
Di kamar mandi, Marjorie mengeluarkan hpnya dan segera menghubungi seseorang. Tak membutuhkan waktu lama bagi telpolnya diangkat.
"Halo."
"Iya. Ada yang bisa saya bantu nona Marjorie?"
"Apa kau sibuk hari ini?"
"Tidak. Kami tidak sedang sibuk."
"Bagus. Apa boleh aku minta bantuanmu?"
"Nona, tidak perlu bertanya lagi. Saya siap membantu nona untuk melakukan apapun."
"Baiklah, aku minta kau mencarikanku sebuah bangunan yang mau disewakan atau dijual. Pastikan tempatnya sangat strategis untuk membuka restoran, mengerti?"
"Oh, nona ingin membuka sebuah restoran di pulau ini?"
"Tidak. Ini untuk seseorang. Setelah kau mendapatkannya. Bayarlah beberapa orang untuk menyulap tempat itu menjadi sebuah restoran yang mewah. Soal biaya, semua tangihannya langsung masukan saja ke rekeningku."
"Baik. Perintah nona akan segera saya laksanakan. Tidak butuh waktu sampai tiga hari, restoran tersebut saya pastikan sudah siap digunakan."
"Terima kasih. Aku percayakan semuanya padamu," Marjorie menutup telponnya lalu kembali ke tempat teman-temannya berada. Julia dan Nisa terlihat masih mengobrol santai dengan Laura. Marjorie memberi senyum kecil begitu menatap kakaknya yang terlihat tertawa. Ia bersyukur melihat kakaknya dalam kondisi yang sangat baik dan tidak lagi terikat dengan orang lain. Walau hidupnya berkecukupan dan sederhana, namun ia terlihat jauh lebih bahagia.
"Dari masa lalu kita yang kelam. Akhirnya kita menemukan kebahagian masing-masing. Aku janji akan memberikan yang terbaik untuk kakak."
Duar!
Pintu kedai tiba-tiba ditendang oleh sekelompok preman jalanan. Lonceng kecil yang ada di atas pintu sampai terlepas dan terlempar cukup jauh sangking kerasnya tendangan tersebut. Lima orang pria dengan berbagai tato di tubuhnya melangkah masuk sambil mengobrak-abrik meja dan kursi dikedak tersebut. Para pengunjung kedai semuanya berhamburan keluar menyelamatkan diri.
"Siapa mereka, kak Laura?" tanya Julia. Ia menarik Nisa yang mulai ketakutan kebelakang tubuhnya.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Mereka bukanlah orang baik," ujar Laura meminta mereka bertiga pergi.
"Coba saja mereka berani macam-macam. Akan aku patahkan leher mereka," tatapan tajam Marjorie arahkan pada para preman itu yang menghampiri mereka.
"Cantik, kami datang menagih uang iyuran keamanan," kata dari bos preman tersebut.
"Apa?! Bukankah rabu tadi aku sudah membayarnya? Kenapa minggu ini kau menagihku lagi?"
__ADS_1
"Karna kulihat kedaimu ini semakin ramai saja dari hari ke hari. Sudah sewajarnya aku meminta uang lebih, bukan?"
Pria itu mendekati Laura dan hendak mencolek dagu Laura namun dengan cepat Laura menepis tangan pria tersebut. Marjorie tentu tidak terima kakaknya diperlakukan seperti itu. Dengan amarah yang mulai naik, ingin sekali ia menghajar pria tersebut. Tapi Julia segera menahan tangan Marjorie yang sudah mengepalkan tinjunya. Marjorie menatap Julia sedikit tidak senang karna telah menghentikan dirinya.
"Jangan bertindak sendirian, Marjorie. Kita lawan mereka bersama-sama," bisik Julia sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Julia," pandangan mata Marjorie merudup begitu mendengar itu.
"Apa kau yakin, Julia? Mereka berlima," kata Nisa.
"Kau meremehkan ku, Nisa. Melawan mereka bukanlah apa-apa. Aku minta nanti kau ajak kak Laura mundur sedikit ya temanku yang menggemaskan," Julia masih sempat-sempatnya mencubit pipi Nisa dengan gemas.
"Aha... Sakit Julia..." rintih Nisa menahan sakit di pipinya.
"Hei bos, lihat. Ada tiga gadis cantik disini," kata salah satu dari anak buah preman itu.
"Iya. Mereka terlihat sangat manis," ujar yang lainnya.
"Oh... Apa kalian mau bermain?" kata Julia raut wajah dari para preman itu semakin bergairah begitu mendengarnya.
"Hahaha... Begini saja, tidak apa-apa juga kalau kau tidak mau membayar, tapi kalian berempat habiskan lah malam ini dengan kami. Maka aku akan menganggapnya lunas," pria tersebut semakin menggoda Laura dan bahkan sampai hendak mencium Laura.
Satu tamparan mendarat di sebelah wajah pria itu sebelum ia berani berbuat macam-macam.
"Itu tidak akan terjadi!"
"Kurang ajar!!"
Pria itu hendak membalas menampar Laura namun garpu yang entah datang dari mana tiba-tiba menembut telapak tangannya. Semua orang dibuat terkejut. Darah segar perlahan mengalir dari luka yang terbuka. Pria itu mencengkram kuat tangannya sambil menahan sakit. Laura mengambil kesempatan ini menjauh dari pria itu.
"Dasar serangga kecil!!" bentak pria itu sambil menatap tajam pada si pelaku, Marjorie. "Kalian semua, tangkap mereka!"
"Siap bos."
Keempat anak buah pria tersebut segera menuruti perintah bos mereka. Namun itulah yang Julia dan Morjorie tunggu-tunggu. Dengan seringai di wajah manis mereka, tanpa diduga oleh para preman tersebut, kucing manis ini ternyata bisa mencakar dan menggigit. Marjorie dan Julia menyerang para preman tersebut dengan kekuatan yang mereka miliki. Perkelahian terjadi begitu sengit. Ruang makan kedai yang tidak terlalu luas itu porak-poranda dan sebagian ada yang hancur akibat perkelahian mereka. Ini bukan gadis kecil lagi namanya. Mereka adalah iblis berdarah dingin yang menjelma menjadi gadis kecil.
Merasa gemetar melihat seluruh anak buahnya dihajar habis-habisan membuat bos preman itu memutuskan untuk melarikan diri. Tapi belum sempat ia beranjak pergi dari kedai tersebut, satu buah kursi melayang dan menghantam punggungnya dengan sangat keras. Hal hasil ia tersungkur ke lantai dan memuntahkan muntah darah.
"Kau mau kemana?" tanya Julia dengan aura gelap yang menyelimutinya. "Kau bilang ingin bermain bersama kami. Ayok bangunlah dan kita main. Kami masih memiliki banyak permainan untukmu. Benarkah, Marj... Maksudku Terry."
__ADS_1
"Benar sekali, Julia. Padahal aku saja baru pemanasan."
Takut terjadi hal yang tidak dinginkan dan ia masih menyayangi nyawanya, pria tersebut segera berlutut dihadapan kedua gadis SMA itu.
"Ampun. Ma, maafkan aku. Aku janji tidak akan berani meminta uang iyuran lagi. Aku mohon jangan bunuh aku," kata pria itu terus memohon demi keselamatan nyawanya.
"Eh... Sudahlah Terry, Julia. Maafkanlah mereka," ujar Laura menghampiri bersama Nisa. Terlihat jelas tubuhnya juga gemetar karna menyaksikan perkelahian tadi.
"Oh, maafkan aku, kak Laura. Kami pasti membuat kau ketakutan dan tidak sengaja membuat kedaimu berantakan," tingkah Julia kembali seperti semula.
"Hehe... Tidak perlu pusingkan itu..."
Belum selesai Laura berbicara, beberapa meja tiba-tiba ambruk dan menghasilkan suara yang nyaring. Mereka terdiam sesaat melihat kondisi ruang kedai itu yang memang sudah berantakan dan hancur.
"Jangan khawatir. Kami akan mengganti..."
"Dia yang akan mengganti semua kerusakan yang ada," kata Julia memotong perkataan Marjorie. Ia menunjuk bos preman tersebut. "Benar begitu kan tuan," ia tersenyum pada pria itu.
"Iya, iya. Aku akan mengganti semua kerusakan yang ada. Bila perlu aku akan merenovasi seluruh tempat ini," kata pria itu seponta. "Lebih banyak mengeluarkan uang yang banyak dari pada mati ditahan kedua gadis ini. Iii.... Senyumannya benar-benar mengerikan."
"Baguslah kalau begitu. Kau tahu diri juga. Tapi aku ingatkan sebaiknya kau jangan berani macam-macam lagi, atau aku bisa pastikan hari pemakamanmu, mengerti."
"Iya, iya. Aku mengerti."
"Pergilah!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1