Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Bosan bersandiwara


__ADS_3

"Kalian berdua berdua minggir. Jangan menghalangi jalanku," ujar seseorang membuat Lina dan Ira menoleh ke belakang.


"Violet. Apa maksudmu menghalangi jalanmu? Lorong universitas ini begitu luas sampai mobil pun masih bisa lewat."


"Mungkin dia menganggap dirinya sebagai truk sangking gemuknya, sebab itu menyuruh kita minggir," ledek Lina sambil mengembungkan pipinya.


"Kau benar juga Lina. Harus kah kita menepi atau mungkin mengambil jalan lain," timpal Ira.


"Berani sekali kalian mengataiku gemuk!!" bentak Violet langsung kesal.


"Kami tidak mengataimu gemuk. Kau sendiri yang bilang."


"Hei Lina! Kau cuman mahasiswa miskin jangan sok hebat! Sadar diri kau itu sedang berbicara dengan siapa! Apa kau mau dikeluarkan dari universitas ini?" ancam Riva sambil menunjuk Lina.


"Riva, kau tidak takut tertimpa sial," bisik Anisa yang bersembunyi di belakan Riva. Ia masih trauma atas kecelakaan yang menimpanya dulu.


"Sudah aku katakan berkali-kali, aku sama sekali tidak percaya itu. Kecelakaan itu terjadi karna kabel rem mobil kita diputus secara sengaja. Bukan karna kesialan telah menggangu gadis kampung ini."


"Apa yang kau katakan benar Riva, dan seseorang harus membayarnya," tatap tajam Violet pada Lina.


"Kenapa kau melihatku? Kau mau menuduhku aku yang melakukannya? Kejadian itu sudah lama terjadi. Aku saja telah lupa."


"Kau sungguh telah banyak berubah ya Lina sejak berhasil merebut tunangan ku."


"Tidak ada yang berubah dariku. Aku cuman sudah bosan bermain sandiwara di depan kalian," potong Lina.


"Sebaiknya kau jaga sikapmu itu padaku. Jangan kau berpikir Daniel menyukaimu sedikit kau mala merasa hebat. Ketahuilah sekarang aku ini adalah pemilik utama dari rumah lelang Red Krisan. Dengan kekuasaan yang aku miliki, Daniel yang merupakan pemimpin dari suatu kelompok yang ditakuti di dunia bawah tanah tentunya akan lebih memilih aku dari pada kau yang tidak punya apa-apa. Kau itu sama sekali tidak cocok bersama dengannya. Jadi berhentilah bersikap sombong di depanku atau aku akan membuatmun sangat menderita di dunia ini."


"Tunggu dulu," lerai Ira yang sendari kebingungan dengan arah obrolan ini. "Bisa jelaskan padaku sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Rumah lelang, kelompok yang ditakuti, dunia bawah tanah dan situs aneh itu, apa maksudnya semua itu?"


"Fffhh.... Hahaha....." tawa Riva tak tertahankan. Anisa dan Violet hanya tersenyum melihat Ira. "Apa kau sungguh mau tahu Ira? Sebagai putri tunggal dari keluarga baik-baik tentunya kau merasa asing dengan dunia bawah tanah. Tapi kau pasti perna dengar tentang kelompok Mafia, bukan? Dunia bawah tanah merupakan istilah bagi tempat berkumpulnya para Mafia."


"Maksudmu dunia bawah tanah adalah dunianya para penjahat?"


"Tepat sekali tapi dalam skala besar. Perjudian, perdagangan manusia, jual beli ilegal, tindak kekerasan dan pembunuhan merupakan aktivitas sehari-hari di dunia bawah tanah. Dan Violet ini adalah putri dari pemimpin salah satu kelompok mafia paling ditakuti di ibu kota," jelas Reva.


"Ka, kalian bercanda kan?" tanpa sadar Ira mundur selangkah dengan tubuh sedikit gemetar.

__ADS_1


"Dasar kau Reva. Kau membuatnya takut," kata Violet dengan senyum jahat diwajahnya.


"Aku cuman mengatakan yang sebenarnya, agar mereka tahu dimana seharusnya mereka berada."


"Hah, ini putri dari pemimpin mafia paling ditakuti, kalau begitu ayahmu pasti malu memiliki putri sepertimu, dan rumah lelang Red Krisan bisa hancur jika kau yang menjalankannya," celoteh Lina menghancurkan suasana.


"Lina, kau sudah tahu semua ini?" tanya Ira yang kaget melihat reaksi Lina.


"Aku perna mengikuti acara pelelangan di rumah lelang ilegal terbesar itu."


"Jangan membual! Rumah lelang Red Krisan bukanlah tempat yang sembarangan bisa kau didatangi gadis sepertimu," kata Reva yang tidak percaya.


"Terserah mau percaya atau tidak."


"Kau sudah tahu akan hal itu tapi kau masih berani berbicara seperti ini padaku. Apa kau tidak takut aku merobek mulutmu itu lalu membunuhmu?!!"


"Memangnya sudah berapa banyak orang yang telah kau bunuh? 100? 50? 10? 1? Atau tidak perna sama sekali?"


"Kau... Hm! memang benar kalau aku belum perna membunuh orang. Tapi, apa kau mau menjadi yang pertama?"


"Apa maksudmu? Kau mau membunuhku?"


"Hahaha......" tawa Violet dan Reva dengan lucunya, sedangkan Anisa cuman tertawa pelan di belakan teman-temannya itu.


"Tidak. Aku lebih suka menyebutnya bermain, mengoyak isi perut mereka, mencongkel matanya, memotong lidahnya, memutilasi mereka menjadi potongan kecil-kecil lalu dibakar seperti BBQ. Uuh... Kau bisa mencium aroma khas dari daging manusia yang terpanggang. Dan..."


"Lina! Hentikan itu! Bagaimana bisa kau membicarakan hal yang begitu mengerikan seperti itu?" bentak Ira tidak percaya atas apa uang keluar dari bibir temannya.


"Aku cuman bicara saja. Apa itu tidak boleh?"


"Tapi cara bicaramu seperti sudah pernah melakukan semua itu."


"Memang sudah perna sih, tapi aku tidak akan memberitahu Ira soal ini. Aku takut ia tidak mau berteman lagi denganku," batin Lina. "Alah Ira, kau tidak benar-benar percaya dengan apa yang barusan aku katakan, bukan? Temanmu ini mana mungkin perna mengoyak perut seseorang hidup-hidup, karna mereka biasanya telah mati sebelum melihat isi perut mereka."


"Lina!!"


"Maaf, maaf. Becanda."

__ADS_1


"Kau sempat membuatku sedikit takut, tapi itu sungguh konyol. Mana mungkin gadis sepertimu bisa membunuh dengan begitu keji. Kau itu memang pembual yang besar!"


"Iya, iya, terserah kau saja mau bilang apa. Aku sudah malas meladenimu. Kita lanjutkan lain kali saja ya," Lina berbalik hendak pergi sambil menggadeng Ira. "Ayok kembali ke kelas Ira."


"Lina! Apa aku telah menyuruhmu pergi?!!" bentak Violet sambil melemparkan botol minuman ke arah Lina dan Ira.


Bugk!


Sambil menahan perutnya, Lina berhasil menendang botol air mineral itu. Hal hasil botol tersebut kembali ke tuannya dengan keadaan mendarat keras ke dahi Violet. Ira cukup terkejut melihat aksi temannya yang tidak terduga.


"Aww! Lina...! Aku akan kubunuh kau!!!" betak Violet sambil mengusap dahinya yang merah.


"Vi, Violet, lihat," tunjuk Riva pada Lina dengan raut wajah sangat terkejut. "Di, dia hamil!"


"Apa?!" dengan wajah yang sama terkejutnya, Violet melihat Lina yang masih menopang perutnya. "I, ini tidak mungkin. Anak siapa yang ada dalam kandunganmu?!!"


"Menurutmu?" sambil tersenyum kecil Lina mengelus perutnya, memamerkan hal itu pada mereka.


"TIDAK ! ! ! Itu tidak mungkin!! Itu pasti bukan anak Daniel! Kau itu cuman kekasih palsunya. Aku tahu Daniel hanya berpura-pura mencintaimu untuk menunda pernikahanku dengannya. Dia, dia tidak mungkin sudah melakukan hal itu denganmu," air mata mengalir di pipi Violet.


"Oh, kami sudah lebih dari sekedar kekasih sekarang. Kami telah menikah dan secara sah telah menjadi pasangan suami istri," Lina menunjukan foto pernikahannya yang menjadi wallpeper hpnya.


"Aku bisa menjadi saksi pernikahan tersebut, karna aku adalah pengiring pengantin wanitanya," ujar Ira menambahkan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2