untuk mempermudahkan mama berkerja di rumah sakit. Dan yang kedua adalah mikrobot. Robot berukuran kecil berjumlah banyak yang dapat diperintahkan melakukan apapun yang kita inginkan jika mereka bergabung," jelas Julia.
"Em... Aku rasa aku pilih yang pertama. Kalau yang kedua kurasa tingkat kesulitan pembuatannya jauh lebih tinggi dan lagi kita harus membutuhkan banyak robot-robot tersebut," ujar Nisa.
"Kupikir apa yang kau katakan benar juga Nisa. Okey, kita pilih robot yang..."
"Tidak juga," potong Sean. "Dari pada memilih diantara keduanya, kenapa tidak digabungkan saja?"
__ADS_1
"Gabungkan?" ulang Julia.
"Iya. Menggabukan dua rancangan robot itu menjadi satu. Bukankan itu hebat? Sebuah robot pendamping kesehatan keluarga. Satu robot tapi bisa dipecah menjadi beberapa robot kecil untuk mendampingi setiap anggota keluarga. Robot-robot tersebut terhubung antara satu sama lain walau terpisah sangat jauh. Dengan begitu setiap keluarga bisa mengetahui kondisi dari anggota keluarga mereka yang lainnya. Tidak ada kekhawatiran lagi jika harus berpergian jauh."
"Aku akui kalau ide itu cukup menarik, tapi terpaksa rancangan mikrobotnya diperbesar setidaknya lima kali lipat dari ukuran semula," kata Julius.
"Tidak masalah. Aku akan minta papa segera mengirimkan kedua cetak biru itu dan peralatannya dengan begitu kita bisa cepat memulai membuat robotnya. Kita pasti menang."
Julia menelpon papanya untuk mengirimkan cetak biru dari dua rancangan robotnya dan semua perlengkapan dan bahan-bahan untuk membuat robot. Daniel segera menyetujui keinginan putrinya itu. Ia langsung meminta seseorang untuk mengirimkan semua apa yang diminta Julia. Tidak sampai 24 jam barang yang diinginkan Julia telah sampai dengan selamat. Mereka berempat memulai pekerjaan mereka dalam merancang robot tersebut. Julius bertugas menyusun data-data yang berisi informasi tentang pertolongan pertama dan juga menyiapkan obat-obatannya. Julia merancang ulang rancangan kedua robot itu agar bisa disatukan sesuai dengan yang dinginkan. Ia meminta saran dari Nisa dan Sean untuk membunculkan ide supaya lebih cepat lagi pengerjaannya.
Setelah rancangan sudah siap, mereka mulai membuat robot tersebut. Dengan mengikuti rancangan yang ada, bahan dan persedian juga lengkap, serta sesekali mereka meminta bimbingan dari Samuel, robot ciptaan mereka sudah hampir selesai. Walau beberapa kali terjadi kendala saat uji coba tapi itu tidak membuat mereka menyerah. Kerja sama dan saling membantu membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.
Hampir setiap sore mereka berkerja bahkan diakhir pekan sekalipun. Mereka mau mengejar ketertinggalan dari kelompok lain. Karna hal ini membuat mereka tidak ada waktu untuk bersantai bersama teman-teman. Mau bagaimana lagi, Febby juga disibukkan dengan kegiatannya di klub yang diikutnya. Malahan dia lah yang terlihat paling sibuk diantara teman sekamarnya. Sedangkan Wendy, ia tidak mengikuti kegiatan apapun untuk memeriahkan festival kebudayaan ini. Jadi untuk mengisi waktu luangnya, ia ikut melihat-lihat proses pembuatan robot. Julius, Julia, Nisa dan Sean tidak keberatan sama sekali asalkan Wendy tidak mengganggu.
Walau mereka semua disibukkan dengan kegiatan masing-masing setiap harinya, tapi Julius, Julia, Nisa, Febby dan Wendy masih menyempatkan diri untuk berlatih musik. Mereka dan beberapa teman di kelas musik lainnya terpilih untuk menampilkan sebuah pertunjukan sebagai penutup di festival kebudayaan nanti.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Suara telpon berbunyi. Pemilik dari hp tersebut segera mengangkatnya.
"Iya pengurus Hans. Ada apa?"
"Ada laporan dari markas pusat. Seluruh senjata yang di pesan sudah datang. Kita tinggal membagikan semua senjata itu ke setiap anggota mafia yang direkrut, setelahnya nona bisa menurunkan perintah untuk melakukan penyerangan ke ibu kota kapan saja."
"Penyerangan kita undur dulu."
"Oh, kenapa? Apa ada masalah nona?"
__ADS_1
"Tidak ada masalah, cuman disini aku mendapat informasi menarik. Julia saat ini tengah mengembangkan sebuah robot ciptaannya yang dapat sangat berguna saat menjalankan misi. Aku menginginkan rancangan robot tersebut sebelum penyerangan. Anggap saja untuk beberapa hari kedepan mereka melakukan persiapan untuk berperang."
"Baik. Saya akan memerintahkan mereka untuk berlatih lebih giat lagi."
"Bagus," Lady Blue memutus telponnya. Sambil berpikir ia menatap keluar jendela kelasnya yang keadaan sedang sepi saat itu. "Hm... Bagaimana aku mendapatkan cetak biru robot tersebut, ya? Apa aku minta bantuan dari Yusra saja? Baiklah, aku coba dulu. Sudah saatnya kau aku gunakan."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Aduh... Mereka pasti lama menungguku. Ini semua gara-gara antrian panjang itu!"
Julia mempercepat langkahnya menelusuri setiap lorong sekolah. Ia baru kembali dari membeli minuman soda dan camilan untuk teman-temannya yang lain. Kenapa Julia hanya sendirian? Itu karna ia kalah bermain gunting, batu, kertas. Ia mendapat hukuman harus mentraktir minuman soda. Untuk menghilangkan raja jenu, mereka mamang sering melakukan permainan kecil di sela-sela pekerjaan mereka. Namun ditengah perjalanan Julia bertemu dengan orang yang tidak dinginkan.
"Apa kabar sayangku?" rayu Yusra yang memang sendari tadi menunggu kedatangan Julia. Ia ditemani Marjorie yang berdiri sekitar dua meter dari mereka.
"Mimpi apa aku semalam sampai aku bertemu dengan makhluk ini?" gumang Julia. "Aku sedang terburu-buru. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu. Menjauh lah dariku!"
"Aku mohon jangan seperti ini sayang. Aku sengaja menunggumu disini karna ada sesuatu yang mau aku tawarkan padamu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε