Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pesta perayaan


__ADS_3

"Apa yang kau pikirkan?"


"Ah, tidak ada. Aku cuman berpikir kau itu sengaja berpura-pura bodoh, polos atau memang gila?"


"?" Lina memiringkan kepalanya tidak mengerti apa yang dikatakan Samuel.


"Sudahlah. Lebih baik kau mandi, bersihkan dirimu dari semua darah ini dan pergi tidur."


Lina melirik pakaiannya yang memang telah berubah merah. "Baiklah," ia berlalu pergi seperti tidak terjadi apa-apa.


"Jika aku bilang pada ayah soal ini, pasti dia tidak akan percaya. Hmmph... Aku tidak dapat membayangkan bagaimana suaminya bisa menghadapi istri seperti dia? Terkadang tingkahnya seperti gadis kecil yang polos, tapi disisi lain bisa berubah menjadi iblis berdarah dingin atau harimau yang galak. Padahal dalam keadaan normalnya dia adalah wanita yang pintar. Seberapa banyak kepribadian wanita itu?"


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Esok sorenya Lina sedang bersiap-siap untuk menghadiri pesta perayaan ke 50 tahun perusahaan Xu malam ini. Saat ini ia tengah menatap bayangan dirinya di cermin. Gaun panjang bergradasi warna ungu tua semakin terang ke warna lavender di bagian roknya yang memiliki belahan sampai memperlihatkan sebagian pahanya disisi kanan. Lina sedikit tidak nyaman memakai pakaian ini untuk menghadiri pesta besar karna terlalu menampakkan kehamilannya. Walau kehamilan Lina baru menginjak umur 14 minggu, tapi dengan gaun ini bentuk perutnya terlalu tampak terlihat.


"Apa kau sudah siap?" tanya Samuel begitu dia masuk ke kamar Lina. Ia terlihat menawan dengan setelan jas blazer berwarna abu-abu.


"Apa ada tidak gaun yang lebih longgar? Gaun ini terlalu menampakan perut hamilku," kata Lina tanpa melirik Samuel. Ia masih menatapi lekuk perutnya di cermin.


"Kenapa? Bukankah gaun ini sangat cocok untukmu. Aku cukup kesulitan mencari ukuran yang pas untuk tubuh pendekmu ini. Aku takut gaunnya nanti kebesaran. Ini ukuran paling kecil."


"Aku tidak percaya diri berada di tengah-tengah keramaian dengan gaun ini. Tatapan mereka pasti tertuju pada perutku."


"Itu bagus. Setidaknya para pelayan akan segera tahu kalau kau hamil dan tidak akan terus menawarimu minuman beralkohol."


"Tapi... Aku mau ganti gaun yang lain."


"Sudah tidak ada waktu jika harus menunggumu mengganti pakaian. Kita bisa terlambat."


Samuel meraih ikat pinggang pita berwarna lavender yang ada di tempat tidur dan menarik Lina keluar dari kamar tersebut menuju mobil. Tidak ada percakapan diantara mereka selama perjalanan. Lina sibuk dengan pikirannya. Malam ini ia akan bertemu dengan orang yang menjadi bayang-bayang dalam ingatannya. Lina sedikit gugup. Ia binggung harus bersikap bagaimana disaat bertemu dengan Daniel nanti.


Di tempat lain, kediaman Daniel. Daniel dan Violet sudah siap berangkat dan hendak menuju mobil disaat Ira dan suaminya datang.


"Selamat malam Tn. Daniel, Ny. Lina," sapa Ardya sambil menjabat tangan Daniel dan Violet dengan masih menggedong putrinya.


"Malam Tn. Ardya, Ira," balas Daniel menyapa.


"Lama tidak berjumpa Lina," peluk Ira pada Lina (Violet). "Kandunganmu semakin besar saja. Apa kau hamil bayi kembar lagi?"

__ADS_1


"Tidak," jawab Violet. "Rupanya Ira sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan."


"Ada perlu apa datang kalian kemari? Dari penampilan kalian malam ini sepertinya juga ingin menghadiri sebuah acara," tanya Daniel.


"Iya. Kami juga diundang ke pesta perayaan 50 tahun perusahaan Xu," kata Ardya.


"Kami kesini cuman ingin menitip Gina. Ia tidak terlalu suka keramaian dan tidak ada teman jika ditinggal di rumah sendirian. Jadi, apa Julia ada sekarang?" tanya Ira.


"Dia ada di kamarnya."


"Pelayan, tolong panggil Julia. Katakan padanya kalau ada Gina berkunjung," perintah Violet pada salah satu pelayan di dekat mereka.


"Baik," pelayan tersebut berlalu pergi.


Tak berselang lama Julia keluar sambil berlari. Ia berteriak memanggil Gina. Tidak jauh di belakangnya Julius berjalan santai menyusul adiknya itu. Ardya menurutkan Gina, membiarkan dua sahabat ini bertemu.


"Kak Julia," panggil Gina sambil berlari kecil menghampiri Julia.


"Gina, sudah lama tidak bertemu. Apa kabarmu?"


"Baik."


"Atau mengadakan pesta teh."


"Iya."


Dengan riang Julia menarik tangan Gina ke lantai atas. Sangkin tergesa-gesanya Julia hampir menabrak Julius jika Julius tidak cepat menghindar.


"Julia selalu senang ketika Gina datang berkunjung," ujar Daniel yang melirik putrinya sampai bayangannya hilang di tangga.


"Mereka berdua sangat manis," kata Ardya.


"Mama," panggil Julius.


Julius mengisyaratkan Violet berjongkok dengan cara menarik gaun Violet. Violet mengikuti kemauan Julius walau ia sebenarnya engan melakukannya.


"Ada apa Julius?" tanya Violet.


Julius tidak menjawab. Tiba-tiba ia mengecup bibi Violet sekali. Hal itu membuat semua orang terkejut termasuk Daniel. Apa yang dilakukan Julius sangat tidak terduga.

__ADS_1


"Pulang cepat ya mama," bisik Julius.


"Iya," jawab Violet tanpa sadar. Ia terlalu terpesona dengan tatapan menawan dari mata biru berlian itu.


"Wah... Julius, kau sangat pemberani dan juga tampan. Aku merasa ingin memiliki seorang putra seperti mu," kata Ira juga terpesona melihat adegan itu.


Julius kini beralih mendekati papanya. "Papa, sapu tangan papa ketinggalan," ia menyodorkan sapu tangan putih pada Daniel.


"Tapi Julius, sapu tangan papa..."


"Papa akan membutuhkannya," potong Julius.


Dalam sekejap ada firasat buruk menghampiri Daniel begitu melihat senyum di wajah putranya itu.


"Terima kasih Julius. Papa harap ini tidak berdampak terlalu burup pada papa," kata Daniel pelan.


"Menjauh saja."


Julius berbalik pergi. Serasa cukup jauh dari mereka, ia mengeluarkan selembar tisu dari saku celananya. Ia menyekat bibirnya berulang kali menggunakan tisu tersebut lalu langsung membakarnya.


Mereka berempat berangkat. Dua mobil hitam bergerak menjauh dari halaman kediaman. Di perjalanan tidak ada percakapan diantara Daniel dan Violet. Daniel sedikit menjaga jarak dari Violet mengikuti nasehat putranya. Ia tidak tahu apa yang bisa saja terjadi. Julius bisa melakukan apapun yang tidak tertebak dipikiran Daniel.


Sampai di kediaman Xu, tempat dimana pesta diadakan. Daniel mengandeng tangan Violet masuk. Suasana pesta kalangan atas seperti biasa menyambut mereka. Semua yang hadir malam berasal dari orang-orang berpengaruh di ibu kota. Daniel pasti tidak akan menyangka di tempat inilah dia akan dipertemukan kembali dengan kucing tercinta, maksudnya istri tercinta.


Masih belum terjadi apa-apa pada Violet sampai sekarang. Itu menurut Daniel, tapi tidak bagi Violet. Sejak perjalanan menuju kediaman Xu, Violet sudah merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya. Sendari tadi ia berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Ia pikir mungkin rasa tidak enak ini akan hilang dengan sendirinya. Tapi sepertinya tidak dan itu mala semakin menjadi. Rasa tidak enak itu perlahan naik ke uluh hati sampai tenggorokannya.


"Hmp!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2