
"Kau tidak menceritakan hal ini padaku."
"Barusan tadi aku memberitahu ayah."
"Itu baru tadi. Kenapa tidak dari awal?"
"Maaf ayah. Aku tidak bermaksud tidak memberitahu mu. Kami sedang mencoba menangkap tikus penyusup di dalam rumah. Sebenarnya alasan utama aku mengajak Velia untuk bertemu denganmu hari ini hanya ingin memberitahu soal ini. Velia adalah seorang dokter dan juga seorang Master ahli racun, Oleander," jelas George memperkenalkan Lina ulang.
"Oleander? Master ahli racun yang misterius itu," Tn. Down menoleh pada Lina. Ia melirik Lina dari ujung kaki sampai kepala. "Benar-benar sulit dipercaya ternyata Oleander adalah seorang wanita muda yang manis."
"5 hari lalu ia memeriksa kondisi kaki ku dan menyatakan kalau penyebab lumpuhnya kedua kakiku ini karna sebuah racun. Setelah menjalani pengobatan darinya, berangsur-angsur kakiku pulih kembali," jelas George.
"Kalau begitu aku harus memberimu hadiah," ujar Tn. Down.
"Tidak perlu tuan besar. Saya melakukan ini tidak mengharapkan sesuatu. Jika anda memberi hadiah..."
"Terima saja Velia. Apa kau mencoba menolak kebaikan dari tuan besar bos Mafia paling ditakuti di ibu kota," kata Samuel menakut-nakuti.
"Ha?! Bu, bukan begitu. Aku... Aku tidak..." raut wajah Lina seketika takut. Ia lupa kalau pria paru baya disampingnya adalah seorang bos besar dari kelompok Mafia terkejam di ibu kota.
"Samuel! Kau membuatnya takut. Push up 50 kali!" bentak Tn. Down menghukum Samuel.
"Apa?! Tapi kakek, aku..."
"Lakukan!"
Tatapan tajam dan tekanan yang begitu membuat Samuel tidak bisa membantah. Ia bangkit dari kursinya dan menerima hukumannya. Lina terdiam. Ia tidak menyangka kalau Tn. Down akan menghukum Samuel demi dirinya.
"Jika dia berani menggangumu lagi, jangan sungkan untuk memberitahukannya padaku. Aku akan menghukumnya untuk mu," kata Tn. Down pada Lina.
"Sungguh?" raut wajah Lina berubah senang.
"Hei, kau jangan coba macam-macam," kata Samuel diselal-sela ia menerima hukumannya.
__ADS_1
"Oh... Sepertinya hukumanmu kurang ya cucuku tersayang. Tambah 50 lagi!"
"Hah... Yang benar saja. Aku sungguh sial hari ini."
"Nah, manis. Apa yang kau mau?" tanya Tn. Down. "Aku tidak terlalu banyak memiliki barang-barang yang disukai wanita. Jadi, dari pada aku salah memberikan hadiah, lebih aku bertanya langsung apa yang kau suka."
"Em... Aku..." Lina berpikir sebentar.
"Katakan saja. Jangan takut. Aku akan berikan apapun itu. Mobil, rumah, perhiasan."
"Aku ingin kue jahe saja," kata Lina sambil tersenyum.
"Ku, kue jahe?" Tn. Down sedikit tersentak. Wajah tersenyum Lina yang meminta kue jahe itu membuat ia kembali mengingat putrinya yang sangat menggemari kue ini.
"Apa otakmu cuman berisi makanan saja?" ujar Samuel yang baru selesai menerima hukumannya.
"Samuel," lirikan tajam Tn. Down arahkan pada Samuel.
"Maaf, maaf," dengan cepat Samuel minta maaf. Ia tidak mau menerima hukuman push up lagi.
"Tidak apa George. Aku akan memberi waktu untuk Velia memikirkan apa hadiahnya."
Tn. Down memerintahkan pada pelayan untuk membuatkan kue jahe khusus untuk Lina. Tidak berselang lama pelayan tersebut datang kembal dengan membawa kue jahe seperti yang diminta. Selain kue jahe, pelayan tersebut juga membawakan teh panas untuk semua dan buah-buahan segar.
"Silakan dinikmati, manis," kata Tn. Down mempersilakan Lina menikmati kue jahe yang diinginkannya.
"Iya. Terima kasih tuan besar."
Lina mulai mencicipi makanan kegemarannya itu. Melihat Lina sangat menikmati kue jahe membuat bayangan Ariana muncul di mata Tn. Down. Rasa rindu menyelimuti hatinya. Ia mengalihkan pandangan ke kue jahe yang ada di tangannya. Ia tersenyum kecil lalu mengigit kue jahe tersebut. Rasa manis bercampur aroma khas jahe memenuhi mulutnya disetiap kuyahan renyah.
"Kenapa kau sangat menyukai kue ini?" tanya Samuel pada Lina.
"Aku juga tidak tahu mengapa. Tapi setiap aku memakan kue ini, ada perasaan kerinduan yang mendalam seperti ada cerita tersendiri dibaliknya."
__ADS_1
"Selain dari wajah kalian yang mirip, kegemaran kalian juga sama. Kue jahe ini adalah makanan kesukaan putriku. Cuman dia yang paling menyukai kue ini di kediaman. Aku bahkan hampir lupa rasanya. Sejak kepergian Ariana, di kediaman ini tidak perna lagi membuat kue jahe. Jika hari ini adalah 25 tahun yang lalu. Aku pasti sudah menganggap mu sebagai Ariana."
"Mohon maaf nih tuan besar. Kalau tidak keberatan. Apa boleh saya tahu penyebab kematian dari putri anda?" tanya Lina hati-hati.
"Karna kecelakaan," jawab George.
"Tidak. Dia meninggal karna dibunuh," potong Tn. Down. Ia tertunduk dengan satu tetes air mata menetes ke punggung tangannya.
"Dibunuh?!" Samuel kaget mendengarnya. "Apa maksud kakek? Bagaimana bisa bibi Ariana sampai dibunuh? Siapa pelakunya? Siapa yang begitu berani membunuh salah satu dari keluarga utama keluarga tersembunyi?!!" nada bicara Samuel meninggi. Ia tidak terima begitu mengetahui orang yang perna mengasuhnya semasa kecil ternyata meninggal karna dibunuh.
"Samuel!" tegur George pada putranya.
"Kenapa tidak ada yang memberitahu ku? Aku ingin kebenarannya hari ini!" nada suara Samuel menurun namun masih ada penekanan.
"Ini semua salahku. Di hari kematian Ariana. Pada malam itu aku mendapat panggilan telpon berulang dari suaminya. Namun, karna masih ada rasa marahku pada keluarga kecilnya, membuat aku mengabaikan panggilan itu. Sampai esok paginya aku mendapat kabar kalau sebenarnya rumah mereka telah diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal," Tn. Down berhenti sebentar kemudian melanjutkan. "Orang-orang tersebut mengincar nyawa Ariana berserta putri kecilnya. Ducan, suami Ariana mencoba menahan para penyerang itu agar Ariana berserta putrinya dapat melarikan diri. Tapi sayangnya, orang-orang itu ternyata berhasil mengejar mobil Ariana. Ternyata panggilan berulang itu adalah panggilan untuk meminta bantuan. Seandainya kujawab telpon itu... Ariana... Hiks... Hiks..." Tn. Down tidak sanggup lagi melanjutkan.
"Ayah macam apa kau?" kata Lina tiba-tiba membuat semua orang menoleh padanya termasuk Tn. Down. "Kau tahu kalau nyawa putrimu sangat rentan di incar! Sebagai ayahnya kau seharusnya melindunginya dan ada disaat dia dalam bahaya! Kenapa kau tidak melakukan itu?!!" bentak Lina tanpa sadar. Air mata mengalir di pipinya.
"Aku belum perna melihat dia semarah ini," batin Samuel yang melirik Lina.
"Dari mana Velia tahu kalau nyawa Ariana sangat rentan di incar? Aku tidak perna membahas siapa Ariana sebenarnya dan aku yakin Samuel juga tidak perna bercerita. Apa Velia bagian dari keluarga tersembunyi? Tapi kenapa aku tidak perna mengenalnya selama ini?" pikir George.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε