
Jam istirahat tiba. Seperti biasa Julia dan Nisa akan menemui Wendy dan Febby di kelas mereka untuk mengajak mereka pergi ke kantin. Selesai makan siang, mereka berempat beranjak pergi dari kantin tersebut. Rencananya mereka mau menghabiskan waktu di atas atap gedung sekolah sambil menunggu jam istirahat berakhir. Kebetulan Julia membawa sulingnya dan ingin menunjukan permainan yang baru ia pelajari pada teman-temannya. Di lorong yang sepi di lantai tujuh, Julia tiba-tiba kembali merasakan rasa sakit yang sama di kepalanya. Langkahnya seketika berhenti. Ia mencari pegangan pada tembok menggunakan tangan kirinya dan tangan kanannya mencengkram kepalanya. Ketiga temannya yang mengetahui hal itu seketika khawatir.
"Julia, kau kenapa?" tanya Wendy yang sigap menahan tubuh Julia agar tidak jatuh.
"Wajahnya pucat sekali. Sebaiknya kita segera bawa dia ke ruang kesehatan sekarang juga," saran Febby.
"Ide bagus. Kita ke ruang kesehatan ya, Julia."
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja, teman-teman," tolak Julia. Ia menegakan tubuhnya dan mengatur nafasnya sesaat. Rasa sakit yang dialaminya memang berlangsung singkat namun cukup menusuk.
"Jam olahraga tadi kau juga seperti ini. Jangan menolak lagi Julia, kau harus periksakan kondisi kesehatan tubuhmu. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu?" kata Nisa sedikit memaksa dengan nada khawatir.
"Tadi dia juga seperti ini?" tanya Febby pada Nisa.
"Iya."
"Kalau begitu, hal ini tidak bisa dibiarkan. Mau tidak mau kau harus ke ruang kesehatan sekarang juga," kali ini Wendy memaksa Julia pergi ke ruang kesehatan
"Hei, sudah aku katakan aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu sengotot ini," Julia mencoba menolak sebisa mungkin namun percuma saja.
"Kita akan mengetahuinya setelah dokter sekolah memeriksamu."
"Astaga, kekhawatiran kalian berlebihan."
Baru menyeret paksa Julia sejauh lima meter, secara kebetulan muncul dua orang yang tidak diharapkan untuk saat seperti ini. Dua orang itu adalah Rica dan Delfa yang memang sendari tadi mengikuti mereka.
"Selamat siang nona-nona," sapa Rica sambil mendekat.
"Kali ini apa yang mau dilakukan dua makhluk ini?" batin Julia begitu melihat mereka. "Kupikir botol parfum siapa yang tumpah, ternyata itu adalah nona Pinkston. Bau parfum mu itu menyengat sekali sampai-sampai lebahpun mati karna nya," ejek Julia.
"Apa kau bilang?!! Asal ku tahu saja parfumku ini sangat mahal! Kau itu tidak akan mampu membelinya mau seberapapun usaha kau menabung seumur hidup!" bentak Rica terpancing emosinya.
__ADS_1
"Kau benar. Aku tak mungkin menghabiskan uangku untuk barang palsu itu!"
"Barang palsu?" ulang Nisa pelan cukup kaget mendengarnya.
"Apa?! Sembarangan kau bilang kalau parfum ku ini palsu! Apa yang kau tahu tentang parfum ku?!! Semua yang aku pakai ini terjamin keasliannya!"
"Benarkah? Apa kau yakin membelinya langsung di tokonya atau situs resmi penjualannya? Karna dari bau parfum mu itu, aku bisa menebak itu adalah parfum dari salah satu edisi toko parfum yang terkenal di ibu kota, Kilau mutiara. Namun sayangnya parfum yang kau gunakan itu palsu, itu bisa ditebak dari baunya yang terlalu menyengat. Parfum yang asli baunya jauh lebih lembut dan samar tapi benar-benar menyatuh dengan tubuh seolah-olah bau itu memang berasal dari tubuhmu sendiri," jelas Julia.
"Aku tidak mau mengatakan ini, Rica," Delfa mendekatkan wajahnya ke tubuh Rica untuk mencium bau parfumnya. "Tapi bau parfum mu memang lumayan menusuk hidung. Apa kau sungguh tidak ditipu penjualnya?"
"AAH! Sebenarnya kau itu berpihak pada siapa?!!" bentak Rica pada temannya itu.
"Julia, dari mana kau tahu semua itu?" bisik Febby penasaran.
"Aku punya satu di rumah, hadiah dari nenek ku," jawab Julia sambil berisik.
"Oh... Pantas saja."
"Sudah cukup! Aku kesini untuk menantangmu berduel," tunjuk Rica pada Julia. "Karna urusan mendesak, hari itu aku tidak bisa datang dan hari ini aku pastikan akan menghajarmu untuk membalas semua yang telah lakukan padaku."
"Oh... Sebab itu kau mengirim tiga orang pria untuk mengantikanmu, namun mereka semua payah."
"Ternyata benar kau yang menghajar mereka. Aku semakin penasaran seberapa hebatnya dirimu ini."
"Apa maksudnya ini, Julia? Kau tidak memberitahu kami soal duel itu," tanya Wendy.
"Aha, itu cuman tantangan di hari pertama sekolah."
"Sudahlah, tidak perlu dijelaskan lagi. Apa kau siap Julia?" Rica memasang ancang-ancang siap menyerang.
Tidak mau kalah. Julia menggeretakan jarinya yang menandakan ia menerima tantangan tersebut. "Aku selalu siap."
__ADS_1
"Julia, tapi tubuhmu..." cegat Nisa dengan nada cemas.
Julia tersenyum pada Nisa sambil menyerahkan suling nya. "Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat."
Dengan senang hati Julia menyerang lebih dulu setelah Rica memberi isyarat maju. Perkelahian diantara keduanya tidak terelakan lagi. Mereka mengeluarkan segenap kemampuan masing-masing agar bisa menjatuhkan lawannya. Tidak seperti perkelahian kebanyakan wanita yang lebih ke arah menjambak rambut atau saling cakar seperti kucing. Duel antara Julia dan Rica bisa dibilang pertarungan yang sebenarnya. Mereka jauh lebih mengandalkan kekuatan pukulan dan tendangan. Menyerang titik tertentu serta membuat strategi untuk mengalahkan lawan.
"Hei! Tidak boleh berkelahi disini!" teriak Wendy namun diabaikan keduanya.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Gerakan dari Julia dan Rica terlalu cepat. Sangat berbahaya jika mereka ingin melerai keduanya. Julia sangat senang begitu mengetahui kemampuan Rica dapat di anggap sebagai lawan yang lumayan sepadan, dengan begitu Julia tidak akan segan-segan jika harus serius melawannya. Pukulan serta tangkisan atau sesekali menghindar mereka lakukan sebaik mungkin. Saat ini mereka berdua terlihat seimbang, walau kita tahu Julia belum serius sama sekali dalam menghadapi Rica. Hal itu terlihat dari Julia yang terus menghindari pukulan Rica namun jika Julia sudah menyerang, Rica lah yang kesulitan menghindar dan bahkan sampai terkena serangan tersebut.
"Kau cukup hebat juga, Julia. Tidak heran kau bisa mengalahkan ketiga pria itu sendirian," ujar Rica begitu berhasil menghindari pukulan Julia.
"Kau juga lumayan," Julia menarik kepalan tinjunya dari dinding koridor tersebut. "Tapi ini belum berakhir!"
Julia kembali mengayunkan pukulannya menyerang Rica. Dengan seringai di wajahnya dan semakin bersemangat membuat Julia tidak bisa menahan diri lagi. Kali ini Julia lebih sering melakukan serangan. Sadar kemampuan dari lawannya meningkat menimbulkan rasa gentar dalam benak Rica. Aura yang menyelimuti Julia mulai membuat tubuh Rica gemetar.
"Apa dia masih Julia yang sebelumnya? Setiap serangan yang ia lakukan terasa semakin kuat. Aku bisa kalah kalau seperti ini," pikir Rica
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1