
"Kakak!" teriak Julia sambil menghampiri Julius.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar seseorang?"
"Alah.... Tidak seperti biasanya saja."
"Ada apa kau kesini?" tanya Julius sambil kembali melanjutkan mengemas barangnya.
"Aku dengar kakak mendapatkan misi baru dari papa."
"Jika kau datang ingin minta dibawakan oleh-oleh sepertinya tidak bisa. Misiku kali ini berada disebuah pulau yang cuman ada hutan. Tidak ada yang menjual souvenir disana."
"Sedikit kecewa tapi aku datang kesini bukan karna itu. Aku cuman mengantarkan sebagian daftar orang yang kemungkinan akan hadir di pelelangan nanti."
Julia menyerahkan sejumlah kertas yang berisi data beberapa orang-orang dari kalangan keluarga berpengaruh di berbagai negara. Julius menerima kertas tersebut dan membaca sekilas semuanya.
"Aku sempat mencari tahu tentang mereka. Kebanyakan dari mereka cuman kepalah keluarga atau tuan muda dari keluarga kaya raya, hanya saja orang yang mendampingi mereka menghadiri acara lelang itu adalah seorang pengawal profesional yang sengaja disewa dengan harga tinggi untuk menjaga keselamatan mereka. Ada juga yang sampai menyewa pembunuh bayaran, loh," jelas Julia.
"Baik. Sepertinya yang harus aku waspadai cuman pengawal mereka saja."
"Iyap. Dari semua pengawal yang ada, aku rasa mereka tidak jauh lebih hebat dari paman Qazi. Hanya ada satu yang harus kakak waspadai."
"Siapa?"
Julia merebut kembali kertas yang Julius pegang dan menunjukan selembar kertas yang berisi satu nama.
"Death knell?"
"Iya. Dia adalah seorang pembunuh bayaran berdarah dinggi yang rumornya baru-baru mengemparkan dunia bawah tanah. Kealihannya membunuh belasan orang dengan cuman mengandalkan sebila pisau saja. Setiap kali dia datang akan terdengar suara gemericik lonceng dan orang yang mendengarnya dapat dipastikan akan meregang nyawa," jelas Julia seperti seseorang yang menceritakan kisah horor pengantar tidur saja.
"Dia itu pembunuh bayaran atau malah peri gigi?" kata Julius tanpa ekspresi.
"Sudah ada banyak daftar yang menjadi korban dari kekejaman Death knell. Dan beberapa rumor yang beredar dari orang-orang yang perna melihatnya secara langsung mengatakan kalau Death knell ini adalah seorang gadis muda yang kemungkinan seumuran dengan kita."
__ADS_1
"Iya, iya. Jika aku bertemu dengannya, akan aku katakan 'Maukah kau berkencan dengan ku?'" canda Julius.
"Apa kakak tidak percaya dengan yang aku katakan?"
"Aku lebih percaya jika telah melihatnya sendiri."
"Ya sudah. Lihat saja nanti di acara pelelangan. Apa benar dia seorang gadis muda atau bukan?" Julia menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku lebih menebak kalau dia itu cuman seorang wanita bertubuh pendek. Mungkin karna ukuran tubuhnya itulah orang salah mengira umurnya."
"Tapi akan bagus kalau dia memang seorang gadis muda. Aku teringin sekali berjumpa dengannya. Aku mau ikut," kata Julia dengan tatapan memohon.
"Ikut?"
"Iya," jawab Julia sambil tersenyum lebar di wajahnya.
"Kalau begitu, minta izinlah pada papa. Jika papa mengizinkan kau boleh ikut."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu," dengan riang seorang anak kecil, Julia berlalu pergi menemui papanya.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di tempat lain di ibukota. Di sebuah keluarga Rodgers. Tn. Rodgers baru saja meminta putranya untuk datang ke ruang kerjanya. Begitu putranya datang, ia segera mempersiapkan dia duduk di hadapannya. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Tn. Rodgers pada putranya.
"Ada perlu apa, pa?"
"Carl, kau sudah dilatih sejak kecil menjadi Agen rahasia negara dan saat ini kau bahkan telah mengikuti pelatihan agen junior secara resmi," ujar Tn. Rodgers.
"Iya. Aku ingin seperti papa. Menjadi seorang agen yang hebat dan bisa menangkap penjahat-penjahat kelas dunia," kata Carl.
"Kalau begitu, apa kau siap untuk menjalankan misi lapangan pertamamu?"
"Sungguh? Aku sangat siap kalau begitu," jawab Carl penuh semangat.
__ADS_1
"Itu baru putraku. Misi lapangan pertama mu adalah menyusup ke acara pelelangan di suatu pulau yang tidak tercatat di peta."
"Tn. Rodgers, apa anda yakin meminta tuan muda menjalankan misi tersebut?" tanya seorang pria yang menjadi tangan kanan Tn. Rodgers.
"Sangat yakin. Lagi pula misi ini cuman mencari informasi mengenai pelelangan itu. Untuk menjaga keselamatannya, aku sendiri yang akan menemani Carl ke pulau misterius itu."
"Memangnya apa yang bisa terjadi? Itukan cuman acara pelelangan biasa?" tanya Carl sedikit penasaran. Ia sama sekali tidak tahu tentang acara pelelangan tersebut.
"Iya, itu cuman acara pelelangan biasa. Sebaiknya kau segera bersiap-siap jika ingin ikut."
"Baiklah. Aku pergi bersiap-siap dulu," Carl bangkit dari tempat duduknya lalu beranjak pergi.
"Saya sarankan lebih baik tidak mengajak tuan muda untuk menjalankan misi ini. Dia masih belum ahli dan perlu belajar lagi. Tempat itu sangat berbahaya..."
"Aku mengerti jika kau mengkhawatirkan muridmu itu," potong Tn. Rodgers. "Tapi ini adalah awal yang bagus untuk memperkenalkan dia dengan ruang lingkup penjahat yang sesungguhnya. Seberapa kejam dan berbahayanya mereka. Aku ingin setelah Carl menyaksikan semua itu secara langsung, ia mampu menyiapkan mentalnya sebelum benar-benar bertekat menjadi seorang agen."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Setelah jam makan siang, Julius dan Qazi berangkat ke pelabuhan kota. Sudah ada kapal feri yang telah menunggu mereka disana. Kapal dengan sejumlah awak kapal dan nakhoda siap mengantar mereka pergi kemanapun. Kapal tersebut adalah kepemilikan dari Veliana. Baru pagi ini kapal itu diantar ke pelabuhan untuk melakukan pemeriksaan dan menyiapkan keperluan sebelum berangkat. Sebab itu Julius dan Qazi lebih memilih langsung ke pelabuhan dari pada menunggu kapal kembali ke vila Krisan. Daniel, Lina, Julia, Adelia dan Adelio mengantar langsung keberangkatan Julius. Tepat seperti perkiraan Julius, Julia sama sekali tidak di izinkan ikut bersamanya. Julia benar-benar tampak kecewa.
Setelah memastikan semuanya lengkap, kapal siap berangkat. Kapal feri bercat putih itu perlahan bergerak maju meninggalkan pelabuhan. Perjalanan yang ditempuh untuk sampai di pulau yang dimaksud setidaknya membutuhkan 23 jam berlayar. Sungguh waktu yang lama. Julius menghabiskan waktunya sore ini dengan bersantai di deck kapal. Setidaknya Julius bisa menikmati ini sebagai liburannya. Untuk sekarang ia tidak mau mendengar apapun dulu tentang misi. Sambil memaikan hpnya, ia masih ingin bersantai sejenak sambil menikmati birunya laut yang asin terbawa terbang bersama hembusan angin yang menerpa kencang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε.