Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kedai makan sederhana


__ADS_3

"Kau adalah bawahan tersayangku, Marjorie. Aku sudah mengangapmu seperti adik sendiri. Jangan sungkan jika kau membutuhkan sesuatu."


"Sekali lagi terima kasih. Saya pasti akan menjalankan misi yang anda perintahkan sebaik mungkin dan tanpa ada kesalahan sedikitpun sebagai balasanya."


"Lupakan misi tersebut untuk sesaat. Anggap saja sebagai perayaan sebelum awal rencana menjalankan misimu yang sebenarnya."


"Baik. Saya siap melakukan apapun walau harusmengorbakan nyawa sekalipun. Tapi, bagaimana dengan Tn. Arlo? Jika saya mengambil libur hari ini..."


"Jangan pusingkan itu. Kau berkerja padaku, bukan padanya. Ikuti saja perintahku dan ambillah liburanmu. Aku akan bicara pada Tn. Arlo secara pribadi untukmu, sayang. Selamat bersenang-senang," Lady Blue memutus telponnya. "Hm, sepertinya aku juga bisa menggunakan Marjorie untuk menjebak Julia. Maafkan aku Marjorie, kau bisa mencari teman yang lain," batinnya.


Tanpa merasa curiga, Marjorie dengan sangat senang mendapatkan liburannya. Ia menghampiri Julia dan Nisa dan mengatakan kalau ia setuju ikut jalan-jalan bersama mereka hari ini. Mendengar itu tanpa pikir panjang lagi, Julia menarik tangan Marjorie dan Nisa menuju parkiran tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Iya, mobil. Samuel masih meminjamkan mobilnya pada Julia dengan satu syarat, jangan mencoba-coba digunakan untuk balapan dan tentunya hal ini dirahasiakan dari mamanya.


Setelah mendapat izin keluar dari petugas penjaga pintu gerbang, Julia melajukan mobilnya perlahan memasuki jalan raya. Sebagai pemandu tur hari ini, Nisa menjelaskan semua bangunan dan tempat-tempat yang ia ketahui pada Julia dan Marjorie. Sesekali Julia atau Marjorie bertanya di selah-selah penjelasan Nisa. Tidak hanya mengetahui tempat tersebut, mereka juga singgah sebentar di beberapa toko untuk sekedar membeli sesuatu. Tentunya hal ini atas kemauan Julia karna dia yang memengang stir kemudi. Nisa dan Marjorie tidak bisa menolak, apalagi Julia sudah merengek.


Beriteraksi bersama Julia dan Nisa membawa pengalaman baru bagi Marjorie. Setelah sekian lama ia bisa merasakan persahabatan kembali. Raut wajah yang dulunya tidak perna tersenyum dan selalu serius dibuat tertawa lebar oleh tingkah konyol Julia. Rasanya seperti beban pikirannya hilang seketika. Semua urusan misi atau apapun itu sebentar. Seharusnya hal ini lah yang ia lakukan di seusianya saat ini. Bersekolah, berteman dan menikmati masa muda. Bukannya menjalankan misi ini itu dan terlibat dengan darah.


"Bagaimana kalau kita singgah sebentar di restoran untuk makan siang?" kata Julia memberi saran. Waktu memang sudah menunjukkan jam makan siang.


"Ide bagus. Aku juga sudah lapar," kata Marjorie setuju.


"Okey, Nisa. Dimana restoran yang menurutmu menyediakan makanan paling enak di kota ini?" tanya Julia.


"Untuk restoran yang paling terkenal di kota ini adalah restoran Moon yang menjadi tempat pesta waktu itu."


"Kita berada jauh dari restoran itu. Aku keburu lapar sebelum kita sampai disana. Kalau disekitar sini?"


"Em... Sepertinya kita berada di kawasan pingiran kota. Maaf, aku sedikit kurang tahu tempat ini."


"Bagaimana kalau kita makan siang di kedai makan kecil itu saja," tujuk Marjorie pada kedai di ujung jalan.


"Tidak ada pilihan lain. Kalian berdua tidak apa kan makan di tempat seperti ini? Karna mengingat kalian berasal dari kalangan atas dan mungkin belum penah makan di kedai makan sederhana."


"Aku bukan berasal dari kalangan atas, kau tahu. Aku dapat bersekolah di sekolah Anthony dan bisa menempati asrama khusus itu karna aku adalah pelayan pribadi Yusra," Marjorie segaja menggunakan istilah pelayan dari pada pengawal.

__ADS_1


"Oh... Itu ternyata perkerjaan yang sering kau katakan dan alasan kau selalu bersama Yusra."


"Sekarang kalian sudah tahu. Apa kalian masih mau berteman dengan seorang pelayan ini?"


"Tidak ada hubungannya siapa dirimu atau perkerjaanmu. Yang kami tahu, teman tetap teman. Benar, kan Nisa."


"Iya," jawab Nisa dengan anggukan. "Tapi Julia, kalimatmu yang sebelumnya seharusnya ditanyakan pada dirimu sendiri."


"Apa maksudmu? Aku sudah terbiasa makan di tempat seperti ini."


"Apa?!"


Nisa dibuat kaget mendengarnya. Mana mungkin orang seperti Julia makan di tempat seperti itu? Ini sulit dipercaya. Setidaknya restoran dengan konsep mewah dan elegan lah yang biasa menjadi tempat makan sekelas Julia. Hidangan yang di masak oleh koki ahli bersetifikat tinggi dan terjamin kualitasnya. Bukannya tempat sederhana seperti ini. Nisa saja belum perna makan di tempat seperti itu. Julia memarkirkan mobilnya tepat di dekat kedai tersebut.


"Apa kau sungguh sering makan di tempat-tempat seperti ini, nona Flors?" tanya Nisa sambil berbisik sebelum Julia keluar dari mobil.


"Kenapa? Tidak percaya? Kau pasti belum perna mencobanya, iya kan?" tebak Julia.


"Kalau soal itu memang benar sih. Lagi pula aku jarang makan diluar."


"Bagaimana kau bisa seyakin itu? Kau saja belum perna mencoba masakan mereka."


"Aku jamin kau malah akan minta tambah."


Julia, Nisa dan Marjorie masuk ke kedai makan tersebut. Suara lonceng kecil berbunyi begitu Marjorie membuka pintu. Seorang pelayan dengan setelan hitam putih segera menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat siang. Silakan duduk," kata pelayan itu mempersilakan mereka duduk di salah satu meja kosong disana. "Mau pesan apa?"


"Em... Makanan apa yang paling populer disini?" tanya Julia.


"Oh, tempat kami terkenal dengan hidangan Steak Hamburger dan minumanya adalah sari buah yang dipetik langsung dari kebun kami sendiri."


"Kalau pencuci mulutnya?" tanya Julia dan kali ini lebih bersemangat.

__ADS_1


"Puding es krim."


"Bagus. Kalau begitu kami pesan itu saja. Bagaimana?" tanya Julia pada Nisa dan Marjorie.


"Kau lah yang terlihat paling bersemangat memakan semua itu. Tapi aku akui, aku juga ingin mencoba itu," kata Marjorie.


"Iya. Aku juga mau. Kedengarannya enak."


"Baiklah. Tunggu sebentar."


Tak membutuhkan waktu lama bagi pesanan mereka sampai. Tiga porsi Steak Hamburger dan masing-masing secangkir sari buah yang menyegarkan. Dari penampilannya terlihat sangat menggugah selerah. Bagaimana dengan rasanya? Apa tidak kalah dengan penampilannya? Mereka mencoba potongan pertama dari Steak Hamburger itu dan ternyata sangat enak. Julia tidak berhenti untuk memakannya.


"Em... Ini enak sekali. Rasanya tak kalah dari masakan restoran-restoran."


"Kau benar Julia. Ini sangat enak. Aku rasa aku ingin pesan lagi," ujar Nisa yang terlihat begitu lahap memakannya.


"Apa aku bilang. Kau pasti suka, kan? Aku juga ingin pesan lagi dan mungkin memesan menu lainnya."


"Yang benar saja kau mau makan semua itu. Sepanjang jalan tadi, kau ngemil terus. Kau bisa jadi bulat loh," kata Marjorie dengan sedikit ejekan.


"Itu tidak mungkin. Kalau akan jadi gemuk karna makan banyak, maka aku sudah gemuk dari dulu. Tapi nyatanya aku kurus begini."


"Semua wanita pasti iri padamu. Bisa makan banyak tapi tetap kurus," ujar Nisa.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2