Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Ups, ketahuaan


__ADS_3

"Aku mau ke toilet dulu."


"Lagi? Kau baru saja dari sana."


"Sambilan mau ambil kudapan dingin."


Lina beranjak dari pondok kayu itu. Ia masuk ke rumah melalui pintu belangkang yang memang langsung mengara ke dapur. Sebenarnya alasan ke toilet hanya untuk Lina bisa mengendap-endap ke dapur untuk membuat susu khusus ibu hamil. Daniel mengirim pesan untuk Lina mengirimkan foto kalau ia sudah meminum susunya. Cukup merepotkan tapi yang sudahlah. Daniel memang sungguh cerewet kalau soal ini. Lina mengirimkan foto secangkir susu coklat pada Daniel dan satu foto lagi setelah Lina menghabiskan susu coklat itu.


Lina kembali ke pondok kayu, tempat dimana Ira menunggu. Ditangannya sudah ada nampan berisi dua mangkok es serut. Cuaca diluar sedikit berangin. Hal ini membuat dress longgar yang dikenakan Lina ditiup angin sampai menapakan lekuk tubuhnya. Lina hanya bisa berharap Ira tidak menoleh padanya disaat angin bertiup kencang. Akan sangat gawat kalau Ira sampai tahu tentang kehamilannya. Fiuuh... Lina menghembuskan nafas lega karna telah sampai di pondok tampa diketahui oleh Ira. Ira terlalu sibuk membersihkan wajahnya menggunakan tisu basa.


"Lina, kapan kau datang?" tanya Ira begitu menyadari kedatangan Lina.


"Baru saja."


"Kenapa kau begitu lama. Aku hampir saja mau menyusulmu."


"Siapa suruh kau mencoret seluruh wajahku. Butuh waktu lama aku membersihkannya," Lina menyodorkan semangkuk es serut pada Ira.


"Jangan salahkan aku jika kau sendiri yang terus kalah," kata Ira setelah menerima es serut tersebut lalu mencicipinya.


"Setelah ini kita mau main apa lagi?" tanya Lina.


"Em... Bagaimana kalau Jenga Game?" saran Ira.


Jenga Game merupakan permainan yang membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian pemain. Jenga adalah permainan tumpuan menggunakan balok kayu yang disusun meninggi. Setiap pemain perlu menyusun balok kayu dengan perlahan-lahan tanpa menggerakkan atau menjatuhkan balok lainnya. Orang yang bisa menyusun dengan tinggi tanpa jatuh, dialah pemenangnya!


"Okey."


Lina mengambil salah satu kotak berbentuk balok persegi panjang dari berbagai tupukan papan permainan yang ada disampingnya lalu membuka nya. Isi dari kotak tersebut adalah sekumpulan balok kayu kecil yang telah disusun rapi. Permainan dimulai. Mereka melakukan suit untuk menentukan siapa yang main duluan. Yang yang menang adalah Lina. Dia yang mulai main duluan. Dengan hati-hati Lina memindahkan satu balok untuk disusun ke atas. Setelah berhasil, sekarang giliran Ira pula yang memindahkan satu balok tersebut. Mereka terus melakukannya secara bergiliran sampai tumpukan balok itu menjadi rentan untuk terjatuh. Ketenangan semakin memuncak. Sedikit saja melakukan kesalahan balok-balok kayu tersebut pasti akan jatuh. Saat ini giliran Ira. Ia dengan begitu berhati-hati memindahkan satu balok. Baru hendak menggeser balok kayu itu tiba-tiba Lina dengan jahilnya berteriak memanggil Ira di dekat telinganya.


"IRA !"


"AAAAH ! !" teriak Ira kaget bersamaan dengan seluruh balok kayu yang jatuh berhamburan, dan juga sangking kaget nya. Kantung kerimpik yang ada ditangannya terlempar tepat ke atas kepala Lina. Hal hasil kepala serta tubuh Lina kini di penuhi keripik kentang.


"Ira..." Lina membersikan potongan keripik yang memenuhi rambutnya.

__ADS_1


"Hihihi... Rasakan itu Lina. Salah sendiri kenapa kau mengagetkanku."


Ira membantu membersikan seluruh keripik yang berhamburan menutupi rambut serta tubuh Lina. Tapi disaat tangannya mengibas-gibaskan sisa keripik di dress Lina, ia tampa sadar menyentuh perut Lina. Ira seketika tersentak begitu menyadari apa yang ada di balik dress longgar tersebut. Ia mulai mengelus perut Lina dari atas ke bawah sampai dress itu menampakan kehamilan Lina. Dengan wajah terkejut Ira menatap lurus wajah Lina dengan tangannya masih di atas perut temanya itu. Lina hanya terdiam. Dia bingung mau bagaimana menjelaskannya pada Ira.


"Ohoo....... Apa ini?" dengan senyum di wajahnya Ira kembali mengelus perut Lina secara memutar.


Lina menepis tangan temannya itu dari perutnya lalu memalingkan muka.


"Ternyata itu sebabnya beberapa bulan ini kau selalu mengenakan pakaian longgar. Hubungan kalian sudah sejauh itu rupanya. Sebentar lagi kalian akan memiliki seorang bayi."


"Jangan beritahu siapapun soal ini!" tegas Lina tampa melirik Ira.


"Boleh. Tapi tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini," Ira mendekat ke arah Lina sangat dekat, dengan raut wajahnya seperti ada maksud tertentu.


"Apa, apa yang kau mau kau lakukan?" Lina merasakan firasat tidak enak.


"Boleh aku mengelus mereka lagi?"


Lina sebenarnya merasa tidak nyaman perutnya dielus seseorang, tapi demi agar Ira tutup mulut, ya sudahlah. "Sebentar saja."


"Hihi..." baru meletakan tangannya saja di atas perut Lina, Ira sudah terkekeh senang. Ia mulai mengerakan tangannya mengelus lembut tonjolan besar itu. "Astaga Lina, ini menakjubkan. Kenapa kau tidak memberitahu ku sejak dulu kalau kau hamil? Berapa usia kandunganmu sekarang?"


"Baru jalan 18 minggu."


"Tidak mungkin. Ukuran ini setidaknya sudah memasuki 24 minggu lebih masa kehamilan."


"Aku hamil bayi kembar, Ira."


"Kembar?!" Ira sedikit tersentak mendengarnya.


"Ada apa Ira?"


"Ah, tidak ada," dengan memasang raut wajah tersenyum, Ira berusaha menutupi ekspresinya tadi. "Jadi kalian akan memiliki dua bayi sekaligus. Ini pasti berita yang sangat menggembirakan."


"Iya," Lina ikut mengelus lembut kandungannya.

__ADS_1


"Aku do'akan persalinanmu berjalan lancar," tangan Ira kini telah berpindah ke pigang Lina.


"Ah...!" teriak Lina begitu jempol Ira menekan satu titik di pinggangnya. "Ira apa yang kau lakukan? Sakit."


Seperti tidak mendengarkan teriakan Lina, Ira mala semakin menekan titik tersebut lalu menariknya turun. Jari-jarinya yang lain kini mulai bermain sampai ke punggung Lina. Setiap tekanan yang dilakukan Ira menimbulkan sensasi rasa sakit bagi Lina namun nyaman.


"Aah! Ira..." rintih Lina sambil menahan perutnya.


"Tenang Lina. Setelah ini kau akan merasa lebih baik."


Lina sesekali memejamkan mata menahan rasa sakit tersebut. Tangan Ira kini beralih ke paha Lina lalu terus sampai ke betisnya. Semenit kemudian Ira menghentikan pijitannya.


"Bagaimana rasanya? Enakan, bukan?"


"Walau masih terasa sakit sedikit tapi... Hei, kau benar juga," Lina menegakan punggungnya dan menggerak-gerakan kakinya. "Rasa pegal di pinggang dan kaki ku sudah hilang. Bagaimana bisa?"


"Itu karna saraf disekitaran perutmu terlalu tegang. Ada beberapa pembuluh darah yang terjepit di pinggang serta punggumu yang menyebabkan ketidaknyamanan. Aku yakin kau selama ini kesulitan untuk tidur nyenyak karna posisi yang serba salah, bukan?"


"Dari mana kau tahu itu semua?"


"Kau lupa? Aku ini calon dokter kandungan. Wajar saja aku tahu semua itu."


"Tapi dari mana kau belajar titik-titik pijatan itu? Aku yakin universitas tidak mengajarkannya."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2