Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pernyataan cinta Sean


__ADS_3

"Wah... Sebuah perahu," ujar Julia begitu melihat perahu tertambang di dermaga itu.


"Itu benar. Akan aku ajak kau melihat pertunjukan kembang api langsung di atas danau ini," Sean menaiki perahu tersebut lebih dulu. "Sini, aku bantu kau turun," ia mengulurkan tangannya pada Julia.


"Apa kau yakin kita boleh menggunakannya?" Julia sedikit ragu untuk naik ke atas perahu tersebut.


"Kami diperbolehkan menggunakan apapun di sekolah ini. Ayok naik, tidak apa-apa."


"Waktu pertama kali datang ke sekolah ini aku sudah teringin menaiki perahu yang tertambang di demaga. Sekarang sudah mendapat kesempatan, kenapa aku harus menolak?"


Julia menerima uluran tangan Sean dan naik ke atas perahu. Setelah penumpangnya duduk dengan baik, Sean mulai mendayung perahu tersebut. Perahu perlahan bergerak maju menuju tengah danau. Tidak sampai persis ketengah-tengah danau juga sih, mereka paling berjarak seratus meter dari dermaga kecil tadi.


"Apa kau sungguh bisa menggunakannya? Aku tidak mau harus berenang di malam yang dingin ini."


"Jangan khawatir. Aku sudah sering menggunakan perahu seperti ini saat memancing dengan ayah dulu."


Tepat disaat pertunjukan utama kembang api dimulai, Sean memberhentikan laju perahunya. Kembang api yang paling besar diluncurkan dan kemudian meledak di udara. Percikan cahayanya menyebar ke segala arah. Bersamaan dengan itu belasan kembang api berukuran kecil lainnya diluncurkan. Langit malam kini dipenuhi dengan warna warni cerah. Sensasi menyaksikan kembang api di atas danau semakin unik karna pantulan cahaya tampak begitu jelas di permukaan air danau yang jerni.


"Wah... Kau benar menyaksikan kembang api langsung di atas danau jauh lebih indah dari pada di daratan, seolah-olah kembang api tersebut bermain diantara kita," ujar Julia tanpa melirik Sean sama sekali.


Sean menatap Julia yang terlihat begitu menikmati pemandangan di depannya. "Julia, ada sesuatu yang mau aku katakan," wajah Sean seketika berubah serius.


Julia menoleh pada Sean. "Apa?"


"Aku... Mencintaimu," kata Sean sangat pelan dan hati-hati.


Dengan wajah polosnya, Julia memiringkan kepalanya. Ia sama sekali tidak mendengar kalimat Sean barusan. "Apa sih yang mau dibilang makhluk satu ini?" batinnya.


Sean menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia mau mencoba mengatakannya sekali lagi. "Begini, sejak pertama kali aku melihatmu, kau tampak berbeda dari gadis yang perna aku temui selama ini. Kau pemberani, tidak kenal takut apapun dan sangat hebat tapi tetap imut dibalik tingkah manja mu. Aku ingat betul sewaktu penyanderaan di mall, saat itu kau sangat mengagumkan. Gerakan yang lincah dan sorot mata tajam itu tidak akan pernah aku lupakan."


"Jadi..."


"Maukah kau menjadi... Pacarku?"


Untuk sesaat Julia terdiam. Kemudian ia tersenyum lalu mengganguk sebagai jawaban. Sean tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan rasa senangnya. Ingin rasanya ia melompat kegirangan sambil memeluk Julia, namun itu tidak mungkin. Mereka masih ada di perahu sekarang yang mengambang di atas air ditengah danau. Bergerakan sedikit saja sudah bisa membuat perahu tersebut bergoyang. Sean memutuskan untuk kembali dan Julia setuju.

__ADS_1


Baru hendak mendayung perahu ketepian, ada-ada saja pengacau yang datang. Seekor kelelawar entah mengapa seketika menukik tajam ke arah mereka. Sean yang kaget akan hal itu refleks menghindar dengan cara memiringkan tubuhnya ke samping. Satu kelelawar berhasil dihindari tapi dengan kelelawar yang lain. Karna hal itu membuat perahu tiba-tiba oleng dan kemudian tenggelam. Hal hasil Sean dan Julia pun nyemplung ke air danau yang lumayan dingin.


"Julia!" teriak Sean memanggil Julia begitu kepalanya keluar dari air.


"Tidak perlu berteriak, aku ada disini," kata Julia. Ia berpegangan pada perahu yang sudah terbalik itu.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Maafkan aku."


"Lupakan itu. Lebih baik kita berenang kembali ke dermaga," Julia melepaskan pengangannya pada perahu lalu berenang menuju dermaga. "Sial. Ini yang paling parah! Di malam hari begini aku malah disuruh berenang," gerutu Julia dalam hati.


"Tunggu aku."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Disaat gema suara kembang api mulaiterdengar diluncurkan ke langit, Julius memutuskan untuk naik ka atas atap gedung asrama. Di sana lah tempat dimana Julius ingin melihat kembang api bersama Marjorie, tapi sayangnya dia cuman sendirian disini. Tidak ada siapapun yang bisa menemaninya menonton keindahan langit malam yang dipenuhi percikan cahaya warna warni. Julius menatap jauh ke depan atau lebih tepatnya ke arah danau. Dalam lamunan tersebut ia tersadar olh suara notifikasi hpnya.


...Ting!...


..."Sistem mendekteksi suhu tubuh pengguna menurun."...


Bingung akan hal ia dengan cepat mencari lokasi Julia. Betapa terkejutnya Julius begitu mendapati lokasi Julia yang ditunjukan hpnya berada di danau.


"Bagaimana bisa dia ada di dalam danau di malam hari begini? Apa dia ingin melakukan latihan bertahan hidup?


Tanpa pikir panjang lagi Julius bergegas turun dari gedung asrama. Ia berlari menuju tempat dimana lokasi yang ditunjukan hpnya. Sesampainya di dermaga kecil, Julius melihat adiknya dan seorang lagi berenang menuju tepian. Ia segera membantu adiknya itu naik ke dermaga.


"Kakak?" Julia dibuat bingung atas kehadiran Julius di dermaga kecil itu. "Bagaimana bisa kakak mengetahui kalau aku ada disini?" batinnya.


"Semua orang melihat pertunjukan kembang api di daratan tapi kau malah menontonnya sambil berenang," Julius melepaskan jaketnya lalu mengenakannya pada adiknya.


"Siapa juga yang mau? Ini kecelakaan. Perahu kami tadi tiba-tiba tengelam."


"Maafkan aku Julius. Ini sungguh cuman kecelakaan. Aku..."


"Kau..." Julius melirik tajam dan seketika menarik krah baju Sean dengan geram. "Ternyata kau yang menyebabkan adikku basa kuyup seperti ini! Jika terjadi sesuatu padanya maka aku akan mengikatmu dan melemparkannya ke tengah danau!"

__ADS_1


"Sudahlah kak, jangan menyalahkan Sean. Kami cuman jatuh ke danau. Kau pikir aku selemah itu? Berenang menyebrangi danau ini saja aku masih sanggup.," kata Julia mencoba menenangkan amarah kakaknya.


"Yang benar saja. Kau pikir dirimu itu ikan?" batin Sean.


...Ting!...


..."Suhu tubuh pengguna semakin menurun."...


Julius kembalikan oleh suara notifikasi hpnya. Bukan saat yang tepat untuk mengurus Sean saat ini, kesehatan Julia jauh lebih penting. Ia mendorong Sean sampai hampir saja kembali terjun ke danau. Ia berbalik dan mengeluarkan saputangannya. Dengan menggunakan sapu tangan itu Julius mengelap sisa air di wajah Julia.


"Mama memintaku untuk menjagamu. Jika terjadi sesuatu padamu, maka mama pasti akan menghukum ku. Jadi jangan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirimu sekecil apapun itu."


"Aku bukan anak kecil yang perlu dijaga setiap saat."


"Bagiku kau tetap gadis kecil walau kita seumuran. Sebaiknya kau cepat kembali ke kamarmu dan ganti baju. Hangatkan dirimu, nanti malah kena flu."


"Iya."


"Julius sungguh kakak yang baik untuk adiknya."


Julius merangkul tubuh Julia yang kedinginan dan mengantarnya kembali ke asrama. Sedangkan Sean, ia ditinggalkan begitu saja disana.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2