Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Darah istimewa


__ADS_3

Dalam kegelapan hutan itu entah mengapa hati Death knell sama sekali tidak tenang. Ia terus melirik kebelakang. Pikirannya dipenuhi pertanyaan 'Apa bocah menggemaskan itu baik-baik saja?'. Semakin jauh langkahnya semakin gelisah hatinya.


"Kembalilah sendiri ke kapal Tn. Almero. Ada urusan yang harus aku selesaikan," kata Death knell sambil menyerahkan senter ke Tn. Almero lalu berlari kedalam kegelapan.


"Apa?! Kau mau kemana? Kau bilang setelah mengantar ku dengan selamat kembali ke kapal, barulah kau mau merebut kembali permata itu."


"Ikuti saja jalan itu. Sebentar lagi kau juga akan sampai di kapal. Aku tidak akan lama," teriak Death knell yang bayangannya saja telah hilang dalam gelapnya hutan.


Dalam gelapnya hutan. Dengan nafas terasa sesak dan keringat telah bercucur deras ditubuhnya, Julius terpaksa harus beristirahat sebentar. Ia menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah di salah satu batang pohon. Sambil mengatur nafasnya, Julius mencoba membalut lukanya menggunakan sapu tangannya. Luka pada lengannya itu memang tidak terlalu besar namun racun tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Racun tersebut tidak akan membunuh Julius sama sekali tapi efek sampingnya masih bisa ia rasakan.


"Sial! Ini racun tingkat tinggi. Butuh waktu lama bagi tubuhku untuk menetralkannya."


Baru semenit beristirahat, Julius tiba-tiba kedatangan tamu. Ia mengangkat kepalanya dan melihat keempat orang pria berjalan menghampirinya lalu mengepungnya.


"Siapa kalian?" tanya Julius dengan tangan kiri yang tersembunyi di belakang tubuhnya telah siap siaga menembak.


"Kami tidak akan menyakitimu. Ikut kami kembali ke rumah lelang. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata salah satu dari mereka.


"Siapa? Bos kalian? Kalau aku tidak mau, bagaimana?"


"Maka kami terpaksa membawamu secara paksa."


"Coba saja kalau bisa!"


Julius mengeluarkan senjatanya lalu meluncurkan tembakan secara acak. Tidak menduga hal tersebut karna setahu mereka bocah di depan mereka ini tidak terlihat menggunakan senjata api selama bertarung bersama gadis tadi, keempat pria itu bergerak menghindari peluru. Julius mengambil kesempatan ini bangkit lalu melarikan diri dari keempat pria itu. Terjadi sedikit kejar-kejaran namun tubuh Julius masih terlalu lemah akibat racun ditubuhnya.


"Hosh... Hosh... Efek racun ini benar-benar menghambatku. Kalau seperti ini aku sama sekali tidak bisa menghindari mereka," Julius bersembunyi dibalik pohon. Kakinya sungguh tak sanggup lagi berlari.


"Cukup bermain-mainnya bocah. Kau tidak akan bisa melarikan diri dari kami."


"Bagaimana caranya aku dapat terhindar dari mereka?"

__ADS_1


Dalam waktu yang singkat itu Julius berusaha memikirkan cara untuk dapat melarikan diri dari keempat pria itu. Dalam kegelapan malam yang cuman bercahaya kan bulan, Julius baru teringat kalau sebenarnya ia membawa serbuk racun disaku bajunya. Tanpa pikir panjang lagi, disaat keempat pria itu diposisi terdekat, Julius menyebarkan serbuk racun ke arah mereka. Akibat menghirup racun tersebut, keempat pria itu seketika terbatuk-batuk dan mengalami sesak nafas yang berat sebelum akhirnya tersungkur ke tanah.


"Fiuuuh...." Julius menghembuskan nafas lega sambil kembali menyandarkan tubuhnya di pohon.


"Kau bocah yang penuh kejutan rupanya."


Belum sempat mengumpulkan tenaga, Julius malah dikejutkan dengan kehadiran seorang pria lainnya. "Tekanan dari pria ini jauh lebih besar dari gabungan keempat pria tadi. Siapa dia? Apa dia adalah bos mereka?" pikirnya sambil menatap tajam pria itu.


"Maaf atas ketidak sopananku karna telah mengirim orang-orang payah ini untuk mengundang mu."


"Mereka semua telah mati, apa kau tidak marah padaku karna telah membunuh orang-orang mu?"


"Mereka memang pantas mendapatkannya," ujar pria itu masih tampak ramah.


"Kenapa tidak kau katakan saja apa maumu? Tidak perlu berpura-pura lagi karna aku benci hal itu."


"Baiklah. Apa yang bisa aku lakukan dihadapan bocah sepertimu. Tapi sebelum aku menjelaskannya, sebaiknya kita mencari tempat ngobrol yang lebih baik dari pada dalam hutan seperti ini."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Dimana bocah mengemaskan itu berada? Aku sudah menyelesuri tempat ini namun belum kunjung menemukannya. Apa dia sudah kembali ke kapal?" batin Death knell. Ia hendak kembali disaat mata nya tiba-tiba tertujuh pada saputangan putih bernoda darah. "Darah di sapu tangan ini menghitam. Ini pasti milik bocah menggemaskan itu. Tapi kenapa saputangan ini bisa ada disini dan bekas tetesan darahnya malah mengarah kembali ke rumah lelang? Pasti telah terjadi sesuatu padanya."


Death knell mengikuti bekas tetesan darah di dedaunan kering. Sepanjang perjalanan ia menemukan senjata Julius, belati dan serbuk aneh. Keyakinannya semakin kuat kalau memang telah terjadi sesuatu pada Julius dan itu berhubungan dengan rumah lelang. Sampai di rumah lelang, Death knell tidak segera masuk. Walau terlihat sepi namun tetap saja ia harus waspada. Dia sama sekali tidak tahu jumlah lawan yang ada di dalam. Ia mencoba hendak masuk ke rumah lelang secara mengendap-endap disaat tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara di belakangnya.


"Sendang apa kau disini?"


Death knell segera berbalik dan mengayunkan kepalan tinjunya. "Siapa kau?"


"Tenangkan dirimu dulu, okey. Aku bukan bagian dari mereka," ujar pria itu begitu berhasil menahan serangan Death knell. "Apa yang dilakukan gadis sepertimu disini?"


"Aku... Aku disini ingin menyelamatkan temanku," kata Death knell mencari alasan.

__ADS_1


"Oh... Apa bocah laki-laki yang baru saja di bawa masuk tadi?" tanya pria itu memastikan.


"Iya. Jadi kau melihatnya masuk ke rumah lelang?"


"Dia masuk bersama dengan pria."


"Seorang pria? Apa yang dinginkan pria itu dari bocah menggemaskan?" batin Death knell.


"Apa yang mereka inginkan dari seorang bocah laki-laki? Apa mereka juga terlibat dalam sendikat perdagangan orang? Sepertinya aku memang harus menyelidiki ini," batin Tn. Rodgers.


"Ngomong-ngomong siapakah gerangan tuan ini? Kenapa anda mengintai rumah lelang?" tanya Death knell sedikit penasaran.


"Maaf, aku tidak bisa memberitahu mu, tapi aku akan membantumu menyelamatkan temanmu. Kau tenang saja."


"Sepertinya orang ini memiliki identitas rahasia. Sebaiknya aku tidak sembarangan bertindak didepannya atau identitas ku lah yang malah ketahuan."


"Sepertinya aku perna melihat gadis ini. Kalau tidak salah dia adalah gadis yang ada di ruang VIP itu. Tunggu dulu, seingatku bocah laki-laki itu juga ada di pelelang. Bukankah mereka saling bersaing saat itu? Aku jadi bingung."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2