
Julia mendengar sangat jelas gumangan tersebut. "Terima kasih Alwen. Aku terima hadiah darimu."
"Eh? Benarkah? Ekhem! Maksudku... Aku juga ikut senang jika kau menyukainya."
"Iya," Julia memotong kue tersebut dan mencicipinya. "Kuenya enak sekali."
"Tapi Julia, bukankah tipemu itu... Hpmp!" belum selesai Nisa berbicara satu potong kue sudah menyumpal mulutnya.
"Bagaimana rasanya Nisa? Manis, bukan?" tanya Julia dengan senyuman yang bisa membuat bulu kuduk Nisa berdiri
"I, iya. Manis sekali. Manis dan segar," kata Nisa dengan mulut penuh kue. Dan bahkan wajahnya saja berlepotan krim coklat sekarang.
"Kalian berdua ini kenapa?" tanya Wendy yang binggung melihat tingkah Julia dan Nisa.
"Apa kau juga mau Wendy?" kata Julia menawarkan.
"Boleh," Wendy mengambil sepotong kue tersebut lalu memakannya. "Tapi, kalau kue ini adalah hadiah, kami jadi tidak membeli kue di toko kalian dong."
"Tidak apa-apa. Kan festival kebudayaannya masih dua hari lagi. Kalian bisa membeli kue dari toko kami besok atau lusa."
"Benar juga. Kalau begitu kami akan mampir lagi besok dan membeli kue di toko kalian. Terima kasih untuk kuenya. Nisa, Wendy, bagaimana kalau kita makan kue ini di taman saja?" ajak Julia.
"Ide bagus. Makan kue sambil menikmati pemandangan danau pasti menyenangkan. Apa kau mau ikut Febby?" kata Nisa setelah membersikan krim kue di wajahnya.
"Tidak. Aku harus menjaga toko."
"Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu."
"Semangat jualannya" kata Wendy menyemangati.
"Kalian pasti jadi menang," Nisa juga tidak mau ketinggalan
"Terima kasih."
__ADS_1
"Jangan lupa lihat penampilan kami di pertandingan sains dan teknologi besok ya," ujar Julia mengingatkan.
"Aku pasti mendukung kalian."
"Aku juga sudah tidak sabar untuk melihat project sains apa yang kalian buat. Sean selalu bercerita dengan sombongnya tapi ia tidak perna mau memberi tahu ku robot apa yang kalian buat."
"Iti berarti kau harus bersabar sampai kami naik ke atas panggung. Dah..." Julia melambaikan tangannya sebelum pergi.
Mereka bertiga menuju taman yang ada di dekat danau. Tempat ini terlihat semakin ramai dari para siswa dan siswi maupun para orang tua/wali murid. Semua ini karna di malam hari nanti akan ada peluncuran kembang api tepat di atas danau. Beberapa petugas khusus yang mengurus persiapan pertunjukan kembang api sudah terlihat mempersiapkan semua peralatannya di dekat danau. Sambil menikmati kue pemberian Alwen sebelumnya, Julia, Wendy dan Nisa sesekali memperhatikan kesibukan para petugas itu diselah-sela percakapan mereka.
"Kenapa kau menerima kue pemberian Alwen, Julia?" tanya Wendy.
"Karna dia sudah membuatnya dengan susah payah, sudah tentu aku harus menghargainya."
"Tapi kalau begitu tandanya kau sudah menerima cintanya," kata Nisa.
"Siapa bilang? Kalian tidak dengar sendiri, ini cuman kue persahabatan. Jadi aku cuman menerimanya sebagai sahabat bukannya cinta."
"Itu cuman alasan dia saja. Kita semua tahu kalau Alwen merupakan salah satu tuan muda yang mengejar-ngejar mu saat ini."
"Apa?! Serius kau Julia? Kau tidak bohong, kan?" kata mereka serempak dan cukup tidak percaya.
"Tentu saja aku serius. Aku mendengarnya sendiri dia bergumang. Walau aku kurang mengerti soal cinta namun tatapan Alwen pada Febby persis sama seperti kakak melihat Marjorie."
"Kalau benar seperti itu... Wah... Febby beruntung sekali dapat disukai oleh tuan muda dari keluarga ternama."
"Alwen pasti terpesona melihat kecantikan Febby di pesta malam itu," kata Wendy mengingat kejadian di pesta yang diadakan di restoran Moon.
"Iya, iya. Mungkin saja ia jatuh cinta pada pandangan pertama," persekian detik Julia seketika merasa ada yang janggal. "Tunggu dulu. Jika Alwen tidak menyukaiku lantas kenapa dia terus menggangguku selama ini? Apa yang lainnya juga sama? Walau aku sama sekali tidak mengharapkan mereka menyukaiku, tapi kenapa mereka begitu bersikeras? Sepertinya ada alasan tertentu dibalik semua ini. Aku harus mencari tahu apa itu," batin Julia.
Sepanjang sore itu mereka habiskan di taman. Selesai makan kue coklat stroberi, mereka berjalan-jalan santai sejenak mengelilingi taman tersebut. Tak terasa waktu cepat berlalu. Matahari sudah tampak semakin turun ke barat. Julia, Nisa dan Wendy memutuskan hendak kembali ke kamar mereka disaat tiba-tiba Yusra malah datang. Dengan setelan sedikit formal, sweater hitam dibalut dengan jas abu-abu, Yusra begitu percaya dirinya menyapa Julia.
"Ternyata kau disini sayangku. Aku sudah mencarimu kemana-mana," sapa Yursa saat menghampiri mereka namun diabaikan. "Hei, aku berbicara padamu. Bisa tidak kau jangan mengabaikan ku. Julia!" panggilnya dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
"Oh, kau sendari tadi bicara padaku? Aku kira kau bicara sendiri. Lagian kau sama sekali tidak memanggil namaku," ujar Julia yang cuman melirik Yusra sekali.
"Sabar Yusra. Kau cukup mengajaknya ke tempat yang telah kau siapkan dan buat dia terpesona. Dengan begitu dia akan jatuh hati padamu. Jika ia sudah seperti ini aku dapat merayunya untuk menyerahkan rancangan robot tersebut. Ini merupakan rencana yang bagus," kata Yusra dalam hati mencoba menenangkan dirinya.
"Apa yang kau mau? Jika kau masih ingin memasaku menyerahkan rancangan robot itu, jawabanku tetap sama. Tidak akan perna, mau semengiurkan apapun tawaranmu itu."
"Apa maksudmu Julia? Kau tidak mengatakan kalau Yusra menginginkan rancangan robot itu," tanya Nisa sambil berbisik.
"Memang sengaja tidak aku beritahukan pada kalian, karna hal ini tidak berguna juga."
"Tidak. Maksud kedatanganku kesini bukan karna itu. Aku ingin membawamu ke suatu tempat yang istimewa. Aku harap kau jangan menolak."
"Hal ini semakin mencurigakan. Pertama Alwen memberikan kue, sekarang orang menjengkelkan ini malah mengajak aku ke suatu tempat. Tidak seperti gangguan yang biasa mereka lakukan. Apa mahkluk yang satu itu juga akan melakukan hal yang sama? Em... Sepertinya aku harus mengikuti permainan ini untuk mengetahui semuanya," batin Julia mulai mecurigai gelagat Yusra dan bahkan Sean yang malah belum melakukan apa-apa. Julia memasang senyum tipis lalu berbalik menghadap Yusra. "Baiklah. Aku tidak akan menolak kali ini. Tapi aku harap apa yang kau tunjukan padaku bisa sangat memuaskan ku."
"Aku bisa jamin kau akan sangat puas," Yusra baru hendak mengapai tangan Julia disaat Julia kemudian berbalik.
"Nisa, Wendy, tidak apa kan jika aku tinggal sebentar?"
"Tentu saja," jawab Nisa.
"Apa kau yakin akan hal ini? Biasanya kau sering menolak dan menghindari ajakan mereka," tanya Wendy.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε