
Rica tersentak kaget disaat mendengar nama tersebut. "Ju-Julia? Tidak mungkin kau... Kau Julia, putri dari keluarga Flors."
"Kalau ini memang aku kenapa? Apa kau masih mau menyuruhku bersujud padamu, nona?"
Julia memberi isyarat pada ketiga temannya untuk mengambil ancang-ancang pergi. Wendy dan Febby segera paham maksud Julia. Mereka perlahan mundur sambil menarik tangan Nisa.
Muncul rasa ketakutan dari raut wajah Rica. Tanpa sadar ia mundur selangkah. "Tidak. Jika ia memang benar Julia dari keluarga Flors, tamat lah sudah riwayatku. Aku dengar dari paman kalau keluarga Flors merupakan pendiri anggota mafia yang terkenal kejam di ibu kota. Ibu bahkan memintaku memiliki hubungan baik dengan mereka. Kalau seperti ini..."
"Jangan percaya omongannya, Rica! Mana mungkin Julia dari keluarga Flors tinggal di asrama biasa. Gadis ini pasti menipu!" tunjuk Delfa pada Julia.
"Eh?! Benar juga," kata Rica yang baru tersadar. Raut wajah ketakutannya yang tadi hilang seketika.
"Dasar bodoh!" ujar Julia sambil tersenyum. "Lari!!" teriaknya kemudian.
Julia, Wendy, Febby dan Nisa berlari secepat mungkin begitu mendengar arahan tersebut. Rica dan Delfa hanya bisa kesal setelah dipermainkan Julia. Mereka tidak dapat mengejar Julia dan teman-temannya lagi karna sudah tertinggal cukup jauh.
"AAAH ! ! ! Aku akan membunuh gadis rendahan!!! Lihat saja nanti!!" teriak Rica geram sambil melemparkan batu yang dipungutnya.
Julia berhasil menghindari batu tersebut dengan mudah. "Coba saja kalau bisa! Tapi aku ingatkan sebaiknya kau jangan terlalu gegabah karna aku masih menyimpan video memalukan mu ini! Kau pasti tidak mau kalau hal itu sampai tersebar di sekolah ini, kan?"
"AAH!!! Sialan!!" caci maki Rica meluapkan emosinya.
Di tempat lain. Dua orang siswa yang sendari tadi memperhatikan mereka dari balik kaca bangunan asrama khusus tampak mulai tertarik dengan kelakuan dan tingkah manis Julia. Untuk pertama kalinya sejak setahun bersekolah mereka melihat pemandangan seperti tadi. Seorang gadis manis dengan beraninya mempermainkan putri dari kalangan atas sampai sebegitunya kesalnya tapi sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Gadis manis itu sungguh sangat hebat," kata seorang pria dengan rambut ikal hitam dan bermata coklat yang pandangan matanya terus memperhatikan Julia.
"Punyaku," ujar pria berambut pirang disebelahnya.
"Apa?! Tidak bisa! Aku duluan yang melihatnya."
"Kalau begitu kau harus merebutnya dariku."
"Baik. Aku pastikan ia akan jauh lebih memilihku dari pada dirimu karna aku adalah tuan muda dari keluarga Abend, pemilik dari pabrik anggur terkemuka..."
"Apa hebatnya itu?" potong temannya. "Aku yakin gadis manis ini tidak akan tertarik pada pria yang menjunjung tinggi kekayaannya. Dengan kepintaran dan sifatnya itu ia pasti lebih memilih aku yang berpengetahuan luas ini."
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti. Aku bersedia memberikan mobil kesayanganku jika aku kalah."
"Sungguh? Kau rela memberikan mobilmu itu demi dia?"
"Tentu saja. Tapi jika aku berhasil, mobil mu lah yang akan menjadi milikku, bagaimana?"
"Sepakat."
Sementara itu, Julius juga sendari tadi memperhatikan kelakuan adiknya dari atas balkon kamar yang mengarah langsung ke taman belakang.
"Dasar Julia. Belum seperempat hari menginjakan kaki di sekolah ini ia sudah berani berurusan dengan gadis sombong lagi. Hah... Sepertinya aku akan dibuat repot olehnya."
"Hei, Julius. Apa yang kau lihat?" tanya Jeffri sambil menghampiri. Ia sedikit menjaga jarak dari Julius. "Apa kau sedang memperhatikan para gadis dibawah sana?"
"Menjauh lah dariku!"
"Hei, ayok lah. Dengan sikap dingin mu itu, kau tidak akan bisa menarik perhatian satu gadis pun di sekolah ini. Berwajah tampan saja tidak cukup. Kau seharusnya belajar dari ahlinya seperti diriku ini. Akan aku tunjukan semua kehebatan dan keahlian ku dalam memikat lawan jenis. Tidak sampai seminggu saja aku bisa pastikan semua gadis akan bertekuk lutut di hadapanmu..." Jeffri terus mengoceh.
"Em, Jeffri. Apa kau punya jarum dan benang?"
"Iya. Aku ingin menjahit mulutmu itu!!" bentak Julius sambil melangkah masuk dengan kesal.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Jam makan siang tiba. Julia, Wendy, Febby dan Nisa pergi ke ruang kantin yang tersedia di paling timur dari bangunan sekolah. Ruangan yang sangat besar, terdapat sekitar 50 meja panjang dengan 20 kursi saling berhadapan disetiap mejanya. Menu makanan yang disajikan di kantin lumayan banyak. Jadi para murid tidak akan merasa bosan dengan hidangan yang itu-itu saja. Selesai memesan makanan, mereka mencari tempat duduk yang kosong. Didapatlah empat kursi kosong dipojokan kantin.
"Tadi itu kau sungguh sangat berani, Julia," puji Febby kembali membahas kejadian di taman tadi.
"Iya. Kau membuat nona Pinkston sampai sebegitu kesalnya," sambung Wendy dengan mulut penuh oleh makan.
"Telan dulu apa yang ada di mulutmu baru berbicara."
"Tapi, Julia. Apa tidak mengapa kau melakukan ini? Iya... Kita tahu kalau keluarga Pinkston bisa melakukan apa saja yang mereka mau di kota ini. Rica bisa saja meminta kau dikeluarkan dari sekolah, atau lebih buruk lagi," kata Febby mengutarakan kekhawatirannya.
"Memang ia berani? Apa kalian lupa kalau aku menyimpan video memalukan tentang dirinya? Coba saja kalau ia macam-macam denganku maupun kalian. Aku pastikan kalau dua videonya ini tersebar dijagat media sosial, bukan hanya satu kawasan sekolah saja. Hm, lagipula dulu aku perna mempermainkan tuan putri dari kalangan yang derajatnya lebih tinggi darinya."
__ADS_1
"Kau ini kelewat nakal ya Julia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana orang tuamu menghadapi kenakalanmu ini. Kau pasti sering membuat masalah, kan?"
"Hehe... Mama perna mengurungku di kamar dan tidak diperbolehkan memaikan barang elektronik selama seminggu. Itu adalah hari terburukku sepanjang masa."
"Em... Aku mewalikilkan kakak ku untuk minta maaf," kata Nisa pada Julia.
"Kenapa kau yang harus minta maaf, Nisa? Itukan bukan salahmu."
"Em... Aku cuman merasa harus minta maaf. Mengingat ia adalah kakak ku..."
"Ha! Dia saja tidak menganggapmu sebagai adiknya. Kakak macam apa itu?!!" Julia kembali dibuat jengkel begitu mengingat Silvi.
"Aku sedikit bingung akan hal ini. Kalian kan bersaudara tapi kenapa perlakuan orang tua kalian berbeda? Secara kau juga merupakan bagian dari keluarga Pinkston, namun kau tinggal di asrama biasa, sedangkan dia di asrama khusus dan terlihat dibekali dengan banyak kemewahan," tanya Wendy sedikit ingin tahu.
"Ayok cerita, Nisa. Aku juga penasaran," pinta Julia.
"Sebenarnya... Kami cuman saudara tiri," kata Nisa membuat mereka terkejut.
"Saudara tiri? Aku baru tahu itu."
"I, iya. Ibuku meninggal disaat umurku 8 tahun. Kemudian ayah menikah lagi dengan janda beranak satu, mereka adalah Rica dan ibunya. Di tahun pertama pernikahan, mereka berdua sangat baik padaku. Rica berperan sebagai kakak yang pengertian dan begitu peduli padaku, sedangkan ibunya juga memberikan kasih sayang yang sama seperti ibu kandungku. Tapi... Perlahan-lahan sikap mereka berubah. Sejak ayah di sibukkan dengan pekerjaan di ibu kota, mereka mulai memperlakukan aku sebagai pembantu dan merebut semua barang berhargaku."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1