
Dengan kesal Lina mengeluarkan jarum yang biasa dibawahnya untuk berjaga-jaga. Jarum itu telah dilumuri racun yang tidak mematikan tapi sangat cocok untuk kejahilan. Tanpa sepengetahuan Lexi, Lina menembakan jarum tersebut menggunakan jarinya dan tepat mengenai perut Lexi, ketika ia membungkuk tadi. Lina berlalu pergi undurkan diri.
"Sungguh racun yang sia-sia jika tidak digunakan sama sekali. Kucing ini benar-benar telah membuatku kecewa," batin Daniel yang tidak tahu apa yang barusan dilakukan Lina.
"Saatnya menikmati pertunjukan, namun aku harus mencari tempat menonton yang cukup jauh dari sini," dengan senyum jahat Lina kembali masuk ke rumah.
Lina sempat mengajak Emma dan Judy, dua pelayan wanita itu untuk menonton pertunjukan bersama di balkon kamarnya, namun segera mereka tolak karna tugas mereka belum selesai. Lina harap maklum hal itu. Semua perkerja di rumah Daniel memang sangat disiplin. Mereka tidak akan meninggalkan tugas untuk godaan apapun.
"Aku masih penasaran siapa gadis itu tadi. Dari pakaiannya, ia tidak terlihat seperti pelayan dan sikapnya juga seperti itu. Apa ia pacarmu?" tanya Lexi pada Daniel.
"Menurutmu?" tanya Daniel balik sambil memutar cairan merah yang ada di cangkirnya.
"Aku pikir tidak. Jika ia memang pacarmu, kau pasti tidak akan mengundangku untuk makan malam dan juga kau sama sekali tidak terusik begitu aku menuangkan anggur di atas kepalanya."
"Pandangan yang menarik."
"Terima kasih."
Tiba-tiba Lexi merasakan perasaan tidak enak di perutnya. Ia merasa perutnya seketika melilit dan sakit. Lexi berusaha menahan itu dengan tetap tersenyum. Ia tidak mau Daniel sampai mengetahuinya. Setiap detik bersama Daniel sangatlah berharga baginya. Tapi sayangnya Daniel sudah menyadari ada yang tidak beres dengan Lexi. Ia melirik dengan tatapan aneh.
"Ada apa dengan gadis ini? Apa aku tidak menyadari sesuatu sebelumnya?" pikir Daniel. "Kau kenapa? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Hah? Iya, iya. Aku baik..."
Pretttt..................!
Suara gas alam telah menjawab semuanya. Bau yang begitu khasnya menyebar kesepenjuru taman belakang. Para anak buah Daniel yang biasanya tenang begitu menghadapi situasi apapun bahkan yang mengancam nyawa sekalipun, mereka tidak akan mundur. Tapi dalam situasi ini sebagian besar dari mereka mundur menjauh dan sisanya ingin sekali menarik bos mereka lari sejauh mungkin dari racun alami yang begitu mematikan bagi penciuman dan mungkin bisa berdampak pada yang lain.
__ADS_1
"Tu, tuan muda," kata salah satu anak buahnya dengan susah payah menahan bau.
Wajah Daniel seketika berubah mengerikan. "Nona Lexi."
"Maaf, maaf. Aku sungguh minta maaf Daniel. Aku, aku sungguh tidak bermaksud..."
Pretttt.................! Prettpretpret..................pret!
Suara itu kembali terdengar memotong kalimat Lexi. Gas itupun kembali menyebar di sekitar mereka. Raut wajah Daniel semakin mengerikan. Ingin sekali ia seketika mengubah rencana dan langsung memenggal kepala gadis di depannya ini. Karna racun yang diberikan Lina sebelumnya telah membuat Lexi tidak bisa menahan diri untuk buang gas.
"Maaf terlambat tuan muda!"
Semua anak buahnya yang lari menjauh tadi kembali lagi dengan membawa masing-masing penyemprot pengharum ruangan. Mereka menyemprotkan semua itu sekaligus untuk menghilangkan bau namun itu masih belum cukup. Di tambah lagi Lexi kembali buang gas.
"Mungkin sebaiknya kau..."
"Ayok cepat tinggalkan tempat ini tuan muda!"
Salah satu anak buahnya menarik Daniel pergi meninggalkan tempat berbahaya itu. Mereka pergi ke sisi lain taman yang masih menyimpan udara bersih. Jaraknya kurang lebih seratus meter dari tempat makan malam tersebut.
"Wah... Wah... Baunya sampai ke atas sini."
Lina mengibas-ngibaskan telapak tangannya Di antara hidungnya untuk menghalau bau. Ia sekarang ini sedang menikmati pertunjukan dari atas balkon kamarnya. Karna ulah racunnya seisi taman kini dipenuhi gas busuk.
"Hm! Masih berani berurusan denganku. Selain racun dalam kotak itu, aku masih memiliki puluhan racun kecil lainnya. Aku sangat dengan senang hati membiarkan kalian yang suka mencari masalah denganku mencobanya. Ini hukuman kecil untukmu gadis manis. Racun yang aku berikan itu disebut racun sigung. Seperti namanya, orang yang terkena racun ini tidak akan bisa menahan keinginan dirinya untuk buang gas. Dan gas yang dihasilkan juga sama busuk nya dengan gas yang dihasilkan sigung asli. Lebih menariknya lagi bau busuk ini tidak akan hilang setelah satu minggu atau jika beruntung ada hujan yang cukup lebat untuk menyapu bersih bau busuk tersebut."
Sementara itu mari kita lihat keadaan Daniel. Ia menanggalkan jasnya lalu dibuangkannya begitu saja. Bau tersebut telah melekat kuat pada pakaiannya, membuat ia tidak tahan. Benar-benar hari yang sial baginya. Rencana ingin menjebak nona Lexi tapi mala diserang bau yang begitu busuk.
__ADS_1
"AAAAH! ! ! Sungguh membuat orang kesal!! Berani-beraninya gadis itu buang gas di hadapanku! Memang cari mati!" dengan sangat marah Daniel berteriap di kesunyian malam.
"Tapi aneh juga kenapa dia tiba-tiba buang gas seperti ini," pikirnya begitu menyadari ada sesuatu yang janggal. "Ini pasti ulah kucing itu. Aaaah..... Seharusnya aku mengharapkan ia membalas dengan serangan fisik dari pada menggunakan racun aneh miliknya. Cara cemburu gadis ini terlalu kejam dan sangat berimbas padaku."
Disisi lain, kamar mandi. Lexi tidak henti-hentinya buang gas sampai ia sesak sendiri di dalam sana karna bau gas miliknya sendiri. Ia tergesa-gesa ke luar dari kamar mandi mencari udara segar. Lexi sebenarnya juga berusaha untuk tidak buang gas tapi bila ia menahannya perutnya akan sangat sakit sekali. Ia tidak tahan hal itu dan tampa sadar buang gas untuk menghilangkan rasa sakit pada perutnya.
Emma yang mengantar Lexi ke kamar mandi berusaha menutup hidungnya menggunakan tangan, walau itu tidak cukup membantu sama sekali. Ia masih bisa mencium bau yang tidak mengenakan tersebut. Karna tidak tahan lagi, Emma mencari pengharum ruangan yang akhirnya ia cuman mendapatkan racun serangga dengan aroma lemon. Tampa pikir panjang lagi ia menyemprotkan itu ke udara. Mungkin karna terlalu fokus ingin segera bau itu hilang, Emma tampa sengaja menyemprotkan racun serangga itu sampai mengenai Lexi yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aaaah!!! Apa-apa ini. Kau pikir aku hama apa?!!!" bentak Lexi.
"Maaf, maafkan saya nona Lexi," Emma membungkuk sambil minta maaf.
"AAAAAH...........! ! ! Dasar keterlaluan! Kenapa aku begitu sial hari ini!! Bahkan seorang pelayanpun menyemprotku dengan racun serangga! Tunggu saja kau. Jangan kau pikir aku akan melepaskan mu!" tunjuk Lexi pada Emma. Ia berlalu pergi dengan kesal.
"Dasar gadis aneh. Padahal semua ini salahnya buang gas sembarang. Masih mending aku menyemprotmu dengan racun serangga, kalau tuan muda... Aku harap tuan muda memberinya pelajaran," gerutu Emma sambil mendengus kesal.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε.