
"Ahhhnggghhhh!!" satu dorongan kuat Lina lakukan.
"Iya. Kepalanya berhasil keluar sempurna. Kau bisa istirahat sebentar sebelum kontraksi datang lagi."
"Haa.... Haa... Huu..."
Lina mencoba mengatur nafasnya sambil memulihkan tenaga. Briety membersihkan kepala bayinya dengan lembut dari sisa air ketuban menggunakan sapu tangannya.
"Hhnggghhhh!! Argh......!"
Lina kembali mengejan begitu kontraksi datang. Ia menengadakkan kepalanya ke atas sambil menjerit. Namun itu belum cukup untuk mengeluarkan bahu sang bayi.
"Kau harus mengejan lebih kuat lagi, Lina. Kau bisa!"
Lina menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia merilekskan dirinya sebelum tekan kontarsi datang.
"Nnnggghhhhk!!! AGRRRHHH ! ! !"
Oooooeeeekk.... Oooooeeeekk....
Mata Lina terbelalak mendengar suara tangis dari bayinya. Satu bulir air mata mengalir di ujung matanya. Dengan nafas terengah-engah Lina berusaha melihat bayi yang kini ada dalam pelukan Briety. Rambut hitam dengan hidung mungil berwajah putih berseri sedang menangis keras. Aliran kegembiraan seketika menyelimuti diri Lina. Rasa sakit dan tenaga yang keluar sebelumnya benar-benar terbayarkan begitu melihat bayinya.
"Selamat sayang. Bayi pertama mu laki-laki. Ia bayi yang sehat dan juga tampan," kata Briety mengumumkan.
Briety menghisap hidung serta mulut bayi untuk menghilangkan sisa air ketuban disana, lalu diludahkannya kesamping. Briety melepaskan dua jepit rambut lidi yang menahan sanggulan rambutnya. Disematkannya dua jepit rambut itu di tali pusat bayi yang terhubung ke plasenta yang telah keluar. Kemudian ia memotong tali pusat diantara dua jepit rambut tersebut menggunakan belati. Barulah Briety meletakan bayi itu di atas tubuh Lina untuk disusui.
"Kau hebat," Daniel memberi kecupat di dahi Lina sebagai hadiah.
"Dia tampan."
Senyuman terlukis di wajah Lina. Satu kecupan mendarat dahi bayi yang ada dalam pelukannya. Tapi senyuman itu tidak bisa Lina tahankan lebih lama disaat rasa kontraksi kembali melanda perutnya.
"Hhhmmmph! Kontraksinya datang lagi. Ngggkhhhh....!!" Lina seketika langsung mengejan hebat.
"Okey, kita mulai lagi," Briety kembali bersiap untuk membantu Lina melahirkan bayi keduanya.
"A, apa maksudnya kau mengalami kontraksi lagi? Kau sudah melahirkan. Jangan-jangan..." hanya satu jawabannya. Daniel memandang wajah Lina yang meringis kesakitan.
"Maaf Daniel. Enggghhh.... Seharusnya ini, menjadi kejutan untukmu. Haaa..... Haa.... Sebenarnya... Aku hamil, bayi kembar."
"Ke, kembar?"
"Iya. Dua bayi Daniel."
"Uuurrggghhh!! Arghhh.... Huf... Huf... Nnngggghhh!!!"
__ADS_1
Hampir tiga menit Lina berusaha mendorong bayi keluar namun kepala bayinya tidak kunjung terlihat. Sepertinya bayi keduanya masih ingin berlama-lama di dalam sana. Lina mulai kehabisan tenaga. Setiap kali ia mendorong sekuat tenaga kemudian berhenti sebentar mencari nafas saat itulah bayinya mala bergerak masuk lagi yang membuat usahanya menjadi sia-sia.
"AAAAHH...... ! ! Sakitt... Aku tidak kuat lagi. Sakit sekali! Hiks... Hiks..." rintih Lina memilukan hati.
"Kau harus kuat sayang. Kau pasti bisa."
Daniel mendekap Lina memberinya semangat. Untuk pertama kalinya Daniel tidak bisa menahan air matanya. Ia tidak tega melihat Lina begitu kesakitan.
"Tidak. Aku tidak sanggup mengejan lagi. Hiks... Hiks... Haa... Haa... Egh... Sakit Daniel. Haa... Haa... Ini benar-benar sakit," Lina terlihat tidak memiliki tenaga lagi untuk mengejan saat kontraksi datang.
"Ini lah yang aku takutkan. Di kehamilan pertamanya yang dalam masa kembar pula. Dengan tubuhnya ini, aku tidak yakin dia bisa melahirkan bayi keduanya," kata Briety mengutarakan ketakutannya.
"Tidak, aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian."
Lina menguatkan hatinya. Ia mengatur nafasnya mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Ia bersiap untuk mengejan lagi. "Ibu, tolong selamatkan bayiku. Aku... Akan berusaha. Hhhmmmnggghhhh!! AAAAH ! ! !"
"Lina," bibi Daniel gemetar memanggil nama Lina.
"Haa... Haa.... Ini kedua kalinya, aku mendengar kau... Menyebutkan namaku," Lina masih menebar senyum pada Daniel sebelum kembali mengejan. "Eeennnggghhh....!!! Haa... Huu... Eeennngggghhh!!!"
Lina berusaha kuat dengan sisa tenaganya. Ia terus memaksakan diri mendorong bayinya keluar. Bahkan Lina sedikit menekan perutnya ke bawah agar bayinya cepat keluar. Melihat perjuangan Lina membuat Daniel semakin tidak tega.
"Tidak, hentikan ini Lina. Hiks... Aku tidak ingin kehilanganmu. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan kalian berdua."
"Ini demi, anak kita Daniel. Dia harus hidup. Hhhhmmmphh!!!"
Briety menyelipkan jarinya untuk menahan kepala bayinya agar tidak bergerak masuk lagi. Ia dengan hati-hati menariknya disaat Lina berusaha mengejan.
"ARRGGHHH ! ! Haa..... Haa.... Hhhmmmph!!"
"Hiks... Berjuanglah sayang. Kau pasti bisa. Aku akan mendukung keputusanmu," kata Daniel menyemangati Lina. Ia memberi elusan lembut di perut istrinya itu. "Nak, ayah mohon. Jangan siksa ibumu seperti ini. Bantulah ibumu, sayang."
"Arrgghhhhh!"
Secara kebetulan atau apa, Lina merasa kalau bayi menedang. Ia seperti mendorong dirinya sendiri keluar. Lina mengambil kesempatan ini untuk mengejan sekuat yang ia bisa.
"Aaannggghhhh!!!"
Dorongan tersebut berhasil mengeluarkan kepala bayinya dengan sempurna, namun hal itu membuat Lina melemah. Nafasnya terdengar seperti ada seseorang yang mencekik lehernya. Melihat itu Daniel segera memberi nafas buatan untuk Lina. Itu cukup membantu. Daniel melepaskan diri begitu keadaan Lina membaik.
"Apa kau masih sanggup Lina?" tanya Briety setelah membersikan kepala bayinya.
Anggukan pelan Lina berikan. "Se, dikit, lagi." Lina menarik nafas panjang kemudian mengejan lagi saat kontraksi datang. "Eeemmmmphhhh!! Huu... Huu... Uuuggggrrrhhhh!!"
Lina terus berusaha mengejan mengeluarkan bahu bayinya. Tapi kali ini Lina mengejan tanpa suara. Ia terlalu lemah untuk berteriak. Setelah usaha yang panjang dan melelahkan akhirnya Lina berhasil. Bayinya meluncur bersama plasentanya.
__ADS_1
Oooooeeeekk.... Oooooeeeekk....
Tangis bayi mengisi ruangan bangunan tersebut. Dengan cekatan Briety melakukan hal yang sama seperti lagi nya bayi pertama.
"Selamat, Lina. Bayi keduamu perempuan," kata Briety mengumumkan.
Tidak ada reaksi dari Lina. Tubuhnya terkulai lemas tak betenaga dengan nafas yang semakin lemah dan matanya terlihat tertutup. Melihat itu seketika membuat Daniel panik.
"Lina, Lina, sadarlah sayang!" Daniel mengguncang pelan tubuh Lina.
Dengan susah payah Lina membuka mata. "Da-ni-le. Aku senang," kata Lina hampir tidak bersuara. Ia memberi senyum pada Daniel sebelum matanya tertutup lagi.
"Tidak, tidak, Lina... Kau tidak boleh menutup matamu, sayang! Jangan tinggalkan aku. Hiks..."
"Daniel segera bawa dia ke rumah sakit sekarang! Biarkan aku yang mengurus bayinya," Briety meraih bayi yang ada di pelukan Lina.
"Aku mohon pada ibu."
Dengan hati-hati Daniel mengangkat tubuh Lina yang lemah keluar dari bangunan tua itu.
"Jony! Rey! Berikan jas kalian pada ibu dan tolong bawa bayiku ke rumah sakit!" perintah Daniel pada Jony dan Rey yang sendari tadi berjaga diluar.
"Siap tuan muda."
Daniel berlari menuju mobil yang terpakir di bangunan tempat dimana Violet sempat menahan Lina. Sudah ada Qazi dan Norman yang menunggu disana. Mereka belum lama ini selesai membereskan sisa penjaga yang ada.
"Qazi! Nyalakan mobil sekarang!" teriak Daniel dari kejauhan.
"Tuan muda, Lina?!"
Qazi yang terkejut melihat itu segera masuk mobil dan menyalakannya. Sedangkan Norman membantu membukakan pintu mobil. Daniel bergegas membawa Lina masuk ke mobil dengan hati-hati.
"Segera ke rumah sakit terdekat!"
"Baik."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε